Cara Anak-Anak Unmuh Ponorogo Kenalkan Seni Tradisonal

KKN sambil Wayangan, Dalangnya Teman Sendiri
Melestarikan atau nguri-nguri budaya Jawa, khususnya wayang kulit, gampang-gampang susah. Tapi bagi Setyo Pringgo Laksono Putro, dunia pedalangan sudah mendarah daging. Begitu juga dengan Yayuk yang menjalani profesi sebagai pesinden. Kedua mahasiswa ini terus melestarikan budaya adiluhung agar tidak lekang ditelan waktu.

BUDI SETYAWAN, Ponorogo

SUARA gending Jawa terus mengalun membahana di kawasan Dukuh Ngembel, Desa Baosan Lor, Kecamatan Ngrayun malam itu. Sayup-sayup langgam Sinom Parijoto, seakan-akan menjadi pengobat lelah bagi warga yang seharian bekerja. Secara perlahan, warga baik tua maupun muda mulai mendatangi asal muasal suara gending.

Dengan mengenakan sarung yang hanya diletakkan di pundak, umumnya, warga khususnya laki-laki berjalan kaki sambil menjepit rokok di tangan.

Sementara ibu-ibu juga tak mau kalah. Mereka menggelar lesehan di dekat lokasi digelarnya wayang kulit semalam suntuk. Beberapa pedagang baik makanan kecil maupun kudapan juga tidak ketinggalan ikut mewarnai semaraknya malam itu.

Sementara dari arah panggung, kelir yang sudah dipasang berikut deretan wayang kulit sudah ditancap di gedebok (batang) pisang. Begitu juga perangkat pengiring lain, juga sudah siap memainkan alat musik tradisonal di depannya.

Yang jelas, pagelaran wayang kulit dengan lakon Poncowolo Krido tersebut bukan dimainkan oleh dalang Ki Manteb Sudarsono atau Ki Anom Suroto. Yang jelas, di jajaran pengrawit atau sinden ada seorang perempuan cantik yang tercatat sebagai mahasiswa semeter IV Unmuh Ponorogo.

Tak kalah menarik, dalang yang akan memainkan lakon malam itu adalah Setyo Laksono Putro atau Ki Setyo. Cowok satu ini juga tercatat sebagai mahasiswa Unmuh Kota Reyog. Kehadiran mereka di Ngrayun untuk menggelar wayang kulit bersamaan dengan penutupan program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Kegiatan yang dihelat selama kurang lebih satu bulan memang sengaja di ttutup dengan mengegelar wayang kulit semalam suntuk.

Tentu saja ini menjadi tontonan yang cukup menarik bagi warga Kecamatan Ngrayun sekitar. Bukan hanya karena magnet lakon yang dibawakan. Namun, tentu saja sosok dalang dan sindennya cukup mendatangkan rasa penasaran tersendiri bagi masyarakat.

Dengan mengangkat lakon yang menggambarkan peranserta pemuda dalam proses pemerintahan, juga ingin mengangkat citra budaya Jawa agar semakin digandrungi generasi muda. “Generasi muda khususnya mahasiswa harus mampu membawakan perannya dalam kancah sosial kemasyarakatan,” kata Setyo, ditemui usai pagelaran. Menurutnya, ketika mendapati pelaksanaan sistem pemerintahan yang tidak fair, harus berani mengangkat sikap melalui aksi nyata. Bahkan, dia tidak segan-segan mengkritik aksi demo agar tetap menjaga keamanan dan ketertiban. “Kalo demo jangan asal demo dan nggak usah anarkis kan bisa,” tambah Tiyok, panggilan akrab ki dalang yang saat ini masih tercatat sebagai Jurusan Ilmu Pemerintahan semester delapan.

Cowok kelahiran Ponorogo 22 September 1984 ini memang sejak kecil sudah hobi wayang. “Sebab kakek saya juga seorang dalang,” tambahnya.

Anak semata wayang pasangan Tondo Sulaksono-Harini ini pada waktu kecil memang sudah memiliki hobi ndalang. Namun oleh sang ayah selalu dilarang. Walau demikian Setyo Laksono Putro tetap tidak bisa menghilangkan hobinya untuk mendalang. “Gara-gara sama bapak saya gak boleh ndalang saya akhirnya ndalang menggunakan media sandal,” ungkapnya sambil tersenyum.

Dia mengaku mulai terang-terangan ndalang sejak akhir tahun 2005. Sedangkan karirnya mulai eksis sejak tahun 2007. Itu diawali dari kampus Unmuh Ponorogo. Tiap bulan purnama di paseban, radio juga acara wayang di TV sudah dijajaki.

Ditanya siapa guru dalang yang selama ini dikagumi, dia menyebut ada tiga orang. Yakni, Gondo Kawito, tak lain pamannya sendiri, yang ikut mengajarkan tentang karawitan.

Berikutnya , Gondo Darsono yang selama ini mengajarkan sabet wayang, dan Agus Sabdo Priyono yang fokus pada masalah sangkit cerita (alur cerita). “Pada akhir minggu bulan ini saya insya Allah juga akan ndalang di Pendopo Agung,” pungkasnya ***

Radar Madiun, Senin, 24 Mar 2008

One Response

  1. SUKSESSSSSSSSSS buat xm ya yoooook……….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: