Pameran Mengenang Sudaryono

SURABAYA – Bali bisa mendatangkan inspirasi bagi setiap orang. Begitu pula dengan Sudaryono. Dia mengekspresikan Bali ke dalam lukisan. Karyanya dipamerkan di House of Sampoerna, 23 Januari-18 Februari.

Pameran itu memajang sekitar 25 karya. “Itu hasil lukisan almarhum di Bali,” kata Rini Sherly, istri Sudaryono.

Selama tujuh bulan, mulai Desember 2006-Juni 2007, Sudaryono tinggal di Bali untuk melukis. Selama itu, tempat tinggalnya di kawasan Kedewatan, Ubud, Bali, selalu penuh lukisan. Menurut Rini, suaminya melukis seperti orang kantoran. “Sejak pagi, dia sudah ada di depan kanvas untuk melukis,” kata wanita berkerudung tersebut.

Selama di Bali, Sudar -panggilan akrab Sudaryono- tidak pernah berhenti melukis. Dia hanya libur saat hujan deras dan Nyepi. Bali memang bukan tempat pertama bagi pelukis kelahiran Jogja itu untuk melukis on the spot. Ada banyak tempat yang juga memberikan inspirasi baginya. “Bukan hanya di Indonesia. Tapi, juga beberapa tempat di mancanegara,” ujarnya.

Lukisan Sudarsono bergaya ekspresionis dan menceritakan objek secara apa adanya. Kelebihan pelukis yang berpulang pada Oktober 2007 tersebut adalah kemampuannya menciptakan efek tiga dimensi. Itu ditunjukkan dengan permainan cahaya dalam karyanya.

Salah seorang yang mengungkapkan kekaguman terhadap Sudaryono adalah dr Melanie W. Setiawan MSc. Lukisan yang disukai Melanie berjudul Pura di Tepi Laut Rambut Siwi Nagara Bali. “Saya suka lukisan itu karena terlihat begitu dinamis,” kata kolektor lukisan tersebut sembari menunjuk karya yang dipajang di pojok ruangan itu.

Karya Sudaryono tidak hanya dikoleksi di Indonesia. “White House juga mengoleksi beberapa lukisan Mas Sudar, namun yang beraliran abstrak,” tutur Rini.

Memang, selain lukisan realis dan ekspresionis, Sudaryono melukis abstrak. “Biasanya, lukisannya abstrak saat tidak mood melukis on the spot,” ucapnya.

Dua bulan sebelum meninggal, Sudar masih menyelesaikan satu lukisan realis tentang orang Asmat. Rencananya, proses kreatif Sudaryono dibukukan. “Secepatnya buku tentang Mas Sudar disusun,” tandasnya. (dee/dos)

Jawa Pos, Kamis, 24 Jan 2008,

One Response

  1. Semoga bukunya cepat tersusun. Gajah mati meninggalkan gading ,manusia mati semoga nama baik yang tertinggal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: