Eko Prihatin, Dalang Wanita di Kabupaten Kediri

Usia Semakin Tua, Order Pun Semakin Sepi
Bagi wanita ini, dalang adalah hidupnya. Sampai ajal nanti, dia bertekad terus melakukannya. Tapi, dalang wanita ini enggan bila anak dan cucunya nanti mengikuti langkahnya.

RULLY PRASETYO, Kediri

Usianya sudah kepala lima. Tapi, tangannya masih kuat. Cara memegang dan memainkan anak wayang sangat bertenaga. Sabetannya juga membuat penonton terpesona. Lincah dan bertenaga.

Seperti ketika dia mementaskan lakon ’Wahyu Makutoromo’ di Desa Kawedusan, Kecamatan Plosoklaten, pada 5 Februari lalu. Penonton yang memadati halaman rumah Sutanto, ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Kabupaten Kediri, seperti terpaku. Banyak dari penonton tak beranjak hingga pagi hari.

“Penampilan Ibu Eko bagus untuk ukuran dalang wanita,” puji Sutanto.

Keenerjikan Eko tak hanya terlihat saat pentas saja. Nenek empat cucu tersebut juga terlihat enerjik ketika didatangi di rumahnya, di Dusun Joho, Desa Sumberejo, Kecamatan Gampengrejo. Gaya bicaranya lugas dan penuh semangat. Apalagi ketika ditanya perjalanan karirnya di dunia pedalangan.

“Mulai jadi dalang sejak 1968,” ceritanya.

Eko Suprihatin menimba ilmu dalang ketika bersekolah di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) di Trenggalek. Kemudian diperkaya dengan mengikuti kursus di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat. Ketika kursus belum kelar, wanita berusia 58 tahun ini mengatakan dia sudah diminta pentas. Baik di Trenggalek, Ponorogo, atau daerah sekitarnya.

Tapi, saat itu dia hanya diminta jadi sinden. Yang mengajak adalah guru mendalangnya, almarhum Gunawan. Dari berbagai pentas itulah ilmu sang guru diserapnya.

Setelah merasa cukup, Eko berani mendalang. Tepatnya pada 1974. Saat itu, dia malang-melintang di berbagai panggung wayang kulit di Jatim. Mulai Tuban, Trenggalek, Ponorogo, dan beberapa tempat lain.

Dalam periode waktu itulah wanita kelahiran 12 Juli 1950 tersebut bertemu dengan lelaki yang akhirnya jadi suaminya. Yaitu Pujianto, yang juga seorang dalang.

Kecintaannya pada dunia pedalangan tak luntur ketika dia menjadi guru di Kediri. Order dalang tetap diterima oleh guru di SDN Ketami, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri ini. Termasuk harus mendalang semalam suntuk. “Tak ngantuk kok meski malam main dalang dan besoknya harus ngajar,” kata guru kelas tiga ini.

Menurut Eko, mendalang lebih banyak sukanya. Tampil di hadapan ratusan orang membuatnya bangga. Termasuk menambah pemasukan. Dalam sebulan, Eko bisa lima kali pentas. Honor sekali tampil mencapai Rp 8 juta. “Kalau instansi pemerintah sak pawehe (terserah yang memberi, Red),” akunya.

Rumah ukuran 12×7 meter yang berdiri di atas tanah seluas 30 ru pun mampu dibelinya pada 1974. Rumah itu yang dihuninya hingga saat ini.

Agar mampu menjaga kualitas suara, wanita yang juga perias pengantin ini tak mau mengonsumsi obat-obatan dan makanan berminyak (gorengan). Selain agar tidak serak, juga menghindari dia kebelet buang air kecil saat manggung.

Namun, tetap saja dia pernah merasakan ingin buang air kecil ketika tengah berada di panggung. Solusinya, saat lagu dolanan dilantunkan, dia meninggalkan panggung.

Namun, Eko tak mampu melawan zaman. Ketika usia beranjak tua, order pun semakin sepi. Tawaran yang datang bisa dihitung dengan jari. Pada 1996, PNS golongan 4A ini bahkan tak manggung sama sekali. Namun demikian, Eko tetap berkomitmen pada dunianya tersebut. Dia tetap mendalang sampai tubuhnya tak mampu lagi melakukannya.

Tapi, itu hanya untuk dirinya sendiri. Sebab, Eko ternyata tak ingin tiga anak perempuannya mewarisi kebisaannya tersebut. Tiga anaknya, Enik Suryowati, Yuli Setyorini, dan Puspa Ratih, dilarangnya berlatih dalang. Alasannya, tidak tega karena belajar wayang perlu perjuangan ekstrakeras.

Selain itu dunia dalang dianggap Eko tak bisa jadi jaminan hidup. Jika usia sudah tua maka order akan sepi. “Ya lebih baik usaha salon atau tata rias pengantin saja,” ujarnya.

Larangan Eko kepada anak untuk tidak mengikuti jejaknya ternyata tak membuat anak sakit hati. Bahkan anak kedua Eko, Yuli mengaku tak ada masalah untuk tidak main dalang. “Saya itu tidak punya bakat main dalang,” akunya. (fud)

Radar Kediri, Rabu, 27 Feb 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: