Ditonton Lima Belas Orang, Bayarannya Seribu Rupiah

Menengok Ludruk Mamik Jaya yang Empat Bulan Pentas di Maospati, Magetan

Ludruk, salah satu kesenian asli Jawa Timur yang masih membekas sampai sekarang. Para pemainnya tetap setia meski berangsur-angsur ditinggalkan penonton. Tapi akankah kesenian warisan leluhur ini akan pudar tertindas modernisasi zaman?

DIDIK PURWANTO, Magetan

PAGI ITU, suasana di tobong Ludruk Mamik Jaya di Desa Malang, Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan kelihatan sepi. Hanya tampak beberapa orang mondar-mandir sambil membawa beberapa perlengkapan untuk memperbaiki bangunan tobong yang mulai reyot diterjang angin.

Meski pagi, udara dingin terus mengerogoti tubuh. Wajar saja saat itu langit tertutup kabut. Dan, gerimis mulai turun rintik-rintik. Memasuki pintu tobong, terlihat panggung yang tampak sederhana dan beberapa peralatan gamelan Jawa yang berada di depan panggung.

Ditambah beberapa warung makan dan kopi, membuat suasana seperti pasar. Ini yang membuat tobong terasa sumpek. Wajar saja sebab luasnya hanya 15 x 20 meter persegi. Tapi suasana kekeluargaan antar-pemain ludruk dengan pemilik warung terasa damai. Membuat iri orang yang melihatnya.

Ludruk Mamik Jaya sendiri berdiri sejak tahun 1999 oleh Mamik Yuliana, selaku pimpinan ludruk. Jadi sudah sekitar sembilan tahun kesenian ludruk ini meniti karirnya.

Kehidupan mereka sering berpindah-pindah dari satu tempat ketempat lainnya. Jadi itulah kenapa kesenian ini dinamakan ludruk tobong.

Memang tak banyak jenis ludruk seperti ini yang ada di Jawa Timur. Cuma hanya ada tiga yang cukup eksis. Di antaranya Suro Menggolo Ponorogo, Irama Budaya Surabaya, dan Mamik Jaya sendiri.

Beberapa waktu lalu ketiga ludruk tobong ini mendapat bantuan dari Paguyuban Puspo Budoyo “Ketoprak Guyonon Canpur Tokoh” sebesar Rp 20 juta. Tapi bantuan itu untuk perbaikan panggung dan sisanya dibagikan kepada personilnya.

“Seperti ini suasananya sepi, hanya beberapa personil yang sedang membersihkan gamelan,” ungkap Mamik Yuliana ditemui koran ini kemarin (Sabtu, 9/2)

Memang dalam perjalanan karir ludruk Mamik Jaya ini sangat memprihatinkan. Dari pengurusan izin dari wilayah setempat diakui sulit. Banyak syarat yang harus ditaati oleh para personilnya.

Untuk bisa pentas saja Mamik –panggilan Mamik Yuliana– harus bisa mengantongi lebih dari empat surat izin dari wilayah setempat. Seperti dari kepala desa, kecamatan, Kapolsek, hingga Koramil. “Saya harus punya izin dari keempat instansi ini. Salah satu saja tidak memberi izin kami tidak bisa pentas,”terangnya.

Tak hanya itu, duka juga dialami rombongan ludruk tobong ini. Jumlah penonton yang minim juga menjadi masalah. Semalam maksimal hanya 30 penonton yang menyaksikan. Setiap penonton dikenai karcis Rp 2.000. Bayangkan berapa penghasilan mereka dalam semalam. Hanya sekitar Rp 35.000-60.000. Padahal, jumlah personilnya sebanyak 32 orang. Jadi setiap malam, seorang pemain ludruk hanya bayaran seribu rupiah.

Selain itu mereka harus membayar sewa tempat Rp 100.000 per bulan dan biaya transportasi untuk keperluan pentas. Sungguh memprihatinkan bukan nasib yang dialami grup ludruk Mamik Jaya ini.

“Tadi malam saja penontonnya cuma lima belas orang. Banyak yang ngintip lewat pagar pembatas,” beber Juri, penanggung jawab ludruk Mamik Jaya.

Untuk menutupi semuanya itu, para personil harus mempunyai kerja sampingan. Sesuai dengan ketrampilan dan bakat yang mereka miliki.

Ada yang perbaiki kasur, buat patung dan ada pula sebagai panti pijat. Untuk para ibu-ibu kebanyakan menjajakan makanan dan minuman di pinggir pagar pembatas. Semua itu, mereka lalui dengan kebersamaan dan solidaritas antar personil. Sehingga mereka dapat hidup dengan perasaan senang walau harus menutupi kekurangan.

Tapi dengan sejuta duka yang mereka alami, ada setetes kebahagian yang dirasakan selama ini. Mereka bangga masih bisa meneruskan kebudayaan tradisional yang mulai luntur. Hanya jiwa-jiwa seni seperti merekalah kesenian asli Jawa Timur ini dapat dipertahankan.

Itu salah satu alasan kenapa grup ludruk ini masih eksis sampai sekarang. Mereka tidak butuh bantuan dari pemerintah tapi hanya butuh perhatian untuk dapat mengenalkan pada anak cucu kita.

Jangan sampai 10 tahun ke depan orang Jawa Timur lupa akan budaya tradisi. Jadi inilah tugas pemerintah melalui dinas terkait dapat melestarikan kesenian ludruk ini. Lebih baik di klaim negeri lain untuk dilestarikan dari pada di negeri sendiri hanya sebagai pelengkap. ***

Radar Madiun, Selasa, 12 Feb 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: