Jangan Lupa Bina Seniman

Tanggapan terhadap Rencana Pemkot Bangun Gedung Kesenian
SURABAYA – Rencana Pemkot Surabaya menyulap kompleks gedung Bioskop Mitra menjadi gedung kesenian representatif sudah lama diimpikan para seniman. Karena itu, mereka berharap pemkot segera merealisasikannya.

“Kami dengarnya sudah lama bahwa Mitra mau dijadikan gedung kesenian. Tapi, pemkot jangan hanya sampai pada keinginan terus. Harus secepatnya direalisasikan,” ujar Manajer Galeri Surabaya Farid Samlan ketika dikonfirmasi kemarin (4/1).

Dia menyatakan, sebagai kota besar, hingga kini Surabaya belum memiliki gedung kesenian yang layak untuk menggelar pertunjukan atau pamer karya sekaligus.

“Gedung Cak Durasim (Taman Budaya Jatim, Red) memang cukup bagus. Tapi, kapasitasnya yang besar membuat kami tidak bisa tampil sesering mungkin. Para seniman harus menunggu gawe besar untuk bisa tampil di sana,” kata Farid.

Dia mengungkapkan, Gedung Cak Durasim berkapasitas 700-1.000 penonton. Untuk gedung pertunjukan tingkat kota, idealnya berkapasitas 200-400 orang.

Farid berharap, setelah jadi nanti, gedung tersebut dikelola secara profesional dan khusus untuk unjuk kesenian. “Jangan dicampur untuk penggunaan komersial lain seperti untuk resepsi pernikahan atau pameran dagang,” tegasnya.

Gedung yang diidam-idamkan adalah gedung yang bisa menjadi jujukan seniman maupun penikmat seni. Karena itu, dia berharap pemerintah mulai membina seniman secara intensif untuk mengisi kegiatan di gedung tersebut. “Jangan sampai gedungnya sudah berdiri megah, tapi senimannya belum siap meramaikan gedung itu,” ujarnya.

Pemkot, kata Farid, perlu menggandeng Dewan Kesenian Surabaya (DKS) untuk intensif membina seniman. Selama ini, pemkot dinilai kurang peka terhadap kebutuhan DKS. Uang pembinaan Rp 2 juta per bulan dari pemkot bagi DKS sama sekali tidak mencukupi kebutuhan untuk pembinaan para seniman. “Jumlah segitu saja sudah dihentikan sejak awal 2007. Bagaimana seniman Surabaya bisa maju?” tegasnya.

Dia mencontohkan dana pembinaan yang diterima Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang mencapai Rp 5 miliar per tahun. Dewan Kesenian Malang mendapat jatah Rp 265 juta per bulan. “Saya rasa, pemkot cukup peka terhadap persoalan ini. Yang jelas, kami senang pemkot berencana membangun gedung kesenian kota. Akan lebih menyenangkan jika senimannya juga dipersiapkan untuk meramaikan gedung itu,” katanya.

Dekan Fakultas Sastra Unair Aribowo sepakat pada pendapat Farid bahwa pembinaan DKS menjadi prioritas pemkot. Mati surinya DKS setahun terakhir, kata dia, disebabkan tidak adanya konsistensi pemkot dalam membiayai program jangka panjang DKS.

“Kalau memang Gedung Mitra mau difungsikan untuk kesenian lagi, hidupkan dulu DKS. Jadwal acara setahun setelah gedung jadi harus sudah jelas, termasuk sumber pendanaannya,” ujarnya.

Dia khawatir, jika pemkot tidak serius membina seniman, usaha membangun gedung kesenian akan sia-sia belaka karena sepi kegiatan. Jika pemkot tidak mampu memberikan suntikan dana secara konsisten bagi DKS, dia berharap pemkot sendiri aktif menggandeng komunitas seni di Surabaya.(uji/ari)

Jawa Pos, Sabtu, 05 Jan 2008

One Response

  1. Moga-moga DKS hidup lagi.Terus Berkarya. Kapan Ya kutoku punya gedung kesenian yang representatif. Wong ada aja belum kok! Pokonya maju terus. Ada gedung berkarya tidak ada ya tetap berkarya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: