Bincang Santai dengan Pegiat Seni di Wilayah Selatan Kabupaten Mojokerto

Biji-Biji Puisi Itu Tercecer di Kebun Kopi
Berangkat dari kegelisahan-kegelisahan -sangat mungkin hal ini akan berbeda antara satu dengan lainnya- memunculkan komunitas sastra Pondok Kopi. Dari sinilah biji-biji puisi bersemi di antara kebun kopi.

KHOIRUL INAYAH, Mojokerto

JANGAN bayangkan Anda akan menemui perkebunan kopi jenis Arabica atau Robusta yang rimbun. Apalagi semerbak harumnya bunga biji kopi yang berwarna kecil memutih. Pohonnya saja tidak dijumpai.

Pondok Kopi bukanlah sebuah tempat untuk menanam kopi. Namun, sebuah warung kopi tempat kegelisahan untuk menghasilkan sebuah karya bertaut. Keterputusan informasi mengenai kehidupan seni budaya di wilayah selatan Kabupaten Mojokerto (Pacet, Gondang dan Kutorejo), membuat generasi mudanya berkeinginan yang sama untuk memahami hidup.

Dadang Ari Murtono, kepala suku Komunitas Sastra Pondok Kopi, Pacet pun akhirnya mau bercerita panjang-lebar tentang Pondok Kopi yang tak berbeda jauh dengan warung-warung kopi kebanyakan.

“Pada awalnya, komunitas ini tidak membatasi diri, dalam arti semua disiplin seni bisa masuk di dalamnya,” ujarnya membuka pembicaraan.

Harapannya, nanti di kemudian hari diharapkan akan ada divisi-divisi pondok kopi seperti pondok rupa (untuk seni rupa), pondok teater (untuk teater), dan sebagainya.

Nama pondok kopi diambil dari istilah “ngopi”, yaitu istilah untuk menggambarkan kegiatan minum kopi sambil ngobrol. Ngobrol dalam hal ini bisa ngobrol tentang banyak hal. Mulai masalah utang, pacar, politik, selingkuhan, rencana makar, dan tentu saja puisi. “Ngopi” sendiri juga singkatan dari Ngomong Puisi. “Pondok, kami maknai sebagai tempat belajar, payung, pemersatu. Pondok juga simbol dari kesederhanaan, tidak merasa hebat,” ujarnya.

Dengan pemikiran seperti itu, nama pondok kopi diharapkan dapat menjadi sebuah wadah kita bisa berproses, belajar, berpikir, berkarya, tanpa adanya sikap merasa lebih dari yang lain. Melihat sesuatu dengan sikap tanpa ingin menjadi hebat, lanjutnya. “Ya, mungkin ini risiko lahir di zaman akhir seperti sekarang ini, seperti bait puisi yang pernah saya tulis. Ya Tuhan, aku hanyalah ampas kopi di bibir cangkir, tumpukan puisi yang tak laku di koran minggu,” ujarnya.

Dalam perkembangannya, konflik kepentingan dan idealisme tak bisa dihindarkan di Pondok Kopi. Beberapa kali vakum, pertikaian dan pertengkaran berkaitan dengan proyek-proyek ambisius yang gagal membayangi tumbuh kembang pondok kopi.

Proyek pertama adalah, pembuatan antologi puisi pelajar SMA se-Mojokerto. Kegagalan proyek ini dikarenakan masalah klasik. Yaitu keterbatasan dana dan kesan yang telanjur tertanam di benak pelajar SMA, bahwa puisi cenderung cengeng dan tidak gaul. Paling tidak bila dibandingkan dengan musik dan band yang lebih menjanjikan popularitas.

Setelah susah-payah, ngos-ngosan, tertatih-tatih, antologi Pondok Kopi yang dianggap monumental. Karena secara resmi menandai lahirnya komunitas sastra Pondok Kopi ini bisa selamat lahir ke bumi. Tapi, dunia menyambut tangis pertamanya dengan materialisme yang pekat. Rencana launching yang disusun matang pun sampai kini tak terwujud. Walaupu begitu, antologi ini tetap dicetak dengan sistem inden dan terjual beberapa puluh eksemplar.

Pondok Kopi mengalami vakum untuk kali kedua. Kali ini dalam waktu yang cukup panjang, sekitar 3 bulan. Permasalahan sama, yaitu perbedaan idealisme menjadi pemicunya. Sementara tekanan keluarga, masalah ekonomi dan banyak lagi masalah pribadi yang semuanya -suka atau tidak- tidak bisa diselesaikan dengan puisi, mulai menekan.

Ketika itu anggota Pondok Kopi dihadapkan kenyataan bahwa mereka juga manusia yang membutuhkan makan, minum, dan hal-hal materialisme lainnya. “Kami terkejut. Kami tidak siap dengan hal ini.”

Dan ketika itu, lanjutnya, kami akhirnya memutuskan sejenak berpisah, mengendapkan pikiran dan ide masing-masing, harus mencari kerja lain selain puisi yang bisa menghasilkan uang dan membuat orang-orang di sekitar kami tersenyum. Tapi, kami tetap memegang komitmen dengan terus berkarya. Bukankan sumpah telah diucapkan?

Tiga bulan setelah itu, lanjutnya, kami berkumpul lagi dengan kondisi yang tentu saja jauh berbeda. Kiki Efendi dengan antologi puisi fotokopi lengkap dengan compact disc musikalisasinya yang mengusung tema besar Mojokerto Kota Puisi. Samsul Arifin yang mengalami metamorfosis luar biasa sampai-sampai mengganti namanya menjadi Dasamuka Jr, tidak lupa dengan mempersembahkan antologi puisi Matahari Tak Menjadi Bijak. Jack Efendi yang begitu cepat membangun jaringan di dunia maya. “Mungkin hanya saya sendiri yang terus diam, saya terus tenggelam,” tuturnya.

Semua berubah, ketika pertemuan dengan orang-orang seperti Hardjono WS, Saiful Bakri, Abdul Malik dan Fahrudin Nasrulloh, meninggalkan sesuatu yang membuat anggota Pondok Kopi terhenyak. Sesuatu yang paradoks muncul di sini. “Di daerah ini, Mojokerto, ternyata penuh dengan orang-orang hebat yang memiliki cara pandang menarik -paling tidak menurut kami- khususnya dalam bidang sastra. Namun, jangankan orang luar Mojokerto, kami, anak-anak Pondok Kopi yang mulai lahir sampai tumbuh dewasa berada di Mojokerto, tidak dapat merasakan detak sastra di daerah ini.” (*/nk)

Radar Mojokerto, Minggu, 30 Mar 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: