Warok Sukoreno yang Bertahan di Tengah Komunitas Masyarakat Madura

Tiap Tampil Diiringi Organ, Semua Lagu Pakai Madura
Tarian Warok Sukoreno boleh dibilang unik. Tak hanya menyuguhkan tampilan budaya khas Jawa ala Warok Ponorogo. Tapi, lebih dari itu, Warok Sukoreno adalah simbol bahwa masyarakat Madura menerima budaya Jawa. Betulkah?

KUN WAZIS-JEMBER

SIANG itu, Salam sedang sibuk menata diri. Merapikan udeng lorek dan membetulkan sabuk dari jarik dengan batik khas Jawa. Sesekali, Thalib rekannya merapikan kumis Salam yang terlihat basah akibat buliran keringat yang keluar dari tubuhnya. Sedangkan, Jaman, rekan lainnya asyik membetulkan pecut panjang yang disiapkan untuk mengagetkan massa.

Demikianlah gambaran para punggawa Warok Sukoreno saat akan beraksi. Hari-hari ini, penampilannya sering ditemukan karena di desanya sedang kampanye jamban. Seminggu sekali, pasti ada gamelan rancak yang mengiringi aksi penarik warok khas Sukoreno.

Para warok juga tidak mau ketinggalan. Aksinya pun selalu menyedot perhatian warga. Melihat tampilannya, Salam dkk bukanlah orang baru yang mempertahankan eksistensi grup kesenian asli Kalisat tersebut. Sebab, gerakan-gerakannya mirip dengan aksi Warok Ponorogo dengan reognya.

Bahkan, ketika ditanya, Salam tak bisa menutupi kebanggaannya. Dia merasakan Warok Sukoreno adalah kreasi asli yang dimiliki Kalisat. Sehingga, meski tidak banyak yang berminat, Salam bersama empat personelnya kompak untuk tetap melestarikannya. “Mulanya, senang kalau tampil, bisa menyajikan karya asli putra Sukoreno,” ujarnya sembari membetulkan udeng di kepalanya.

Secara pribadi, Salam mengakui kalau Warok Sukoreno tergolong unik. Seperti hikayat Warok Ponorogo, mereka juga menggunakan kuda lumping dan jatilan sebagai pasangan dalam atraksinya. Tak ketinggalan, pecut alias seblakan super panjang ikut mewarnai penampilan mereka. Bahkan, warga yang menyaksikan dibuat terkaget-kaget dengan kerasnya suara pecutan tersebut.

Salam mengakui kalau Warok Sukoreno merupakan peninggalan almarhum Thalab yang puluhan tahun lalu merintisnya. Tidak ada yang tahu pasti bagaimana almarhum Thalab meramu kesenian khas yang disebutnya Warok Sukoreno.

Sekilas, warna pakaian dan gaya pemainnya mirip dengan aksi Warok Ponorogo. Hanya saja, ada sejumlah modifikasi yang terlihat mencolok. Di antaranya, tidak adanya Dadak Merak sebagai simbol khas selama tampil di depan umum. “Memang tidak semuanya sama dengan Reog Ponorogo,” ujar Salam.

Bahkan, gamelan yang disuguhkan pun tidak bernada sama dengan gamelan Jawa yang mengiringi aksi Reog Ponorogo umumnya. Uniknya, mereka mengombinasikan musik gamelan dengan laras Maduraan plus iringan keyboard saat mendemonstrasikan Warok Sukoreno. Lagunya pun tidak dengan logat Jawa, namun semuanya berbahasa Madura. Ini mengindikasikan kalau budaya sebetulnya bisa menyatu dengan budaya masyarakat yang berbeda.

Salam mengaku akan melestarikan Warok Sukoreno karena penciptanya dulu juga menyakini, kalau hasil cipta karya mereka melalui proses yang cukup panjang. Bahkan, dalam banyak even di desa, dia tetap menampilkan agar warga sekitar tetap ingat kalau budaya itu milik mereka. “Kalau ada acara bersih desa, kami tampil dan acara-acara besar lainnya,” katanya. (*)

Radar Jember, Sabtu, 23 Feb 2008

One Response

  1. SALAM SENI DAN BUDAYA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: