Harga Terjangkau, Pelukis Panen

Pasar Seni Lukis Indonesia 2008
SURABAYA – Respons para kolektor terhadap Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI) 2008 di Balai Pemuda cukup menggembirakan. Hal itu terlihat dari banyaknya lukisan yang terjual hingga hari kelima kemarin (6/5). Sedikitnya 40 lukisan sudah berpindah tangan ke kolektor.

Dalam pameran yang berlangsung 2-12 Mei itu, tersaji banyak jenis dan aliran seni lukis. Di antaranya, impresionis, realis, abstrak, ekspresionis, dan dekoratif. Salah satu yang diminati pengunjung adalah lukisan karya Hariyanto. Dari tujuh lukisan yang dipajang, tiga di antaranya telah dibawa pembeli. Ketiganya memiliki gaya impresionis. Padahal, Hariyanto juga membawa lukisan realis.

Salah satu lukisan yang memikat pembeli bertema penggundulan hutan. Di atas kanvas berukuran 50 cm x 60 cm, pria kelahiran Banyuwangi itu memotret kesenjangan kondisi hutan kita. Di satu sisi, digambarkan hutan yang masih lebat dan hijau. Di sisi lainnya, terlihat hutan gundul dengan sisa pangkal batang pohon yang dibiarkan mendongak.

“Ini gambaran konkret sebagian hutan kita. Ada yang lebat, ada pula yang sudah gundul,” ujarnya. Dua lukisan Hariyanto yang lain bertema bunga mawar dan bunga matahari.

Dalam even itu, Hari -panggilan akrabnya- hanya mematok harga Rp 500 ribu per lukisan. Menurut dia, hal itu dilakukan untuk menyesuaikan dengan tema even, yaitu Pasar Seni Lukis. “Di pasar biasanya harganya lebih murah dibandingkan dengan di toko,” katanya lantas tertawa.

Hari mengaku ingin menghapus anggapan bahwa lukisan adalah barang mahal dan hanya bisa dimiliki kalangan elite dan berduit. Padahal, siapa pun bisa mengoleksi karya lukis.

Pria yang rambutnya mulai memutih itu menambahkan, dengan harga yang terjangkau, masyarakat diharapkan terpancing dan mulai menggemari karya seni lukis. Padahal, dalam even-even pameran umumnya, Hari mematok harga minimal Rp 1 juta per lukisan untuk ukuran 40 cm x 50 cm.

Laris manis juga dialami Asep Leoka. Sebanyak lima lukisan karyanya telah memikat pengunjung yang melihat hasil goresan tangan pelukis asal Kendal itu. Semua karya Asep bergaya impresionis.

“Memang tidak bisa dipatok bahwa orang Surabaya menyukai lukisan impresionis, tapi yang laku di Surabaya aliran itu,” ucap pria yang puluhan kali mengikuti pameran di berbagai kota tersebut.

Selain dibeli pengunjung, satu lukisan Asep lainnya dipesan Ir Ciputra, bos Ciputra Group. Dia mematok harga Rp 3 juta-Rp 5 juta per buah.

Ketua Panitia PSLI 2008 M. Anis mengatakan, konsep pasar memudahkan pelukis bersentuhan langsung dengan pembeli. Tak heran bila pada even itu, sejumlah pelukis “panen”. “Apalagi, harga yang ditawarkan terjangkau,” ujarnya.

Cak Anis menambahkan, saat ini masyarakat membeli lukisan belum sampai pada tahap investasi. “Kebanyakan membeli lukisan untuk hiasan di rumah atau di kantor,” tuturnya. (eko/ari)

Jawa Pos, Rabu, 07 Mei 2008,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: