Seni, Seni Rupa, Seni Rupa Pengalaman

oleh Saiful Hadjar*
Kita sering melihat, seni bersekutu dengan penindas, koruptor, manipulator, eksploitator dan struktur sosial ekonomi yang menghancurkan harkat kemanusiaan. Seni itu benar-menar menjadi candu. Apa yang dilakukan dan dilontarkan terhadap seni hanya untuk melegitimasi atau memperkuat kedudukannya. Seni hanya menjadi lenguhan kaum yang tertindas, hati dari manusia robot dan jiwa dari keadaan yang kosong, menghindar dari pertentangan melawan terhadap kesewenangwenangan. Juga, senimannya jadi tergantung dan dimanjakan oleh kekuasaan yang mapan dan menguatkan status quo.
Lain halnya jika seni bersekutu dengan kaum revolusi, seni sebagai instrumen untuk mewujudkan eksistensi keinsanannya. Tentunya seniman tersebut memiliki kesadaran terhadap fitrahnya, sebagai rasa tanggung jawab pada hubungan antar manusia dengan alam semesta.
Melalui hubungan tersebut seniman tidak hanya sekadar memenuhi spiritualnya, tapi juga dapat memberikan makna hidup yang lebih luas. Jadi kehadiran seni bukan hanya sebagai kesalehan ritual, namun juga kebutuhan kesalehan sosial, menegakkan keadilan.
Seni yang menekankan pada keadilan di semua aspek kehidupan tidak akan tercapai tanpa membebaskan golongan masyarakat lemah dan marginal dari penderitaan, serta memberikan kesempatan pada mereka untuk menjadi pemimpin. Kesemuanya bermuara pada kemajuan dan kesehatan sosial, bebas dari struktur sosio ekonomi yang menindas, meningkatkan harkat kemanusiaan dan tidak memberikan tempat kepada penindas dan eksploitator,
Pembebasan yang dilakukan seniman tersebut merupakan upaya untuk meningkatkan harkat kemanusiaan, menghapus kejahatan, mengakhiri penindasan dan ekspolitasi di muka bumi ini. Memperjuangkan kebenaran di tengah-tengah persoalan kehidupan yang ruwet dan kompleks, harus memiliki keberanian dan bebas melakukan sesuatu yang sesuai dengan konteks lingkungannya.
Hakekat seni dalam hal ini merupakan ekspresi dari kebutuhan manusia untuk memperoleh kehidupan yang selaras dan lengkap untuk mendapatkan hak-haknya yang telah dirampas oleh masyarakat berkelas. Karena itulah protes terhadap realitas, sadar atau tidak, aktif atau pasif, optimis atau pesimis, selalu ditemukan dalam kepingan-kepingan karya yang benar-benar kreatif. Sehingga setiap tendensi baru dalam seni selalu dimulai dengan pemberontakan.
Dari uraian di atas nampak jelas seni sebagai instrumen yang penting dalam memaknai hidup tentunya seni dapat digunakan sebagai candu dan dapat pula sebagai ideologi yang revolusioner. Seni dapat jadi candu atau jadi kekuatan yang revolusioner tergantung pada kondisi sosio-politik yang nyata dan tergantung pada yang hendak bersekutu dengannya, apakah dilakukan bersama kaum revolusioner atau status quo.
***
Berbicara tentang karya seni rupa yang mengangkat persoalan sosial, politik dan kebudayaan tidak lepas dari kepedulian senimannya. Dari gagasan penciptaan, idiom yang dipakai dalam mengekspresikan persoalan tersebut dan sampai pada bentuk aksinya, kita bisa melihat secara keseluruhan. Dari situ kita bisa melihat penjabaran pikirannya, kepedulian terhadap masyarakat, hubungan antara sikap berkesenian dengan sikap hidupnya serta alasan-alasan lain yang berhubungan dengan proses penciptaan keseniannya.
Kepedulian seniman terhadap persoalan yang diangkat akan menunjukkan sampai seberapa jauh seorang seniman terlibat dalam menempatkan persoalan tersebut dalam penciptaan karyanya. Lain halnya seorang seniman yang bersifat karikatif dan tidak mempunyai keinginan untuk ikut menciptakan perubahan terhadap persoalan penindasan, maka yang terjadi dalam menciptakan karya seninya hanya bersikap karikatif atau lebih celaka lagi bersikap manipulatif.
Sebaliknya seorang seniman yang ingin berpartisipasi secara nyata dalam menciptakan perubahan sosial atau kebudayaan, maka ia akan menempatkan masyarakat dalam kedudukan yang sederajat dan bersifat dialogis. Demikian pula dalam proses penciptaannya, masyarakat punya arti penting dan seringkali diberi peran dalam proses penciptaannya. Di sini, seni rupa bukan hanya sebagai karya seni yang hanya sekadar dilihat, tapi diharapkan mampu memberikan kesadaran akan adanya sebuah persoalan kepada masyarakatnya.
Di sini, seni rupa berperan sebagai aksi kebudayaan, adalah proses kerja yang berkesinambungan (tidak instan) membangun kehidupan manusia, sehingga bukan hanya terlpas (merdeka) dari ancaman, sekaligus mengatasi atau memelihara tatanan kosmos. Dengan peranannya tersebut seni rupa tidak lagi berdiri sendiri, harus memiliki keterkaitan dengan berbagai aspek kehidupan. Untuk mengatasi persoalan yang dihadapi, maka seni tidak hanya berupa pertimbangan antara dirinya dengan lingkungan, melainkan juga dengan persesuaian berkelanjutan, atau bahkan perpaduan/ peleburan hidup dan seni.
***
Dari seni rupa pengalaman, pemahaman seni rupa sebagai instrumen pendampingan anak-anak pinggiran, diwujudkan dalam berbagai aksi bentuk kegiatan. Bentuk kegiatannya, selain menggambar, juga membuat karya seni rupa dari bahan yang mudah didapat, seperti pasir, tanah liat, kayu, kertas bekas dan sebagainya. Juga melatih kepekaan mengeksplorasi ruang, seperti membuat kegiatan seni rupa di pantai, hutan, jalan, sungai dan sebagainya. Tujuan utamanya tidak untuk menjadikan mereka sebagai seniman, perajin, juara dan jauh dari kepentingan anak-anak. Tidak pula untuk membangun reputasi keluarga, sekolah, kedaerahan maupun Negara.
Kemunculan seni rupa pengalaman berpijak atas kewajiban terhadap hidup dalam menghadapi kesewangwenangan atau penindasan yang dilakukan manusia, pencemaran lingkungan dan gangguan alam. Seperti peristiwa seni rupa memedi pengusir burung yang hadir di tengah-tengah kehidupan petani. Bisa dikatakan kita semua sering melihatnya, namun tidak banyak yang menggap jika memedi pengusir burung itu merupakan peristiwa kesenian multi dimensi atau gabungan multi disiplin.
Seni rupa memedi pengusir burung yang kita lihat memang sangat sederhana bentuknya. Dibuat dari kayu atau bambu, dirakit menyerupai orang-orangan bertopi dan berpakaian, diletakkan di tengah sawah yang menguning, yang sebelumnya sawah tersebut telah digarap oleh para petani beserta keluarga dan tetangganya.
Selain itu bentuk orang-orangan itu masih dirangkai lagi dengan bentangan tali dari berbagai sudut yang digerakkan di satu tempat. Pada beberapa bentangan tali tersebut dipasang kaleng-kaleng bekas dan juga bentangan-bentangan pita kaset di sela-selanya.
Sehingga dari rangkaian tersebut menimblkan suara atau bunyi-bunyian karena tiupan angin dan digerakgerakkan seorang manusia (petani). Dengan bunyi-bunyian itu petani mengusir serangan beratus-ratus ekonr burung terbang dan berceloteh begitu ganas dari angkasa menuju padi yang siap dipanen.
Suasana lain disaat petani sedang menunggu serangan burung-burung di gubuk tanpa dinding, tempat pengendali memedi pengusir burung. Di sela-sela waktu itu ada yang bersenandung, bernyanyi, berseruling dan berkotekan dengan benda-benda apa adanya. Tanpa mempertimbangkan suara sumbang atau tidak, merambah di setiap sudut sawah yang membentang untuk menghilangkan rasa jemu.
Apa yang dilakukan petani dengan seni rupa memedi pengusir burung adalah upaya untuk menyelamatkan panen. Agar panennya berhasil, melimpah ruah. Dengan keberhasilannya, disertai kebutuhan bersosial, berkumpul membentuk paguyuban – membangun perekonomian mandiri dari sawah, serta membuat mata rantai perdagangan dari desa sampai kota.
Dari paguyuban itu terjadi tukar menukar informasi dan dialog yang semakin lebar. Menyusul kebutuhan rohani, membangun masjid di desa atau surau di depan rumah dan kebutuhan politik lewat pemilihan seperangkat pamong desa, serta kebutuhan pendidikan untuk menyekolahkan anak-anaknya di pesantren (madrasah) atau sekolah umum.
Kembali pada seni rupa pengalaman, yang kemunculannya untuk melakukan pendampingan anak-anak pinggiran. Dikarenakan anak-anak pinggiran adalah juga generasi yang penting dan layak mendapatkannya. Mengingat di masa usia kanaknya mereka sudah menghadapi begitu banyak persoalan yang rumit, kompleks dan berat, serta mempengaruhi perkembangannya di masa datang. Jika dibiarkan saja, mereka sangat mungkin akan menjadi manusia pinggiran dan tertindas sepanjang masa, yang bersifat pasif dalam perkembangan kemanusiaan.
Anak-anak pinggiran yang dimaksud adalah anak-anak yang secara sengaja dijauhkan dari kegembiraan. Entah karena alsan ekonomi, sosial, politik, atau kebudayaan. Mereka kehilangan kemerdekaan dan kesempatan mendapatkan hak-haknya. Sedang menurut Konvensi Hak Anak PBB, seorang anak (orang berusia di bawah 18 tahun), seharusnya hidup dalam kegembiraan, minimal mendapatkan hak atas pendidikan, kesehatan, tempat tinggal, tempat bermain, perlindungan hukum, serta kesempatan berkembang seluas dan sepenuh mungkin sebagai pribadi yang merdeka.
Jadi anak-anak pinggiran juga punya hak yang sama dengan anak-anak lainnya. Namun tidak setiap anak mudah untuk mendapatkannya. Fakta kita sering melihat anak-anak dari latar belakang ekonomi yang tidak menguntungkan. Hidupnya sudah dibebani kebutuhan hidup sehari-hari. Di antara mereka adalah buruh pabrik, perkebunan, perajin di home industri, dan ada juga yang dipekerjakan di tengah lautan. Selain itu ada yang jadi pengamen, pengemis, penyemir sepatu, pedagang asongan, pengais sampah dan ada juga yang dipekerjakan sebagai pelacur.
Sebagian dari mereka ada yang tidak punya tempat tinggal, hidup di jalanan, tidur di emperan toko, stasiun, terminal dan taman. Ada juga yang hidup bersama keluarga di rumah yang kondisinya sangat minim, kumuh, pengap, belum lagi yang hidup di rumah kardus dan gerobak dagang.
Dengan kondisi ekonominya yang tidak jelas, ada yang tidak sempat bersentuhan dengan bangku sekolah sejak usia sangat dini, ada pula yang masih sekolah dengan uang hasil jerih payahnya sendiri. Tentunya mereka sekolah di sekolahan yang sarana dan prasaranya sangat minim dan apa adanya. Sedang untuk mendapatkan sekolah yang memadai sangat mahal baginya.
Dari sudut lain, ada anak-anak pinggiran yang diciptakan oleh berdirinya gedung-gedung megah dan pabrik-pabrik (industri) atas kebijaksanaan pemerintah. Akibat dari bangunan-bangunan tersebut, anak-anak tidak hanya kehilangan tempat bermain, juga kehilangan lingkungan sehat dan bersih. Kehidupannya jadi terancam, karena terjadi pengrusakan atau pencemaran lingkungan yang sangat membahayakan kelangsungan hidup anak itu sendiri.
Di antara semua kemungkinan itu, yang pasti, sebagian besar dari mereka atau bahkan semuanya, adalah korban kekerasan, baik kekerasan yang mereka terima dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan tempat mereka berada, maupun kekerasan sistematik berasal dari negara yang cukup terselubung karena terejawantah di dalam kebijaksanaan- kebijaksanaan yang tidak berpihak pada mereka.
Sehingga anak pinggiran sudah menjadi gejala sepanjang zaman dan mendunia. Di mana mereka berada, bayang-bayang gelap, kotor, jorok dan bergerak liar dalam kenakalan, bahkan kriminalitas setiap waktu selalu mempengaruhinya.
Kalau sudah demikian, apa yang harus diharapkan dari mereka. Jika mereka adalah pewaris negeri, apa yang bisa diberikan untuk generasi mendatang. Sementara bayang-bayang gelap selalu menyelimuti kehidupan sehari-harinya, memberikan pengalaman yang cenderung tidak menguntungkan untuk perkembangan hidupnya.
Dari keberadaan kehidupan mereka itu, pendampingan yang dilakukan mendudukkan mereka bukan sebagai pewaris negeri, melainkan sebagai pemilik negeri. Mereka tidak perlu dibebani nilai-nilai warisan pendahulunya, yang belum tentu cocok untuknya. Bahkan juga semua nilai yang telah diwariskan padanya tidak cocok untuk kehidupannya di hari kelak. Sebagai pemilik negeri, mereka berhak mendapat pendampingan menghadapi ketidakadilan, kekerasan, pemaksaan dan segala bentuk kesewenangwenangan.
***
Seni rupa pengalaman sebagai instrumen pendampingan berfungsi untuk pendidikan laternatif anak-anak pinggiran. Pendidikan alternatif sangat dibutuhkan mereka. Sedini mungkin mereka harus mendapatkannya. Karena pendidikan sendiri tidak bisa dilakukan dengan waktu singkat dan serampangan – menuju suatu dimensi yang sifatnya sama sekali baru dan pembaharu.
Pendidikan alternatif yang dimaksud adalah proses pendidikan yang tidak memberatkan mereka dalam keberadaannya. Pendidikan yang bisa dilakukan di mana saja dengan bahan yang mudah dijangkau dan murah. Seperti menggambar dengan pensil, arang, jelaga, bolpoin, spidol dan seterusnya; menggrafis dengan alat bahan dan teknik sederhana dan terjangkau; membuat wayang kardus; membuat patung dengan pasir dan tanah liat yang mudah didapat di tempat tinggal mereka; membuat topeng dari kertas. Sehingga pendidikan alternatif dapat menjadi solusi persoalan mereka untuk mendapatkan pendidikan yang memadai.
Dalam seni rupa pengalaman, bukanlah mengajarkan bagaimana mengulang-ulang secara mekanis membuat garis lurus, lengkung, patah-patah, lingkaran, kubus, selinder dan kerucut. Kemudian pula menggambar pohon, gunung, sawah, hutan, pasar, stasiun, terminal, taman, tempat parkir, jalan raya, perkampungan, sungai, buah-buahan dan seterusnya. Disusul dengan membuat patung manusia, hewan dan seterusnya. Melainkan bermula dari pemahaman seni rupa sebagai media bermain, adalah bekerja dan berfikir yang memiliki tingkat keseriusan melaksanakan tuntutan dari dalam kehidupan. Prosesnya dimulai dari membangkitkan kesadaran anak-anak akan hak-haknya selaras dengan keberadaan mereka di dunia.
Permainan dalam seni rupa tidak berarti menirukan apa yang telah dibuat pendamping. Cara belajar yang hanya sekadar menirukan memberi kesan bahwa pendidikan semacam ini reaksioner dan menyesatkan, hanya mengejar target anak-anak terampil berkarya, kecenderungannya penyeragaman pola karya dan tidak banyak memberikan keuntungan untuk perkembangan anak-anak sendiri. Jadi anak-anak membuat karya seni rupa tidak hanya sekadar membuat, juga disertai dengan kebutuhan menangkap persoalan-persoalan sosial, politik, dan kebudayaan yang pernah dihadapi atau dilihat, didengar dan dirasakan.
Anak-anak tidak hanya dituntut mampu menghasilkan sebuah karya seni dengan kemampuan dan kepekaan teknis sebagaimana layaknya seorang perupa, tetapi juga harus mampu memahami persoalan-persoalan yang diangkat, serta memahami simbol-simbol rupa yang ditampilkannya dari pertumbuhan kebudayaan setempat, sehingga terasa kentekstual dan komunikatif.
Dalam proses pelaksanaannya, memberikan keyakinan pada setiap anak, bahwa setiap orang punya kemampuan membuat karya seni rupa. Terlebih dahulu mereka tidak perlu dibebani dengan teknik tinggi, sulit dan sempurna. Mereka diberi kebebasan bermain berbagai elemen yang ada dalam seni rupa sampai pada gagasan maupun ideologi yang sesuai dengan kemampuan dan perkembangannya.
Untuk peranan pendamping hanya sebagai pelayan, setiap menawarkan tema pada anak-anak disertai dengan penawaran wacana, serta memberikan suasana dialogis antara anak-anak dengan pendamping, agar terjadi pengembangan- pengembangan pemikiran yang tepat atas tema-tema yang ditawarkan, dengan menyatukan antara teori dan praktek.
Dari proses ini mengharapkan lahir karya seni rupa anak-anak yang memiliki wacana. Juga tidak heran jika di antara mereka ada yang gagal menerima suasana dialogis tersebut, namun tidak perlu diterima sebagai kegagalan, melainkan bagian dari proses yang tidak bisa dilewatkan begitu saja dalam pengajaran yang dialogis dan berkesinambungan.
Jadi pemaknaan seni rupa dengan kata pengalaman adalah sebuah proses kerja kesenian dalam konteks kebudayaan, yang nantinya memberikan pengalaman untuk membentuk jiwa anak-anak. Mengingat tidak ada suatu jiwa yang lahir dari manusia sejak lahir, kecuali pengalamanlah yang membentuk jiwa. Menuju manusia memiliki pandangan subyektif maupun obyektif yang kritis, kreatif, dinamis dan imajinatif. Sebagai bekal di kemudian hari untuk memiliki keberanian menagakkan keadilan, memperjuangkan kebenaran yang selalu berpihak pada kaum tertindas atas dasar konsep harkat kemanusiaan.
***

Di sini, pemahan seni rupa pengalaman yang dimaksud didapat dari keterlibatan langsung sebagai pendamping terhadap anak-anak Kalitidu (Bojonegoro) . Setiap hari Minggu dengan intens melakukan kegiatan seni rupa, secara bersama-sama di ruang terbuka maupun tertutup. Memberikan pada anak-anak ruang bermain, secara bebas lewat seni rupa, untuk mendapatkan haknya sebagai anak.

Kegiatan ini dirintis bertujuan untuk menampung anak-anak yang berlatar belakang ekonomi lemah. Di antara mereka ada yang sekolah dan sebagian tidak. Mereka yang duduk di bangku pendidikan tentunya dalam keadaan terseok-seok dalam membeli buku penunjang maupun buku tulis, bayar les (privat) yang ditentukan sekolah untuk persiapan ulangan akhir semester dan Ujian Nasional. Mereka yang tidak sekolah lebih banyak membantu orang tua mencari kebutuhan hidup sehari-hari.
Orang tua mereka ada yang bekerja sebagai pedagang kecil, sopir colt, ojek, pegawai rendahan, buruh tani, kusir dokar, pekerja serabutan dan ada juga yang tidak jelas pekerjaannya. Kecamatan yang memiliki 24 desa ini daerahnya termasuk tidak subur. Sebagaian besar sawahnya tadah hujan dan sebagian pula, terutama terletak di tepian kali Bengawan Solo, sering di landa banjir di musim hujan. Kebiasaaan buruk yang dilakukan masyarakat di sana adalah banyak yang suka mebermain judi tak mengenal waktu, perselingkuhan dan tidak jarang pula terlibat pencurian kayu jati dan sarang burung wallet. Sedang di sekitar daerah tersebut masih banyak pula memperlakukan anak perempuan sebagai harta karun, dipekerjakan sebagai pelacur.
Kita tidak bisa membayangkan, dengan keberadaan lingkungn yang demikian, apa yang menguntungkan untuk perkembangan anak-anak, dari situ muncul keinginan secara tidak sengaja atau bisa juga dikatakan iseng melakukan pendampingan pada anak-anak dari keluarga yang tidak mampu. Mereka diajak bersama-sama membuat kegiatan yang menarik untuknya.
Awalnya, di saat sama-sama memiliki waktu senggang, mereka diajak mencari katak hijau dan belut di sawah, mencari bekicot di semak-semak dan menjaring ikan di kali. Hasilnya dimasak dan dimakan bersama-sama secara adil, membangun kekompakan dan solidaritas sesama teman.
Berbekal pengalmaan kebersamaan sejak tahun 1987, anak-anak diajak membuat kegiatan yang lebih sulit dan berat, yaitu mencari bonsai di hutan-hutan sekitar daerahnya dengan alat gergaji, linggis, cangkul dan parang. Hasilnya dikumpulkan, lalu dirawat dan dibentuk lewat pendampingan, menjadi berbagai jenis tanaman bonsai, di antaranya bonsai pohon pilang, kawes, asem dan beringin yang bentuknya indah di atas pot yang serasi. Ketika karya taman bonsainya dikumpul banyak, dijual di berbagai kota, hasilnya sebagaian diberikan pada anak-anak dan sebagian disimpan untuk kepentingan kelompok.
Dari modal tersebut pendamping mulai merintis mendirikan sanggar seni rupa (1989), yang tidak mengutamakan kegiatan kerajinan untuk melatih anak-anak mencari uang. Karena kegiatan tersebut tidak menguntungkan sekali untuk perkembangan anak, walau mereka dalam kondisi ekonomi yang terjepit. Kalaupun ada kegiatan membuat karya kerajinan, hanya sekadar untuk menghidupi sanggar yang diperuntukkan kembali kepada anak-anak.
Sejak itu pula anak-anak dikenalkan dengan dunia seni rupa lewat pendampingan. Anak-anak diberi ruang dialog serta diberi peran sebagai pelaku memainkan seni rupa sebagai instrumen, yang digunakan untuk mengungkapkan ekspresi dan aspirasinya, juga perlu didialogkan dengan masyartakat luas, tentang persoalan kehidupan yang dihadapi maupun yang pernah dilihat, didengar dan dibaca.
Begitu gembiranya mereka setiap membuat karya seni rupa. Sepertinya mereka benar-benar menemukan kebebasan dalam berkarya yang sebelumnya tidak pernah didapat dari pelajaran kesenian di sekolah maupun di lingkungannya. Dari kesadaran terhadap realita persoalan kehidupan, dengan sendirinya pada karya seni rupa mereka tidak jarang menemukan kepingan-kepingan persoalan kehidupan. Misalnya, mereka menggambar pasar, tidak lagi hanya menggambar penjual dan pembeli, tetapi juga didaptkan persoalan persoalan di pasar, seperti copet, berkelahi karena persaingan perdagangan, rentenir marah-marah terhadap nasabahnya, pengemis, sampah, becek, dan seterusnya. Begitu juga mereka menggambar nonton teve di rumah, terdapat persoalan ada yang kentut, rebutan remot dan ada yang menghalangi. Selain itu, mereka menggambar orang-orang terleantar di stasiun, kekerasan yang dilakukan aparat keamanan, pencemaran lingkungan, banjir, penjarahan, pengerusakan, kebakaran dan seterusnya.
Dalam mengeksplorasi ruang terbuka, nampak jelas sekali ketika mereka bermain di kali Bengawan Solo, di saat kering di musim kemarau. Pasir kali dibentuk patung penyu oleh mereka, menyebar di sepanjang tepian kali. Ada pula yang mendirikan gubuk tanpa dinding untuk istirahat dan menancapkan penjor-penjor. Setelah itu, di antara mereka ada yang akrobat, petak umpat, bernyanyi dan ada pula yang bermain pasir, membuat bentuk-bentuk sesuka hatinya. Anak-anak beserta alam kelihatan menyatu, kali Bengawan Solo tidak kelihatan seperti bisaanya, melainkan jadi ruang bermain untuk mereka.
Hutan di dekat daerahnya juga dieksplorasi oleh mereka. Tetapi di musim kemarau, hutan dalam keadaan kering kerontang, cabang dan ranting-rainting pepohonan kayu jati meranggas-ranggas menghiasi langit. Anak-anak memasang rambu-rambu larangan membakar hutan, menebang pohon secara liar dan memburu binatang di beberapa phon. Rambu-rambu tersebut dibuat oleh mereka sendiri dengan bentuk gambar yang berbeda-beda, seperti bentuk jenis korek api, alat penebang dan senapan. Selain itu mereka juga membuat burung-burungan dari kertas yang dilipat, dipasang membentang dari pohon ke pohon, terkesan burung-burung terbang di antara batang dan ranting yang meranggas-ranggas, nampak hidup. Sering juga memainkan wayang kardus dari desa ke desa di Bojonegoro. Apa yang dilakukan mereka membangun kepedulian terhadap lingkungan, sebagai rasa tanggung jawab memelihara alam semesta.
Intensitas mereka terjaga dan terpelihara memberikan banyak kemungkinan di luar dugaan. Meskipun kehidupan mereka diselimuti bayang-bayang kegelapan, tercipta rasa gairah hidup. Sepertinya ada sesuatu yang dikejar, keingintahuannya semakin besar terhadap persoalan-persoalan realita yang sedang terjadi. Kebutuhan untuk mendapatkan informasi semakin meningkat, semakin tinggi pula keinginan membaca koran, majalah, buku dan mendapatkan informasi dari teve dan radio. Dari semakin banyaknya mendapatkan informasi dan melakukan dialog, mereka juga hanya berkarya seni rupa, juga di antara mereka ada yang membuat puisi, cerita pendek dan naskah drama. Sebagian dari karya mereka dikirim oleh pendmaping ke media cetak yang menyediakan kolom anak-anak. Di antara mereka ada yang mendapat honor pemuatan karya dari media cetak yang bersangkutan, digunakan untuk menanggulangi kebutuhan sekolah dan sebagian lagi untuk kepentingan bersama.
Pameran atau pagelaran dalam seni rupa pengalaman bukan merupakan bentuk aksi yang final. Tidak ada istilah final dalam seni rupa pengalaman. Bentuk aksinya bisa bermacam-macam, ada yang berbentuk pernyataan, gugatan, demonstrasi, arak-arakan gambar, penempelan gambar di lorong-lorong kampung atau di jalan-jalan, kampanye dan setersunya. Tentunya semua aksi melalui proses kerja dalam konteks kebudayaan, sehingga pengalaman-pengalam nnya menjadi memori yang punya andil besar dalam membentuk sikap dan kepribadian anak mengahdapi persoalan realita. Agar kelak menjadi “orang besar” adalah orang yang benar-benar berani mengorbankan jiwa, raga, harta dan pikiran untuk berpihak pada kaum tertindas dalam rangka menyelesaikan persoalan-persoalan kehidupan yang ruwet dan kompleks.
Bertolak dari pengalaman di atas, seni rupa pengalaman dengan pendampingan berkeinginan melakukan perubahan sosial, pendampingnya tidak hanya membangkitkan kesadaran anak terhadap persoalan-persoalan realita, juga membangkitkan kesadaran menciptakan masyarakat, lewat memperluas pergaulan, membangun jaringan, bekerjasama dengan seniman lain, ilmuwan, budayawan, teknolog, rohaniawan, dan pada siapa saja yang memiliki kepedulian terhadap anak-anak pinggiran. Tujuannya untuk mendapatkan data-data persoalan realita yang diangkat, agar dapat diketahui dengan jelas dan mudah diperjuangkan lewat penciptaan strategi kebudayaan, dari masyarakat seni rupa. Pengalaman ini nantinya mampu melakukan perubahan sosial.
*Saiful Hadjar, Praktisi Kelompok Seni Rupa Bermain (KSRB), Surabaya
(Makalah Diskusi Seni Biennale Jogja IX – 2007)
Senin, 7 Januari 2008 pukul 15.00 wib di Jogja Nasional Museum.

Hp 081 55 095 251

3 Responses

  1. Saya seorang pengamat gambar anak.
    saya memiliki beberapa kesamaan persepsi terhadap kritik gambar anak seperti yang telah ditulis. Gambar anak memiliki kerangka pandang sendiri yang sangat berbeda dengan jenis gambar lain. Saya juga setuju dengan pendapat bahwa pengajaran seni ke anak tidak semata-mata mencetak anak menjadi peniru melainkan bebeas menggunakan berbagai macam media yang mereka sukai. Saya ingin banyak bertukar info tentang kritik gambar anak.

  2. sy mengajar lukis di tk.anak bs menghslkan karya hebat dan ori tnpa beban.kadang sy srh mereka cerita ttg karyanya.dahsyat.mo kontak 08882859264

  3. I had been looking around for this kind of article. May you post some more in future? I will be grateful if you will, honestly!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: