Indah Jawak, Bidan yang Juga Pelukis

Ibu Hamil dan Menyusui pun Jadi Objek
Pameran lukisan di Hotel Shangri-La akhir tahun lalu sebetulnya tak banyak berbeda dari pameran-pameran lukisan lain. Yang sedikit berbeda adalah pelukisnya, Indah Jawak. Dia adalah bidan yang berdinas di Rumah Sakit Delta Surya Sidoarjo.

RANTO PUJIANTORO

SEBANYAK 25 lukisan yang dipajang di lobi hotel itu semua realis. Objeknya juga sudah umum, seperti pemandangan alam Gunung Wilis, hewan, atau air terjun Coban Rondo. Lukisan berbahan dasar cat akrilik itu digoreskan dengan halus. Hampir setiap detail objek tertangkap dan tervisualisasi dengan jelas.

Salah satu lukisannya, Merpati Tak Pernah Ingkar Janji, tampak begitu nyata dalam paduan warna cokelat, oranye, dan hitam. Penikmat seni makin kagum setelah tahu bahwa pelukisnya adalah seorang bidan yang masih aktif.

Dalam beberapa karyanya, Indah Jawak, 31, seakan ingin menggabungkan dunia seni dan kesehatan. Misalnya, lukisan ibu hamil atau menyusui. Bagi dia, pasien pun menjadi objek yang menarik untuk divisualisasikan di atas kanvas.

“Seni ada dalam setiap napas kehidupan manusia. Setiap manusia punya kepekaan untuk merasakan hal-hal di sekelilingnya,” kata wanita kelahiran Medan itu.

Aktivitas berkeseniannya tersebut, kata Indah, seakan menjadi kekuatan untuk berbuat lebih demi kemanusiaan. Misalnya, dengan cara pameran amal. “Saya pernah beberapa kali ikut pameran amal bersama. Tapi, saya kurang puas. Saya masih memendam keinginan untuk membuat pameran amal tunggal dan menyerahkan seluruh hasilnya untuk korban kemanusiaan,” ungkap alumnus Kebidanan Unair tersebut. Dan, pameran di Shangri-La selama tiga hari itu merupakan pameran tunggalnya kali pertama.

Indah tertarik pada seni rupa ketika melihat keindahan dan keasrian lingkungan di sekitarnya. “Saya merasa prihatin, keasrian dan keindahan lingkungan kita lenyap tanpa diabadikan. Kondisi lingkungan yang makin rusak memicu keinginan saya untuk memvisualisasikan pemandangan sekitar di atas kanvas,” jelasnya.

Hanya, kesibukannya sebagai bidan banyak menyita waktu, sehingga keinginannya melukis sulit terealisasi. Namun, demi mewujudkan obsesi menggelar pameran amal, dia memaksakan diri membuat jadwal ketat untuk menyalurkan jiwa seninya tersebut. Tiap hari, dia meluangkan waktu 2,5 jam untuk melukis.

Guna menyempurnakan karyanya, wanita yang sudah 10 tahun menjadi bidan itu pun merasa perlu berkonsultasi. Ada beberapa orang yang dipercaya menjadi tempat sharing ide maupun membahas karya-karya yang sudah jadi. “Awal 2005, saat saya mulai menekuni kembali seni ini, saya berguru kepada Nonot. Hampir setahun saya terus meminta masukan dari dia (Nonot, Red),” kata Indah.

Perupa senior lain yang dimintai pendapat adalah Asri Nugroho. Tapi, hanya sekitar setahun dia berguru kepada Asri karena kesibukan pelukis itu. Pada 2007, Indah mendaulat Supar Pakis sebagai pembimbingnya dalam berkesenian.

Apakah melukis hanya untuk melampiaskan semua kesendiriannya? “Tidak. Saya serius dengan lukisan-lukisan saya. Ketika melukis, saya bisa mengekspresikan perasaan. Bahkan, saat perasaan cemas yang kadang datang, saya manfaatkan untuk menciptakan sebuah karya. Tinggal mengatur dan mengelola emosi yang meletup-letup itu,” tegasnya.

Di rumahnya di kawasan Pondok Mutiara, Sidoarjo, sebuah ruangan berukuran 4 x 10 meter persegi difungsikan sebagai studio. Hampir tiap hari dia meluangkan waktu di situ, melukis. “Yang penting saya melukis, meski studio tidak terlalu layak untuk sebuah bengkel seni,” kata wanita yang masih melajang tersebut.

Berkat ketekunannya, tak sedikit karyanya yang menjadi milik kolektor. Pada pameran di Shangri-La lalu, sepuluh lukisannya laku.

Rumah sakit tempatnya bekerja pun merupakan salah satu kolektor lukisannya. Hampir di tiap sudut ruang praktiknya di lorong Dahlia, lantai III, lukisan dia bisa dijumpai. “Di situ, saya memajang lukisan wanita hamil dan menyusui dengan ekspresi senyum yang ceria. Saya ingin menyampaikan bahwa meski dalam keadaan hamil atau merawat bayi, seorang ibu tetap bisa tampil cantik,” ungkap putri pasangan Usman Jawak dan Kemmi tersebut.

Bupati Sidoarjo Win Hendrarso pun memajang karya Indah. Lukisan berjudul Menabur Benih itu menarik perhatian orang nomor satu di Kota Udang tersebut saat pameran di Pendapa Sidoarjo awal 2007. Beberapa karya dia yang lain pun dilelang di beberapa tempat. “Pernah lukisan saya di tawar Rp 17.500.000,” ujar wanita yang suka traveling itu.

Tugasnya sebagai seorang bidan membuat dirinya tak punya waktu khusus untuk melukis. “Ya, kadang waktu istirahat saya kurangi. Kalau libur, saya manfaatkan untuk jalan-jalan mencari objek. Pokoknya, setiap ada waktu luang, saya pasti ada di galeri. Kalau pas libur dan mood, saya bisa tujuh jam melukis,” jelasnya.

Melukis, kata dia, sangat berkaitan dengan mood. Bila keinginan melukis sedang kuat, lukisan yang dibuat bakal cepat selesai. Tapi, untuk menyelesaikan satu lukisan sekaligus, dia jujur mengaku belum mampu. “Butuh beberapa hari lukisan bisa selesai,” katanya.

Setiap karyanya hampir didominasi unsur air, pohon, dan gunung. Menimbulkan kesan teduh. “Ratusan lukisan itu rata-rata selesai dalam seminggu tiap objek,” ungkap wanita yang pernah aktif sebagai pencinta alam tersebut.

Indah mengaku, perjuangan untuk mendapatkan karakter lukisan merupakan tantangan tersendiri. Banyak unsur yang harus dimasukkan untuk membuat karyanya “hidup”.

“Karakter ibu hamil dan menyusui benar-benar khas. Saya melihatnya sebagai daya tarik tersendiri. Namun, jika tidak bisa memunculkan karakter, hasil lukisan bisa tampak aneh,” tegasnya. (cfu)

Jawa Pos, Jumat, 11 Jan 2008,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: