Tjindrawati Thamrin, Dokter Gigi Yang Merangkap Guru Balet

Awalnya Hanya Ikut-ikutan, Kini Jadi Pakar
Tari balet sulit dilepaskan dari drg Tjindrawati Thamrin SpKG. Sesibuk apa pun, dia tetap meluangkan waktu untuk melatih balet di Sanggar Dewi Ballet Surabaya yang dikelolanya.

SEKARING RATRI ADANINGGAR

Diiringi musik klasik berirama lembut, seorang wanita berambut panjang memberi aba-aba kepada sepuluhan remaja putri. Sesekali dia memberi contoh gerakan meliuk-liuk yang mengandalkan keseimbangan dan kelenturan badan.

“Fouette…,” seru Tjindrawati Thamrin dengan lafal bahasa Prancis. “Fouette” adalah salah satu gerakan berputar dengan satu kaki sebagai porosnya.

Dengan cermat dia amati gerakan para muridnya. Salah sedikit saja, dia langsung menghampiri si murid yang kurang tepat dalam gerakan tersebut dan mengajarinya sampai betul.

“Badan harus tegak, pandangan lurus ke depan, lalu putar,” terang Tjindrawati. Anak-anak pun menyimak serius setiap instruksi guru baletnya itu.

“Ya, begitulah, mereka harus konsentrasi penuh kalau ingin gerakannya benar dan cantik,” tutur wanita 37 tahun tersebut ketika ditemui di sanggar baletnya, Gedung Sasana Bakti, Jagalan, Minggu (10/2) pagi.

Di sanggar itu, Tjindrawati bukan guru balet biasa. Dia termasuk senior, sehingga sudah banyak pebalet yang dilahirkannya.

Bukan itu saja. Selain tiga kali seminggu melatih balet di sanggar, sehari-hari Tjindrawati juga punya kesibukan yang menuntut keahliannya yang lain. Ya, Tjindrawati juga dikenal sebagai dokter gigi spesialis.

Bila Minggu pagi hingga tengah hari berbalut pakaian balet, sore harinya Tjindrawati harus berganti mengenakan jas putih untuk praktik dokter giginya. Sejak itu, bukan lagi intruksi-instruksi gerakan yang betul kepada murid, tapi dia ganti menyimak keluhan dan memeriksa gigi para pasien di ruang praktiknya yang berlokasi di Jalan Ambengan.

Rutinitas di dua profesi itu telah dijalani ibu tiga anak tersebut selama tujuh tahun terakhir. Keduanya, diakui, tak pernah dikeluhkan. “Saya menikmatinya. Jadi, ya enjoy saja,” tutur lulusan FKG Unair itu.

Memang, konsekuensinya Tjindrawati harus pandai-pandai membagi waktu, sehingga aktivitasnya di sanggar, tempat praktik, dan mengurus anak-anak di rumah bisa berjalan baik. “Pada awalnya suami protes, tapi lama-lama dia bisa mengerti karena saya bisa memenej waktu dengan baik,” terang istri drg Stefanus Setiabudi SpOrt ini.

Tjindrawati sendiri sejak umur enam tahun sudah berlatih balet. Mulanya dia hanya mengikuti kakak-kakaknya yang kursus balet di sebuah sanggar. “Karena kakak-kakak wanita saya dileskan balet, saya akhirnya juga ikut les,” ujar anak ke-5 dari enam bersaudara ini.

Meski awalnya hanya iseng, wanita yang juga gemar melahap wafel dan pancake ini mengaku mulai tertarik dengan tari balet ketika dibelikan sepatu point, sepatu khusus pebalet. Saat itu Tjindrawati sudah duduk di bangku SMP. “Balet itu ada tingkatannya. Kita baru boleh memakai sepatu point kalau sudah tingkat mayor. Sebelum jenjang itu, tidak boleh,” kata dia.

“Rasanya senang sekali waktu pertama mengenakan sepatu itu,” kenangnya.

Tapi, semangatnya untuk menggeluti balet lebih serius sempat mendapat tentangan dari orang tua. “Orang tua saya menganggap balet itu sama seperti nari jingkrak-jingkrak . Kesannya hanya main-main,” terangnya.

Tjindrawati tidak menyerah, dia kemudian berusaha meyakinkan orang tuanya bahwa balet bukan “tari jingkrak-jingkrak” seperti yang dicitrakan mama-papanya. Menurut Tjindrawati, tari balet memiliki nilai seni yang dalam. “Setelah tahu bahwa balet itu salah satu seni yang tinggi nilainya, mereka akhirnya setuju dengan keputusan saya menggeluti balet.”

Sejak saat itu, wanita kelahiran 26 November 1970 ini semakin giat menekuni balet. Bahkan, di antara tiga saudara wanitanya, Tjindrawati justru yang paling serius dan rajin mengikuti latihan di sanggar. “Saudara-saudara saya akhirnya protol duluan. Tinggal saya yang berlatih,” ungkapnya sambil tersenyum.

Kecintaannya pada balet itu semakin besar, ketika Tjindrawati dipercaya pimpinan sanggarnya menjadi asisten pelatih.”Padahal waktu itu saya baru saja lulus SMA. Saya kaget, tapi ya gembira bukan main.”

Di usia 19 tahun, Tjindrawati memulai karirnya sebagai pengajar balet anak-anak di Sanggar Dewi. Meski begitu, dia tetap konsentrasi di kuliahnya sebagai calon dokter gigi.

“Saya sangat beruntung karena orang-orang keturunan Tionghoa seperti saya sangat sulit menembus universitas negeri pada waktu itu,” katanya sembari menerawang. “Karena itu, kesempatan kuliah di Kedokteran Gigi itu tak saya sia-siakan.”

Tingkat stres yang tinggi di kalangan mahasiswa kedokteran juga sempat menghinggapi Tjindrawati. Setumpuk tugas dan praktikum khas mahasiswa kedokteran pun menjadi tugas keseharian wanita bertubuh semampai ini. Namun, hal itu tidak lantas membuat Tjindrawati melupakan murid-muridnya. Dia tetap giat mengajar. Bahkan di saat-saat ujian sekalipun.

“Bagi saya, mengajar balet merupakan salah satu obat penghilang stres yang mujarab,” katanya.

Tjindrawati mengaku kecintaannya pada anak-anak membuat saat-saat mengajar menjadi menyenangkan dan ketegangan di kampus pun lenyap seketika.

Akhirnya, Tjindrawati dituntut harus bisa membagi waktu antara dua aktivitas yang berlainan tersebut. “Saya kuliah sampai jam 2 siang. Jadi sorenya saya bisa melatih anak-anak di sanggar,” terangnya.

Ketika ditanya masa-masa paling berat saat menjalani keduanya, dia menjawab saat menjadi pegawai tidak tetap (PTT) di Bangkalan, Madura. “Ya, terpaksa saya harus bolak-balik Surabaya-Bangkalan untuk mengajar balet dan bertugas di Bangkalan,” tuturnya.

Ketekunannya di dunia bidang itu akhirnya terwujud semua. Tjindrawati berhasil meraih gelar spesialisasi dokter gigi dan mendapat kepercayaan dari owner Sanggar Dewi untuk memimpin sekolah balet itu.

“Bu Dewi (Dewi Rani, pemilik sanggar, Red) berimigrasi ke Kanada. Dia mengikuti suaminya. Sejak itu, saya disuruh mengelola,” katanya.

Pada mulanya Tjindrawati merasa kurang pede memimpin sanggar itu. Tapi, pelan tapi pasti, akhirnya amanat itu mampu dipikulnya dengan profesional. Tjindrawati mulai merasa enjoy dengan jabatan barunya sebagai pimpinan Sanggar Dewi. “Jadi pimpinan ternyata ada enaknya, karena waktu mengajar saya jadi tidak lagi full lagi seperti saat menjadi asisten dulu.”

Berkah lainnya, Tjindrawati juga bisa lebih leluasa mengurus suami dan anak-anaknya. “Mereka mendukung penuh aktivitas saya di balet ini. Bahkan ketika saya hamil tujuh bulan dan masih jingkrak-jingkrak, suami saya tidak melarang,” tuturnya lantas tertawa.

Kini, giliran salah satu putrinya, Natasha, yang mengikuti jejak Tjindrawati. Anak pertama Tjindrawati itu juga menjadi murid di sanggar yang aktif tampil dalam pergelaran-pergelaran balet. “Dia memang pingin sendiri. Saya tidak pernah memaksanya untuk jadi penari balet seperti saya,” ungkap penggemar novel-novel fantasi seperti Harry Potter, Eragon, hingga The Golden Compass itu. (ari)

Jawa Pos, Senin, 11 Feb 2008,

2 Responses

  1. alamat sanggar dewi dimana ya ?

  2. dokter, gigi saya ancur total, mau membenahi sering pny pikiran ketakutan dan malu sendiri. umur saya udah 35 apa masih bisa dibenahi ? thankz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: