KARTOLO: “Saya Cuma Bisa Main Ludruk”

suarasurabaya.net| Rasanya tak percaya, kalau sosok KARTOLO yang dikenal sebagai seniman ludruk, sekaligus pelawak pengocok perut, lewat parikan, serta banyolan dalam Jula Juli Guyonan itu, ternyata pernah ditawari menjadi guru bantu sebuah sekolah didesanya.

Ketika itu, oleh beberapa guru sekolah di desanya, di Watu Agung, Prigen, Kabupaten Pasuruan, KARTOLO dikenal sebagai siswa dengan keterampilan lumayan bagus dibidang karawitan. Tawaran disampaikan lantaran KARTOLO selain mampu memainkan gamelan juga terampil nglaras.

“Waktu itu, saya berpikir kalau jadi guru nggak bisa pergi kemana-mana. Disekolah ngajar, pulang kerumah, gitu. Saya kepingin bisa jalan-jalan dan pergi kemana-mana, saya milih ikut karawitan. Terus kemudian ikut main ludruk,” cerita KARTOLO pada suarasurabaya.net, Senin (07/01) dikediamannya.

Lahir pada 2 Juli 1947, KARTOLO mengaku tertarik dunia ludruk kemudian ikut menjadi pemain ludruk sejak usianya sekitar 17 tahun. Dari situlah, kemudian KARTOLO, jadi ‘anak tobong’. Bermain ludruk dari satu panggung ke panggung. Dari sebuah kota berpindah kekota lainnya.

Bertemu dengan KASTINI, yang kemudian dinikahinya pada tahun 1974, KARTOLO merasa bersyukur mendapat pasangan yang mengerti tentang kehidupan seniman, khususnya seniman ludruk. Dari pernikahannya itu lahir GRISTIANINGSIH dan DEWI TRIANTI.

Susah senang menjadi seniman dan pemain ludruk sudah dialami KARTOLO. Sejak sekitar tahun 60-an, kandidat penerima penghargaan Surabaya Academy Award (SAA) 2007 ini, malang melintang menghibur masyarakat.

Ditanya cita-cita, KARTOLO tertawa lepas. Komedian tradisional dengan 95 album kemasan Ludruk Banyolan ini, ternyata bercita-cita jadi pegawai negeri. Menurutnya, jadi pegawai negeri punya jaminan masa depan yang tetap.

“Kok malah jadi pemain ludruk. Tapi mungkin memang itu garis hidup yang diberikan Allah SWT. Saya jalani saja,” ungkap KARTOLO ditengah tawa lepasnya. Pernah suatu ketika mencoba berdagang tapi usahanya malah jeblok.

Diusianya saat ini, sebuah rumah besar dikelilingi beberapa rumah lain yang ditempati anak-anaknya, dikawasan Jl. Kupang Jaya I, KARTOLO mengaku melewatkan hari-harinya menjadi MC. Master Ceremony ? “Bukan. Momong Cucu,” ujarnya mengundang tawa.

Beberapa waktu lalu, saat menjelang malam pergantian tahun, bersama sejumlah petinggi Kota Surabaya, dan koleganya sesama seniman ludruk, KARTOLO ikut tampil dalam Ludruk Urban lakon: Joko Berek Ngluruk Taman Surya, rekaan ARIF AFANDI Wakil Walikota Surabaya.

Mengomentarai keberadaan kesenian ludruk di Surabaya yang makin terpinggirkan, KARTOLO mengatakan ikut prihatin. “Memang itu memprihatinkan. Seniman seperti saya bisanya cuma main ludruk, disuruh yang lain nggak bisa. Kalau nggak ada kesempatan buat tampil, tambah soro awak iki rek,” tutur KARTOLO pada suarasurabaya.net.(tok)

Foto: TOTOK suarasurabaya.net

2 Responses

  1. Hi, boleh saya minta contact Mr. Kartolo? Saya perlu materi untuk skripsi saya tentang ludruk.
    Thanks

  2. Sumonggo mampir ten blog kartolo-mp3.blogspot.com dagelan Kartolo cs luengkap rek, sa’ review crita, sa’ maine, sa’ downloade, sa’ mbelngere, diusahakno diupdate seminggu pisan sa’ isane. Mampir lur nang kene kartolo-mp3.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: