Ketika Ludruk Menjadi Ajang Silaturahmi Budaya di Mojokerto

Dihadiri Penyair, Perupa, Pelawak hingga Penulis
Gendingan gamelan ludruk mengalun. Malam terasa menyelimuti hasrat, seiring gerimis bertempias, meskipun tak jadi hujan. Ah, jangan dikira dupa ajaib si pawang air langit tak bisa menahan tumpah hujan. Dan, seakan tiada peduli, para pengunjung pun kian tumplek-blek.

KHOIRUL INAYAH, Jetis

PULUHAN warung pecel, nasi rawon, lontong cecek juga penjual tahu solet segera menyergap pandangan. Ya begitulah, kemarin malam ketika grup ludruk Karya Budaya menggelar pementasan dengan mengusung dua lakon berjuluk Raden Said dan Branjang Kawat di Lapangan Canggu, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.

Seperti biasa, selain lakon yang ditampilkan, yang membikin ludruk tetap laris dan dijubeli penonton adalah, pelawak dan gaya petakilan mereka. Setelah tarian remo dari Cak Sukis, men-jedul-lah Cak Trubus dan Cak Liwon yang ribut soal kerjaan menggali sumur. Guyonan menyembul saat keduanya eker-ekeran tentang pompa air bermerek “Dragon” yang selalu latah di lidah Trubus dengan sebutan pompa “Draun”.

Yang bikin terpingkal-pingkal penonton adalah, akal-akalannya Cak Liwon yang mengusili Cak Trubus saat mempraktikkan mesin pompa itu dengan pancingan air di mulut Cak Liwon. Crat, cret, crot! Tiga kali semburan itu pun memuncrati muka Cak Trubus. Lalu, mak klepat! Cak Liwon minggat. Adegan kian memelintir usus ketika Cak Slamet, Cak Togel, dan lebih-lebih Cak Supali muncul. Memang akhirnya, Cak Supalilah yang ancur dijahili kena banyak semburan. Asli! Semburan aqua dari ketiga kawannya itu.

Dua lakon ludruk ini selanjutnya tampil dengan personel-personel Karya Budaya yang bermain sangat optimal. Bayangkan, betapa mantapnya Cak Muji sebagai sutradara yang juga ikut main sebagai Raden Said mengatur semua adegan ini.

Demikian pula Cak Edy Karya yang memandegani puluhan tahun grup ludruk ini tampak hilir-mudik dan sesekali jagongan dan cekikikan bareng dengan sejumlah tamu.

Malam itu memang istimewa, karena pemilik ludruk ini merayakan ulang tahun ke-50. Hadir di belakang panggung memberi ucapan selamat, antara lain Hardjono WS, ketua Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto; Hadi Sucipto, perupa asal Mojosari; Cak Hengki Kusuma, praktisi ludruk asal Surabaya; Cak Pendik dari Surabaya, Fahrudin Nasrulloh, penelaah ludruk asal Jombang; M. Nur Badri, M. Arief Hariyanto, Komunitas Mbaljigong, Oyotmimang, juga pengurus Dewan Kesenian Kota Mojokerto.

Ucapan selamat juga diberikan atas terpilihnya Cak Edy Karya sebagai pengurus Komite Teater Dewan Kesenian Jawa Timur dan Nominator Radar Mojokerto Award Bidang Seni Budaya. Pukul 01.40 WIB pentas ludruk usai dan sekitar dua ribuan penonton mulai meninggalkan Lapangan Canggu, Kecamatan Jetis. (*)
Radar Mojokerto, Sabtu, 03 Mei 2008

One Response

  1. Hi, saya sedang menulis skripsi tentang ludruk. Boleh saya minta contact-contact yang berguna buat ludruk seperti pelakon2?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: