Model dan Pelukis yang Menapaki Jalur Exo-art

Dilukis tanpa Baju, Sang Model Gringgingen
Beberapa pelukis Surabaya mengaku mengalami kesulitan mencari model, apalagi untuk pose-pose “menantang”. Tapi, sebenarnya ada juga orang yang mau menjadi model lukisan “exo-art”. Syaratnya cuma satu, kepercayaan terhadap sang pelukis.
DOAN WIDHIANDONO

DI sebuah sanggar berbentuk pendapa di kawasan Surabaya timur, wanita itu mulai melepas busananya. Yang tertinggal di tubuhnya hanya secarik kain sarung Bali yang disampirkan sekenanya. Tentu saja, kain itu tak mampu menutupi seluruh bagian tubuhnya. Dan memang, Dona, sebut saja begitu, wanita tersebut, sengaja tak menutup rapat raganya.

“Enaknya posenya gimana, Pak?” kata Dona. “Terserah sampeyan. Yang penting enak,” kata Muit Arsa, pelukis, yang Jumat (7/3) siang itu menjadikan Dona sebagai modelnya.

Dona yang berparas elok tersebut lantas beraksi. Dia bersimpuh di tengah-tengah pendapa, tepat di bawah kipas angin putih yang berputar sedang. Kedua kakinya ditekuk ke samping kanan tubuhnya. Telapak tangan kirinya menyentuh lantai. Tangan kanan ditumpangkan ke paha.

Kain sarung merah yang “dipakai” Dona pun luruh. Punggungnya terbuka seluruhnya, menampakkan kulit halus seorang wanita muda. Di punggung kirinya, terlihat tato temporer yang masih tegas warnanya.

Wajah Dona ditolehkan sedikit ke kanan dengan pandangan agak menunduk. Seperti wanita yang pasrah sekaligus menyesali sesuatu. “Ok, apik!” kata Muit. Pria gondrong itu mengambil posisi di kanan belakang Dona. Dia mengambil sudut pandang punggung dan bagian kanan tubuh yang telanjang. Setelah mengucapkan sebaris doa, Muit mulai bekerja.

Dengan kuas cat minyak nomor 2 (kuas kecil) yang digunting bulunya, pelukis kelahiran Sidoarjo tersebut mengambil cat oranye. Tepat jam 11.30, dia mulai membuat sketsa. Tak sampai 10 menit, pose Dona sudah terbayang pada kanvas tersebut.

“Yang agak sulit, menentukan gambar jatuhnya cahaya,” ujar Muit. “Soalnya, siang ini saya enggak pakai lighting khusus. Cuma pakai matahari,” sambung pria kelahiran 17 Agustus 1971 itu.

Bagi Muit, efek pencahayaan itulah yang dia kejar. Efek yang dinamakan chiaroscuro itu dia anggap sebagai elemen penting proses kreatifnya. “Jadi, jangan hanya dilihat bahwa lukisan saya tentang wanita yang telanjang atau separo telanjang,” katanya sembari terus menggoreskan kuas.

Memang, selama ini Muit dikenal sebagai pelukis dengan objek-subjek wanita. Sebagian besar lukisannya menggambarkan wanita berbusana terbuka. Sebagian orang menyebut aliran itu sebagai nude-art. “Kalau saya menyebut exo-art. Seni yang eksotik,” ujar pria yang pernah bermukim di Ubud, Bali, selama tiga tahun tersebut.

Sebagai pelukis aliran itu, ada satu kesulitan yang dirasa Muit. “Angel golek model (sulit mencari model, Red),” ujar pegiat Komunitas Seniman Muda Surabaya (Kosmubaya) itu. Tentu saja, tak gampang mencari wanita yang mau membuka baju berjam-jam di depan pelukis. “Tapi, kalau di Bali atau di kota lain gampang,” ungkapnya.

Di tengah-tengah perbincangan, Dona yang sedari tadi diam mengangkat tangan kirinya. “Aduh, gringgingen (kesemutan, Red), Pak. Mau karo turu lak enak (tadi pose tidur kan enak, Red),” ujar wanita berbibir tipis tersebut. “Lho, gak ngomong ket mau (tidak bilang dari tadi, Red),” sahut Muit.

Setelah mengibas-ngibaskan tangan, Dona kembali kepada posisi semula. Tentu saja, posenya tak sama persis. Muit sedikit menggerutu. “Gambare dadi beda (gambarnya jadi lain, Red),” katanya. Dia menunjukkan perbedaan itu. “Tangan kirinya jadi agak naik. Yang kanan sedikit terbuka. Cahayanya jadi lain,” katanya. Karena itu, Muit harus mengabaikan sketsa yang sudah dia buat satu jam sebelumnya. Dia membuat garis tegas berdasar pose terbaru sang model.

“Saya enggak tahu kalau beda pose ternyata berpengaruh,” ujar Dona. Siang itu, wanita bertahi lalat di cuping hidung dan mata kiri itu memang melayani wawancara sembari terus berpose. Karena itu, Dona pun tak bisa menutup rapat bagian-bagian tubuhnya yang terbuka.

Apa sih asyiknya jadi model lukisan exo-art? “Pekerjaan ini lebih nyeni. Lebih sulit. Lebih asyik, lah,” katanya kenes. Dona yang mewanti-wanti namanya tak ditulis lengkap itu mengaku bahwa dia bukanlah seniman. “Tapi, saya memang suka unsur keindahan. Saya suka sesuatu yang sensual,” ujar wanita asal Malang itu.

“Yang jelas, saya enggak mau berpose untuk sembarang orang. Dilihat tujuannya. Kalau tidak untuk seni saya enggak mau,” kata gadis yang menamatkan perguruan tinggi di salah satu universitas negeri di Malang tersebut.

Belum genap setahun dia menapaki jalur model lukisan. Namun, dalam waktu yang tergolong singkat, dia sudah beberapa kali menjadi objek foto. “Pernah dilukis sendiri, pernah dikeroyok beberapa pelukis,” ungkap Dona. Semuanya semi telanjang? Dona menggeleng halus. “Pose seperti ini hanya pernah saya lakukan sama Pak Muit,” katanya sambil menyunggingkan senyum. Sebentuk lesung pipit muncul di pipinya. Manis.

Dona memang punya batasan tersendiri untuk berpose. Ada bagian tertentu tubuhnya yang memang sama sekali tak ingin dia buka. Selain itu, tak semua pelukis juga bisa menjadikan Dona sebagai model untuk pose sensual. “Saya harus percaya sama dia. Saya juga harus melihat dan apresiatif terhadap karya-karya pelukis tersebut,” ungkapnya. Sejauh ini, tampaknya, hanya Muit yang bisa merebut kepercayaan gadis ayu itu.

Sejatinya, soal pose, Dona sudah tak asing lagi. Beberapa kali dia menjadi model foto. “Saya pernah foto memakai pakaian dalam saja. Tapi, itu untuk koleksi pribadi,” ungkapnya.

Dia sama sekali tak khawatir didamprat keluarganya karena dilukis seperti itu. Sebab, Dona sudah mengantongi izin dari keluarga. “Ibu saya tahu,” kata wanita yang juga wiraswastawan itu. Suami? “Belum,” jawabnya. Belum tahu atau belum mengizinkan? “Saya belum punya suami. Aku sik jomblo, Mas,” katanya lalu tersenyum.

Cewek berambut pendek tersebut memang punya pendapat sendiri soal sensualitas atas nama seni. Meski, dia sadar bahwa jalur yang dilakoninya masih memicu pro dan kontra. “Apresiasi seni orang berbeda-beda,” tegasnya. Karena itu, dia memilih tak mengabarkan identitasnya secara terbuka. “Nanti jadi omongan orang,” timpal Muit.

Jalur model lukis pun dirasa Dona “aman” untuk menampung apresiasinya itu. “Wajah di lukisan kan enggak mirip. Kalau lukisan itu dipamerkan, cuma saya dan pelukis yang tahu bahwa yang digambar itu saya. Itulah asyiknya,” katanya. Meski begitu, sampai sekarang Dona tak ingin full menjadikan aktivitasnya sebagai profesi. “Tapi, saya memang dibayar. Bayaran saya per jam,” ujarnya tanpa mau menyebut nominal.

Sebagai model, Dona pernah punya pengalaman mbencekno. “Saya dilukis beberapa orang. Ternyata, ada yang membuat wajah saya kayak Mak Lampir,” katanya seraya menyebut nama pelukis yang karyanya bercorak sketsa-abstrak.

Muit membenarkan. Dia pun tak pernah menggambar model dengan wajah sangat mirip aslinya. Apalagi, Muit tak beraliran realisme. Lukisannya cenderung ekspresionis. “Tapi, saya memang perlu model. Itu untuk menentukan proporsi tubuh dan efek pencahayaan,” ungkap seniman yang mengelola dua sanggar tersebut.

Di Surabaya, lanjut dia, memang belum ada orang-orang yang menekuni jalur model lukis secara profesional. Biasanya, wanita-wanita mau dilukis atas dasar kepercayaan dan pertemanan. “Di beberapa kota ada model-model yang memang terjun di lukisan. Mereka profesional dan bisa berpose sesuai keinginan pelukis,” ujarnya.

Muit sendiri tak pernah memaksa modelnya melakukan pose-pose tertentu. “Semuanya saya bicarakan dan diskusikan. Saya tak mau ngotot. Gak tego,” ungkap pria berkumis tipis itu. Yang terang, Muit tampaknya selalu bisa meyakinkan modelnya untuk berpose. Buktinya, pria yang pernah berkarir sebagai pelukis poster bioskop itu tetap berkiprah di jalur yang dia sebut exo-art.

Dia pun sadar, orang bisa berpersepsi dan apresiasi berbeda-beda. Ada yang suka, ada yang menentang. “Saya pernah didatangi polisi saat pameran. Soalnya, judul pameran itu Tripple-X. Sebelumnya, pengelola gedung juga didatangi ormas,” katanya. Betapa pun, Muit memang merasa bahwa jalur itu adalah caranya mengekspresikan jiwa seninya.

Siang itu, lukisan Muit rampung sekitar 70 persen dalam waktu tiga jam. Dona sudah berkali-kali usreg dan berganti-ganti posisi. Saat lukisan hampir rampung, wanita itu lantas memakai jaket blue jeans. “Aku masuk angin, Mas,” kata Dona.

Tapi, wanita cantik itu tak lama memakai jaket. Muit memintanya lagi berpose. “Aku perlu sketsa, Mbak,” ujarnya. Sketsa itu dia gambar di kertas memakai pensil. Di studio, sketsa-sketsa yang dia hasilkan akan disalin ke kanvas menjadi lukisan cat minyak.

Dona menyanggupi permintaan Muit. Dia kembali “mengenakan” sarung Bali, memasang beberapa pose. Masing-masing pose sekitar tiga menit, selama Muit membikin sketsa. Bergerak-gerak begitu rupa, kain itu pun beberapa kali tersingkap. Hanya dua tangan yang menelakup di depan dada yang membuat kain tersebut tak jatuh ke lantai.

Muit rupanya ingin memaksimalkan kehadiran Dona. “Saya foto, ya?” katanya. Foto tersebut, katanya, juga bakal disalin ke kanvas menjadi lukisan. “Oke. Tapi, ojok (jangan, Red) diobral, lho,” kata Dona. Dia pun kembali memasang beberapa pose yang memang indah.

Pekerjaan “mengasyikkan” itu akhirnya rampung sekitar empat jam. Muit pulang membawa satu lukisan hampir jadi, beberapa sketsa, dan beberapa foto yang bakal jadi lukisan. Dona pulang, barangkali, membawa kepuasan batin dan apresiasi seni. (cfu)

Jawa Pos, Senin, 10 Mar 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: