Swawedar, Sebuah Perjalanan Budaya Asal Mojokerto

Dari Pentas Agustusan hingga Melanglang ke Bandung
Dengan dihadiri sekitar 30 orang, Swawedar 63 merayakan HUT ke-45 pada 27 Januari lalu di rumah Wahab Jl Majapahit selatan. Swawedar didirikan oleh Anton Sumartana yang kini tinggal di Bandung . Swawedar 63 menjadi bukti otentik bahwa seni teater sudah ada di Kota Mojokerto sejak 45 tahun lalu. Berikut perjalanan panjang Swawedar seperti yang disampaikan Anton kepada Radar Mojokerto.KETIKA mau didirikan, kepada anggota dilempar nama yang cocok buat kelompok remaja yang gemar menggambar (latihan bersama), berkencrang kencring pakai gitar, ketipung, serta kentongan dari bambu. Ada yang mengusulkan Sanggar Brawijaya, karena pusat latihan di rumah Jalan Brawijaya No 215 Mojokerto. Ada yang mengusulkan Sanggar Majapahit, karena kadang-kadang latihan di rumah anggota di Jalan Majapahit. Ada pula yang mengusulkan Sanggar Cakrawala, Sanggar Budaya, Sanggar Sungging dan nama lain. Anton yang mengomandani kelompok, sudah mengantongi nama, hasil doa ibunya usai salat, memberi alasan:

“Kelompok kita bukan kelompok Kerajaan. Nama harus umum, dan bisa diterima siapa saja. Sampai kapan harus tetap ada,” kata Anton. Dikeluarkanlah nama: Swawedar!

Mereka langsung setuju. Menyambut senang. Mungkin karena sudah akrab dengan kata Sriwedari, atau swadaya. Maka lahirlah Sanggar Swawedar, 10 November 1963. Acara dibuka dengan makan-makan tumpeng nasi kuning dimasak oleh ibu Anton.

Mencari arti:
Swawedar, berarti bangkit sendiri (Swa = sendiri, wedar = bangkit). Motto yang diusung: Belajar, bekerja, berkreasi buat sesama (dalam perkembangannya, “buat sesama” diubah jadi “untuk Bangsa dan Agama”).

“Biar keren!” Kenang Anton pendirinya.

Kelompok yang berasal dari latihan menggambar bareng-bareng mensketsa di pasar, di terminal, stasiun, alun-alun dan jalan pertokoan. Hanya karena kebutuhan, dibentuk pula folk song, semacam kelompok musik lagu-lagu daerah. Membawakan lagu-lagu daerah atau lagu rakyat, dirasakan pengucapannya banyak yang tidak jelas, dialihkan belajar membaca yang benar, huruf-huruf: a, b, c, d, sampai huruf z. Kemudian dikembangkan olah vokal: Membaca kata yang jelas dan benar, mengucapkan kalimat yang jelas dan benar. Latihan dilakukan di sungai tlusur, atau di pintu Sungai Brangkal yang ada terjunan air deras. Di pinggir sungai atau masuk mandi ke dalam sungai, berteriak-teriak olah vokal melawan derasnya suara air terjun. Bosan dengan kebiasaan latihan di Sungai Brantas, sambil piknik bersepeda, latihan vokal di hutan Trowulan, atau di Mojosari. Dari hasil latihan vokal, setiap bermusik, bernyanyi, dilakukan pula melatari musik dengan membacakan teks lagunya. Dari folk song dengan dilatari pembacaan syair lagu, berkembang
kepada deklamasi. Puisi-puisi yang akrab adalah karya-karya Chairil Anwar: “Aku”, “Karawang-Bekasi” , “Doa”. Ada karya-karya penyair lain, seperti Amir Hamzah, dianggap sebagai pantun kuno.

Latihan-latihan seperti olah vokal dan bermusik (karena letak di pinggir Jalan Brawijaya) diketahui oleh Pak Lurah. Pak Lurah meminta mementaskan sandiwara buat meramaikan perayaan 17 Agustus. “Sandiwara, kayak ludruk itu lho? Tapi, ceritanya perang,” ujar Pak Lurah waktu itu.

Siang itu pula dengan naik sepeda ramai-ramai ke Pasar Kliwon Mentikan, tempat gedung pertunjukan ludruk. Semua pemain laki-laki. Mereka pun membagi peran: harus begini, yang lain harus begitu. Malamnya nonton atau mengamati pertunjukan ludruk. Lakonnya: “Sarip Tambak Yoso.” Kisah tentang heroisme rakyat Indonesia melawan penjajah Belanda.

Menertibkan Manajemen
Kegiatan sandiwara seperti ini tidak bisa terus menerus memakai cara-cara tradisional, seperti ludruk atau ketoprak. Tapi, harus cari teks atau naskah: ke toko-toko buku, ke orang-orang tua yang aktif berkecimpung di dunia sandiwara atau nama kerennya drama.

Di Mojokerto ada susastrawati Jawa Iesmaniasita St. Memberi petunjuk supaya ke Surabaya , menemui Mas Narto (Maksudnya Sunarto Timur), Akudiat atau Gatut Kusumo.

Mulailah berkenalan dengan naskah-naskah luar (negeri) yang tebal-tebal dan memusingkan karena susah dimengerti (absurd). Seperti karya Ibsen, Bertolt Breck Shakespeare, Samuel Becket. Kemudian mulai bersentuhan dengan naskah drama karya Sanusi Pane, Akudiat, Motinggo Busye, Akhdiat K Mihardja dan lain-lain. Tapi lebih tertarik mementaskan drama: “Pinangan” karya Anton P Chekov, “Pagi Bening” karya Seratin, “Fajar Siddik” karya Emile Sanosa, “Suara-Suara Mati” karya Alfares Quintaro dan Alfredo Alvares, “Malam Pengantin di Bukit Kera”, “Malam Jahanam” karya Motinggo Busye, “Bentrokan Dalam Asrama” karya Achdiat K Mihardja.

Karena jumlah anggota pemain begitu banyak dan berpotensi, tidak mungkin terus menerus mementaskan drama dengan pemain terbatas maka memulailah “hijrah” membuat naskah drama sendiri. Dengan pelaku disesuaikan karakter anggota kelompok yang ada. Pemain tidak hanya terdiri remaja, tapi juga anak-anak. Dari kondisi demikian, muncullah pemikiran MTU (Manjemen Teater Utuh) Dalam kegiatan teater harus mempunyai grup yang kompak, sumber naskah yang lengkap, sutradara yang handal, disertai sumber dana yang kuat. Atau bila sebagai kreator, tampil diri sebagai seniman paripurna: Harus mampu menulis naskah. Jadi menyutradarai sekaligus sebagai aktor yang handal. Dari kesadaran MTU, lahirlah pementasan drama “Pengemis Itu” karya Anton De Sumartana, juara pertama festival drama remaja. “Sang Paduka RT Kita” karya Anton De Sumartana, sutradara Nono Setio Dwiyono dengan 30 (tiga puluh) pemain. Drama ini selain main di Pendopo, main di Gedung Nasional, juga berkeliling main di Kelurahan-kelurahan . Pak Lurah sampai kewalah
an karena harus mengangkut pemain menggunakan truk. Drama “Panggung Sandiwara” karya Anton De Sumartana, sutradara Nono Setio Dwiyono, sejenis drama musikal, seluruh pemain berjumlah 60 orang pakai topeng.

Uniknya, drama-drama “Sang Paduka RT Kita”, “Panggung Sandiwara”, “Zapata Sang Pejuang” dijadikan pola latihan berimprovisasi. Saat di sekolah berdialog berimprovisasi, di jalan, di toko di gang-gang, di gardu-gardu ronda. Yang secara langsung “keanehan-keanehan” , ini menarik perhatian anak-anak masyarakat sekitar, sehingga ikut berlatih. Lewat naskah-naskah seperti itu, pembibitan kader dan regenerasi pemain terus berkembang. Bahkan berhasil membentuk Teater Anak-anak. Untuk mencari dana pembangunan tempat ibadah, dipentaskan drama “Chrismats Charol” karya Charles Dicken.

Naluri untuk selalu tampil, memantapkan diri membina keterampilan dan watak berkarakter, dirasa hanya melalui pergulatan dalam berteater. Namun, guna memasyarakatkan ketoprak dan bergiat lebih luas dan tampil secara “nasional”, mempunyai cita-cita untuk hijrah. Kader yang tangguh, dengan tim yang solit dan kompak, dipersiapkan untuk pentas ke Bandung .

Seluruh anggota Swawedar Mojokerto dengan drama “Suara Kawula Suara Dewata” karya Anton De Sumartana, sutradara Nono Setio Dwiyono mentas di Gedung Kesenian Rumentang Siang Bandung . Seluruh anggota Swawedar naik Kereta Api trutuk ke Bandung . Berhasil mementaskan “SKSD”, tiba-tiba ada sponsor untuk pementasan “Mega-Mega”. Para pemain pun melakukan latihan “Mega-Mega” karya Arifin C. Noor dengan Sutradara Anton De Sumartana. Pimpinan produksi dipegang Nono Setio Dwiyono. Dalam pementasan “Mega-Mega” Rudjito (penata panggung karya-karya Drama Rendra) dan Remy Silado mengacung jempol berkenaan dengan tata panggungnya. (khoirul inayah/nk)

Radar Mojokerto – Minggu, 03 Feb 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: