Kontrasepsi dalam Sex 4’Strong

MALANG – Bagi perupa, seni itu universal. Termasuk ketika mereka mengeksplorasi tentang seks. Seperti seni instalasi karya Sasongko berjudul Sex 4’Strong yang dipamerkan di Perpustakaan Kota Malang kemarin.

Sasongko sengaja menata sepuluh kondom dalam sebuah bingkai. Sekilas foto itu tak terlihat sebagai eksploitasi terhadap alat kontrasepsi. Namun, murni sebagai ekspresi seni.

“Selama ini banyak orang menganggap seks itu sebagai sesuatu tabu. Padahal juga bisa dinikmati dari sisi seninya,” ujarnya di sela-sela Pameran Tunggal Seni Fotografi itu.

Karya Sasongko tidak hanya berupa foto namun juga lukisan. Dan, yang dipajang berjajar di dinding itu akan dipamerkan sampai 22 Februari nanti.

Kurator seni rupa Djuli Djatiprambudi yang hadir saat acara mengatakan, dalam lima tahun terakhir ini dunia seni rupa di Jatim memang diwarnai banyak kejutan. Di antaranya dengan munculnya perupa generasi muda yang memiliki cara pandang baru metodologi, dan, ideologi dalam konteks eksplorasi seni rupa. Nah, salah satu perupa itu adalah Sasongko.

Penilaian Djuli, dalam konteks pameran ini Sasongko ingin melawan kuasa struktur. Artinya, figur yang memilih jalur kurang lazim sebagai strategi melawan struktur. “Ketika perupa lain masih berada dalam gravitasi kanvas, dia malah berusaha keluar dari garis orbit kanvas. Sasongko agaknya ingin masuk pada wilayah perdebatan apa itu seni,” katanya.

Walau begitu, nilai plus juga diberikan Djuli untuk karya-karya Sasongko ini. Bagaimana pun karya Sasongko menjadi tantangan untuk melihat kembali keyakinan sebuah seni. Misalnya, kalau selama ini orang telanjur percaya bahwa seni itu soal harmoni antarsumber pembentuknya maka di sinilah akar masalahnya.

“Seni itu tak sebatas soal gagasan dan emosi. Dari sini kami sebenarnya juga mendapatkan tantangan lagi untuk mempertarungkan,” katanya.

Dia mengakui, belakangan ini seni memang menarik untuk diperbincangkan. Lebih menarik lagi, seni tak hanya didominasi objek semata namun juga diselingi dengan sejumlah perdebatan. Bahkan bobot berdepatannya, sampai sejauh ini bisa membuat persepsi orang berantakan akibat provokasi yang terus menerus.

“Kemunculan Sasongko setidaknya menerbitkan harapan kalau dunia seni rupa di Jatim tidak terkesan jalan di tempat. Sasongko dapat dipahami sebagai salah satu figur generasi muda baru yang memiliki keinginan kuat untuk membangun orbit lain,” ungkapnya. (hap/ing)
Jawa Pos, Rabu, 20 Feb 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: