Lukisan di Waktu Luang


Apa jadinya bila istri para pengusaha menguji kemampuan dalam melukis? Hasilnya lumayan bagus. Bahkan, mereka asyik dan berupaya keras menyuguhkan karya yang optimal.

Kesan tersebut tampak dalam pameran 11 istri pengusaha bertajuk Painting Exhibition di “galeri” Jalan Diponegoro 148 yang dimulai kemarin (22/1). Selain sebelas perempuan itu, pameran tersebut diikuti pelukis Nurzuliskoto dan kontraktor Theo Tiara. Dari ke-13 perupa itu, dipajang 75 lukisan berbagai ekspresi.

Sebelas perempuan yang menyenangi seni rupa tersebut adalah Anita Radjimin, Han Bok Hee, Inggit Sutandi, Laurensia Tiara, Lee Chen, May Tjokrosetio, Tee Ko Lina, Vonny Harman, Vivian Fan, Pomplin J. Kusuma, dan Wiwiek Handoyo. Selama ini, mereka banyak mendapatkan pengarahan teknik dari Nurzuliskoto, yang juga dosen Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya.

“Sebenarnya, saya hanya membantu mengoptimalkan kemampuan lukis yang sudah mereka miliki saja,” katanya di sela pameran.

Sulis -panggilan Nurzuliskoto- mengaku tak mengalami kesulitan berarti selama menjadi guru privat para perupa amatir tersebut sejak 2005. Sebab, mereka sudah mempunyai modal bakat kemampuan melukis.

“Saya tinggal mengarahkan teknik lukis yang tepat berdasar kecenderungan masing-masing,” ujarnya.

Memang, lanjut Sulis, kebanyakan belum berani mengeksploitasi objek. Mereka masih terpaku pada objek-objek gampang, seperti manusia, bunga, kuda, alam, dan ikan. Dua lukisan Anita Radjimin, misalnya, mengambil objek bunga. “Saya suka melukis untuk mengisi waktu luang,” kata istri bos Hotel JW Marriott itu.

Selama tiga tahun, Anita menghasilkan 20 lukisan. Hanya, ketika ditanya aliran yang dianut, dia mengaku tidak tahu persis. “Kata Pak Sulis, saya termasuk beraliran realis,” kata Anita lantas tersenyum.

Nuansa lain terasa saat memandang lukisan Theo Tiara. Kontraktor tersebut menggunakan lukisan sebagai sarana penggambaran filosofi hidup. Setiap lukisan, kata dia, memiliki filosofi sendiri. Dia selalu mencari filosofi hidup terlebih dahulu sebelum menuangkan di atas kanvas.

“Perjalanan hidup bisa menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya,” katanya. Theo selalu menyertakan catatan filosofi hidup di samping lukisannya. (uji/ari)

Jawa Pos, Rabu, 23 Jan 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: