Freddy Dwi Susianto, Pelukis dari Kulit Telur Unggas

Pusing Menganggur, Cetak Rupiah dari Kulit Telur
Bagi sebagian orang, kulit telur unggas mungkin tak berguna. Tapi, tidak bagi Freddy. Pria asal Dusun Gambiran, Desa Mojosari, Kepanjen, ini memanfaatkan kulit telur sebagai karya seni bernilai tinggi.

EKO AGUS P.

Freddy terlihat sibuk membersihkan kulit telur unggas di ruang dapur rumahnya. Sepuluh jari pria berambut gondrong ini bergiliran membasuh kulit telur dengan kain. Ada telur ayam kampung, ayam horn, bebek, dan burung puyuh. Satu persatu kulit telur yang telah bersih itu kemudian dimasukkan ke mangkok plastik.

Di ruang tamu, Freddy bekerja menyusun kulit telur dan menyulapnya menjadi lukisan. Dia bersiap menyelesaikan lukisan Puno Kawan (tokoh pewayangan). Yakni Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong, “Lukisan ini pesanan orang Turen,” ujar Freddy kepada Radar Malang.

Melukis dengan kulit telur adalah spesialisasi Freddy. Itu terbukti dari deretan lukisan tokoh pewayangan yang menempel di dinding ruang tamu sekaligus ruang kerjanya itu. Semuanya terbuat dari kulit telur. Ada lukisan Arjuno, Seno Kebet Ular, Werkudoro, Puno Kawan, Pandawa Lima, Hanoman Putih, dan Kereta Kencana.

Sekilas, orang tak mengira jika lukisan karya Fredy tersebut dari kulit telur. Sebab, tekstur kulit telur yang membentuk gambar itu sangat halus. Seperti garis yang halus. Saking halusnya nyaris menyerupai batu marmer.

“Saya membuat karya lukisan ini sejak dua tahun lalu (awal 2006, Red),” terang pria kelahiran 27 Desember 1985 ini. Karya pertamanya adalah kaligrafi yang bertulisan Bismillahirrohmaanirrohiim.

Melukis bukanlah pilihan Freddy ketika lulus STM Nasional Malang pada 2005. Seperti kebanyakan orang, dia ingin bekerja layaknya pegawai. Namun, kesempatan itu tak kunjung dating. Sejumlah lamaran diajukan, tapi tak satupun yang nyantol.

“Freddy lantas menekuni lukisannya. Dari kecil dia sudah gemar menggambar,” ujar kakak Freddy, Sugeng Hermawan, 26.

Nah, berawal dari kaligrafi itu, Freddy mendapatkan masukan dari kedua orang tuanya, Sukriyanto dan Sri Wahyuni. Mereka mendorong Freddy agar terus mengembangkan seni lukis itu.

“Karyamu apik, mendingan awakmu usaha iki, tinimbang nganggur (Karyamu baik, lebih baik kamu membuka usaha ini, daripada menganggur, Red) ,” tutur Freddy menirukan ucapan ibunya kala itu.

Kata-kata sang ibu melecut semangat Freddy. Dia pun bertekad menggeluti dunia lukis dari kulit telur. Motivasi Freddy bertambah setelah dia banyak mendapatkan informasi tentang seluk beluk karya seni dari kulit telur. Di Bali, misalnya, ada ukiran dari kulit telur. Sedangkan di Jakarta ada batik dari kulit telur. Baik di Jakarta dan Bali, barang seni tersebut diminati orang.

Cerita itu menginspirasi Freddy. Dia kemudian berburu kulit telur aneka unggas. Perburuannya sampai ke Kecamatan Sumberpucung.

Untuk kulit telur ayam kampung, Freddy bekerja sama dengan penjual jamu. Kulit telur ayam kampung itu biasanya dibuang oleh penjual jamu setelah telurnya dipakai untuk campuran jamu. “Daripada dibuang, kulit telur itu saya manfaatkan,” urai Freddy.

Untuk kulit telur ayam horn, Freddy mengambil dari para pembuat kue. Sedangkan kulit telur burung puyuh didapatnya dengan membeli. “Beli telur puyuh tergantung dari luas bentuk lukisan. Kulit telur puyuh ini fungsinya untuk membuat motif batik,” tutur pria yang suka menguncir rambutnya ini.

Freddy mengawali proses melukis dengan menyiapkan triplek. Di atas triplek itulah dia menggambar sketsa lukisannya. Setelah sketsa jadi, Fredy menempelinya dengan kulit telur. Ia pun mengombinasikan warna lukisannya.

Untuk warna putih, Fredy menggunakan kulit telur ayam kampung. Untuk mendapatkan warna coklat ia menggunakan telur ayam horn. Sedangkan untuk melahirkan warna lain, kulit telur itu harus dicat. Seperti cat kayu, cat minyak, hingga cat air.

Dari perpaduan itu, Freddy bisa menyelesaikan sejumlah lukisan tokoh pewayangan. Lukisan tokoh-tokoh itu terlihat hidup. Harganya? Sebagian karya Freddy terjual seharga Rp 100 ribu hingga Rp 2,5 juta.

“Alhamdulillah, sejak ikut pameran di Stadion Kanjuruhan, sekarang banyak yang pesan,” kata Freddy.

Melukis dengan kulit telur sangat berbeda dengan lukisan lainnya. Perbedaan yang sangat mencolok adalah dalam hal waktu pembuatan. Untuk ukuran 40 x 20 cm, Freddy membutuhkan waktu dua minggu. Untuk lukisan ukuran 2 x 1,5 meter, dia membutuhkan waktu sampai 1,5 bulan.

Lamanya waktu tak lepas dari penjiwaan yang dilakukan Freddy pada setiap lukisannya. Setiap menempelkan kulit telur, harus sesuai dengan perasaan. Bila tidak pas, tempelan kulit telur itu harus dibongkar dan mengulangnya lagi. “Intinya, setiap tempelan itu harus mengandung penjiwaan, sehingga lukisan ini bisa bermakna,” tegas Freddy.

Fredy ingin terus berkarya. Ia merasa bisa hidup mandiri dengan melahirkan karya lukisannya yang khas dan unik. (*/ing)

Radar Malang, Minggu, 23 Mar 2008

7 Responses

  1. Singkat saja saya sangat tertarik dengan seni lukis yang tidak biasanya….
    kulit telur….eemmmm…???asyik juga tuh….namun saya perlu info lebih tentang prosesnya, bolehkan??

  2. Assalamualaikum
    Saya anto, di Surabaya.
    Saya sangat terkesan, dengan artikel ini.
    Saya ingin tanya, emailnya mas Freddy Dwi Susianto apa ?
    atau No Telephone yang bisa saya hubungi Berapa?
    Karena di Rumah saya Banyak sekali Kulit Telur Puyuh. Bahkan Setiap Hari banyak sekali kulit telur puyuh Selalu di buang. Sekedar informasi, Ibu saya Agen Telur. Dan setiap hari Dapat order Telur puyuh matang untuk keperluan Bakso, makanan prasmanan seperti pernikahan ataupun hajatan. Dan kulit telur puyuh tersebut Dibuang begitu saja. Saya ingin memanfaatkannya dengan menjualnya. Agar bisa membantu Orang tua Saya, terutama Ibu Saya.
    Mohon Bantuannya.
    Terimakasih.
    Wassalamualaikum

  3. seru nie bisa buat lukisan dari kulit telur…..
    dirumah tiap hari buang kulit telur….karena orang tua berjualan..dari pada terbuang percuma padahal ada nialiekonomisnya yang bisa dijadikan karya seni yang bagus
    bolehkah saya tau caranya?
    terima kasih

  4. emm…. cukup mnarik… perlu anggota gak?

  5. Alamat workshop mas Dwi yang dijakarta dimana? Trima ksih

  6. brad,… mau tanya, bisa ga kulit telurnya nempel di media kaleng? kalo bisa bahan perekatnya apa? thanks.. bisa hubungi saya lewat email or 08815929159

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: