Satu Karya dari Gerakan Majapahit Kota Puisi

Pertama, Musikalisasi Puisi Fotokopi Kiki Efendi
“Puisi bukan sampah yang hanya untuk dibaca, tetapi sumpah yang wajib didengar.”

Sepenggal ungkapan yang terdengar klise ini terucap dari bibir Kiki Efendi, seorang penyair muda asal Mojokerto. Dia pada 14 Februari lalu menerbitkan antologi puisinya kali pertama Antologi Puisi Fotokopi, sekaligus membuat musikalisasinya.

Puisi memang belum menjadi komoditas yang menghasilkan. Ini berbeda dengan jenis seni yang lain seperti seni patung, seni lukis yang apabila karyanya dihargai orang, dibeli orang maka seniman tersebut mendapatkan imbalan dari karyanya. Tidak jarang seorang seniman yang sukses yang karya-karyanya telah diterima pasar, berubah menjadi kaya raya dari kerja seninya.

Tapi, apa yang dapat “dimakan” dari seonggok puisi? Pertanyaan klasik tersebut pastilah terus menjadi pertanyaan abadi bagi generasi muda pada umumnya. Puisi itu tidak gaul. Berbeda dengan band yang pemainnya digandrungi para cewek-cewek. Tapi, seorang penyair, apa yang diharapkan?

Bagi keluarga pun, puisi bukanlah sembako atau lagu yang bisa didendangkan dan dinikmati pada saat itu juga, dan dapat dinikmati oleh hampir semua manusia. Tapi puisi, tidak semua orang bisa menikmatinya.

Namun, beragam pendapat itu tidak menyurutkan pemuda satu ini untuk terus berkarya. “Tak tulis-tulis dhewe, tak ketik-ketik dhewe, tak layout-layout dhewe, tak cetak-cetak dhewe, tak foto kopi dhewe, tak rekam-rekam dhewe, serta tak bayar-bayar dhewe,” ujarnya berseloroh.

Puisi yang ditulisnya dalam buku kecil tersebut memang murni dengan biaya sendiri. Sekaligus, dia melengkapi buku kecilnya tersebut dengan sebuah CD, agar pembaca tidak sekadar membaca. Tetapi, juga bisa merasakan denyut musikalisasi puisi yang dibacanya.

Kiki memang masih sangat muda untuk memulai. Dia lahir di Desa Sampang Agung, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto pada 17 Juli 1985 lalu. Terakhir menempuh pendidikan di SMAN 1 Gondang, dilanjutkan di Education Center Malang . Dia penyuka traveling, naik gunung, camping, dan ngeband. “LA, gorengan dan gadis-gadis menjadi inspirasi saya,” katanya.

Penerbitan antologi puisinya ini tidak lebih untuk memorakporandakan anggapan orang terhadap puisi. Puisi juga bisa dimusikalisasi dan diiringi latar musik yang sederhana. Puisi tidak hanya untuk dibaca, tidak hanya untuk ditulis, tetapi juga untuk dibacakan dan didengarkan. “Puisi adalah wacana seseorang yang tertuang dalam setiap bait kata yang bisa dinikmati dan ditulis kapan saja dan di mana saja,” katanya.

Beragam pesan dia sampaikan dalam antologi ini. Misalnya puisi untuk sahabat yang dia sampaikan dalam Lebah Lembah, untuk para wanita dia menciptakan puisi Nafas Cinta, Lembut Kesetiaan. Untuk setiap jiwa yang selalu dihardik dan dicela dia menghadiahi puisi Ulat Angin. Namun, dia enggan untuk dikatakan sebagai seorang penyair. Ini dia tuangkan dalam bait puisinya Sepotong Penyair. Jangan panggil aku penyair//hanya karena kubuat sepotong syair untukmu// julukan hanya membuatku terikat//mencekik nadi-nadi hasrat untuk terus bergerak//.

Tentu saja kemunculan antologi puisi ini mengundang simpati penyair lain. Meski juga tidak lepas dari kritik. Seperti yang diungkapkan oleh Ponadi Efendi yang pada 9 April mendatang melangsungkan pernikahannya dengan seorang perempuan yang ditemuinya di dunia maya, Sarah Serena dari Jawa Barat.

“Mungkin tidak ada salahnya aku sejenak menghirup udara yang tersembur dari musikalisasi puisi ini. Sebab, implikasi dari mendengarkan musikalisasi puisi ini, Anda akan menemukan sebuah garis lurus, bahwa kehidupan ini tidak sekadar menghujat, beralibi, menghakimi, apalagi membuat gagasan atau ide yang tidak seringkali tidak sebanding dengan volume otak kita,” kata Ponadi Efendi.

Lain lagi yang diungkapkan Jr Dasamuka, dari komunitas sastra Pondok Kopi. Penerbitan musikalisasi puisi ini membuat para penyair lain pengen. “Kiki membantu merobek mulutku dalam membacakan puisinya. Dengar saja puisinya, jangan protes. Kalau nggak suka ya mingiro,” katanya.

Hanya, dia mengingatkan agar dalam membacanya tidak hanya keras, tetapi juga berirama. “Tetap keras, dan berirama jangan keras lalu patah,” ujarnya.

Dari kalangan guru, Noto Purwo Usodo pun ambil bagian berkomentar. Kandidat guru teladan Mojokerto ini mengaku terkesima dengan luapan hati yang disampaikan melalui musikalisasi puisi tersebut. “Dari lantunan puisi yang aku dengar, dari karya Anda aku sangat terkesima dengan luapan hatimu yang penuh golak. Isi yang tersurat dalam puisi penuh makna dan membuka mata pembaca untuk mendalami isi yang tersirat,” ungkapnya.

Namun, dia menambahkan pilihan kata (diksi) masih sangat lugas. Pemakaian kata dekoratif perlu dikembangkan. Sebab, puisi merupakan luapan bahasa dekoratif yang penuh imajinatif. “Jarang ada orang muda yang mau berkarya seperti ini,” kata Noto Purwo Usodo. (khoirul inayah/nk)

(Harian Radar Mojokerto, 6 April 2008)

Kontak:
Kiki Efendi 085 64 96 09 111, email:bayidesign@ yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: