Kolaborasi Tiga Unsur Seni

SURABAYA – Kolaborasi apik ditampilkan seniman dari komunitas Soeroboyo Art Center kemarin (16/2) di Tunjungan Electronic Center (TEC). Penari, paranormal, dan pelukis terlibat dalam sebuah karya berjudul Aura On Art, Art Of Magic.

Menurut Joe Swa, sutradara acara, kolaborasi itu merupakan penciptaan karya yang tak terlepas dari pengembaraan batin seorang seniman. Dalam proses itu, kata dia, terjadi gejolak emosi yang luar biasa. “Orang melukis dalam keadaan normal itu kan biasa. Makanya, kita buat yang beda,” ujarnya.

Pukul 14.00, dua penari (Tri Indahyanni dan Novita Ariyani), pelukis (Agus Leo dan Zaynal A.M.), dan seorang paranormal (Gus Panji Pranajiwa) sudah berada di tengah-tengah ruang pameran pusaka, lantai 4 TEC. Gus Panji Pranajiwa lantas beraksi. Tak lama kemudian, kedua penari asal Surabaya mulai mengitari ruangan sambil meliuk-liukkan tangan dan badan.

Begitu pula para pelukisnya. Mereka harus berlari mengikuti gerakan penari tersebut. Sebab, penari itu adalah kanvas mereka. Dalam sekejap, tubuh mulus penari tersebut penuh dengan lima warna cat. Yaitu, merah, kuning, hijau, hitam, dan pink. Tak hanya tubuh, rambut penari itu juga tak luput dari goresan kuas si pelukisnya.

“Hasilnya jadi beraliran dekoratif,” ujar Agus Leo, pelukis yang sudah mendalami body painting tujuh tahun. Agus mengungkapkan aliran lukisannya adalah realis. Alasannya, objek lukisannya bergerak dan pengaruh hipnotis. “Berhubung saya berada di alam bawah sadar, lukisannya tidak sempurna. Sebenarnya saya ingin melukis kupu-kupu,” jelas pelukis asal Malang yang kini menetap di Surabaya itu.

Kesulitan lain, melukis tubuh perlu konsentrasi tinggi dan hasilnya tidak bisa diprediksi. Sebab, body painting bergantung pada modelnya. “Kalau modelnya geli, kan lukisannya bisa kacau, juga memecah konsentrasi, Mbak,” katanya.

Novita Ariyani, penari sekaligus model lukisan, mengaku sempat merasa takut ketika ditawari menjadi model body painting. Sebab, itu pengalaman pertama bagi cewek yang biasa disapa Vino itu. “Karena ini kolaborasi, makanya saya terima,” ujarnya. “Tapi, setelah dilukis, saya lebih tenang. Tapi, ya gitu, badan saya lengket semua,” tambahnya.

Meski demikian, Vino tetap mengumbar senyum kepada pengunjung dan juru potret yang mengelilinginya. Dia juga tidak takut kulit putihnya dilumuri cat aneka warna. Sebab, cat itu, lanjut Vino, khusus untuk body painting. Cat itu akan hilang bila terkena air. “Itu cat kosmetik kok, jadi mudah membersihkannya,” jelasnya. (yen)

Jawa Pos, Minggu, 17 Feb 2008,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: