Budi Ujianto, Seniman Yang Meninggal saat Mendalang dan Luncurkan Buku

Hidup dan Matinya Didedikasikan untuk Seni

Lelaki ini dikenal memiliki segudang bakat seni. Dikenal baik sebagai perupa, penari, hingga dalang wayang kulit. Akhir hayatnya pun terjadi ketika dia menjadi dalang di halaman Balai Kota Kediri. Terkena serangan jantung persis ketika dia me-launching buku sejarah Kediri yang berjudul ’Banjaran Kadiri’.

SRI UTAMI, Kediri

Rumah bercat oranye itu lebih mencolok dibanding dengan belasan rumah lainnya di sekitarnya. Bukan hanya karena cat rumah yang menyala, tapi karena rumah yang juga dihiasai ornamen ukir-ukiran itu terus dipadati tamu. Pemandangan yang terus terlihat sejak Sabtu, 29 Desember, malam.

Belasan orang, rata-rata mengenakan baju berwarna gelap, keluar-masuk di rumah yang berada di Jalan Wahid Hasyim gang VI Kelurahan Bandarlor, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri tersebut. Mereka ingin mengucapkan belasungkawa atas kematian pemilik rumah yang dikenal sebagai pecinta seni sepanjang hidupnya itu.

Seorang perempuan paruh baya dengan mata yang sembab, terlihat menyambut para tamu yang terus berdatangan. Meski berusaha tegar, Dwi Sutarti, nama perempuan itu yang juga istri mendiang Budi Ujianto, tak bisa menyembunyikan kepedihannya. Terlebih karena ditinggal suami tercinta dengan sangat mendadak Sabtu malam lalu.

“Bapak memang mempunyai riwayat penyakit gula dan jantung. Tapi sudah lama tidak kambuh,” ungkap perempuan yang saat itu memakai baju hitam berkombinasi batik ini.

Perempuan berusia 54 tahun itu juga menemani suaminya di saat-saat akhir. Mulai saat pementasan wayang kulit hingga suaminya dinyatakan meninggal dunia karena serangan jantung, sesaat setelah mendapat perawatan di RS Bhayangkara pukul 23.00 Sabtu lalu.

Ibu dua orang anak ini benar-benar tidak menyangka suaminya pergi untuk selamanya dengan sangat mendadak seperti itu. Sebelum melakukan pementasan wayang, pria yang 7 Februari nanti genap 61 tahun tersebut juga tidak mengeluhkan apa-apa. Semuanya berjalan seperti biasa. Termasuk kebiasaannya meminta air rebusan kencur, minuman favoritnya, sebelum pentas. Tak disangkanya permintaan itu sebagai permintaan terakhir suami tercinta.

Yang lebih membuat Sutarti semakin berduka, kepergian Budi kemarin juga bertepatan ulang tahun perkawinan mereka yang ke-32. Budi juga meninggal sesaat setelah buku berjudul ’Banjaran Kadiri’ yang berisi tentang sejarah Kediri. Buku itu dikerjakan tiga bulan terakhir.

“Kemarin bapak tampak bersemangat menandatangani sekitar 2.000 buku yang akan dibagikan,” terangnya.

Seniman yang memiliki nama lengkap Raden Mas (RM) Budi Ujianto Handoyo Ningrat, di mata keluarganya, adalah sosok yang getol berusaha untuk melestarikan seni jawa. Mulai wayang kulit, ketoprak, tarian jawa, atau bahasa jawa terus berusaha dilestarikannya. Salah satu upayanya adalah membuat paguyuban seni jawa yang bernama ’Ngesti Budaya’.

Budi juga getol mengenalkan budaya jawa hingga ke luar negeri. Lelaki yang pernah menduduki jabatan Kasubdin Pemasaran Pariwisata di Dinas Pariwisata Provinsi Jatim ini pernah melanglang buana ke beberapa negara Eropa.

Almarhum juga berusaha menanamkan kecintaan yang sama pada anak-anaknya. Abidana Wulan Kristanti, 32, dan Bondan Rio Prambanan, 30, dididiknya hingga pintar menari dan mendalang.

Darah seni yang mewaris pada dua anaknya itu yang membuat Sutarti bisa ikhlas menerima kepergian suaminya. Walaupun sempat mengaku terkejut. “Cita-cita bapak adalah melestarikan seni dan sudah tercapai. Saya ikhlas merelakan kepergiannya karena anak-anak bisa menjadi penerusnya,” ungkapnya menerawang.

Bondan, sang anak bungsu, mempunyai kesan tersendiri tentang ayahnya. Sesaat sebelum ayahnya meninggal, Bondan mengaku sempat menasehati ayahnya agar jangan terlalu berkonsentrasi di bidang seni. Sebab, semasa ayahnya masih menjabat Kasubdin Pariwisata Jatim, hampir seluruh waktunya sudah dihabiskan untuk masalah seni.

Mendapat saran tersebut, menurut Bondan, Budi hanya tersenyum. Budi justru mengatakan kalau hidup dan matinya memang didedikasikan untuk seni. “Urip neng seni mati yo neng seni (hidup di dunia seni, mati juga di seni, Red),” ungkap Bondan menirukan jawaban ayahnya.

Tak disangka, ucapan Budi kala itu benar-benar terwujud. Dia meninggal saat sedang melakukan pementasan wayang kulit yang memang sudah digelutinya sejak lama.

Mengenai kematian ayahnya, selain karena serangan jantung, Bondan mengatakan kalau aktivitas ayahnya selama beberapa hari terakhir memang sangat padat. Seminggu terakhir, Budi yang terlibat sebagai tim juri pemilihan Panji-Galuh 2008 memang sangat sibuk. Pada grand ginal Jumat lalu, Budi bahkan pulang sampai larut malam. Sedangkan keesokan harinya harus menandatangani sejumlah 2000 buku ’Banjaran Kadiri’ yang akan di-launching. “Melihat bapak semangat mengerjakannya, kami sebagai anaknya hanya bisa mendukung,” lanjutnya.

Namun, dia tidak menyangka, kalau kepergian bapaknya juga bersamaan dengan saat di-launching-nya buku ’Banjaran Kadiri’ yang juga merupakan hasil karyanya. Seperti yang diucapkan Sutarti, pria yang sudah bisa mendalang sejak SD ini mengaku merelakan kepergian ayahnya. (fud)

Radar Kediri, Senin, 31 Des 2007

Budi Ujianto, Seniman Yang Meninggal saat Mendalang dan Luncurkan Buku

Hidup dan Matinya Didedikasikan untuk Seni

Lelaki ini dikenal memiliki segudang bakat seni. Dikenal baik sebagai perupa, penari, hingga dalang wayang kulit. Akhir hayatnya pun terjadi ketika dia menjadi dalang di halaman Balai Kota Kediri. Terkena serangan jantung persis ketika dia me-launching buku sejarah Kediri yang berjudul ’Banjaran Kadiri’.

SRI UTAMI, Kediri

Rumah bercat oranye itu lebih mencolok dibanding dengan belasan rumah lainnya di sekitarnya. Bukan hanya karena cat rumah yang menyala, tapi karena rumah yang juga dihiasai ornamen ukir-ukiran itu terus dipadati tamu. Pemandangan yang terus terlihat sejak Sabtu, 29 Desember, malam.

Belasan orang, rata-rata mengenakan baju berwarna gelap, keluar-masuk di rumah yang berada di Jalan Wahid Hasyim gang VI Kelurahan Bandarlor, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri tersebut. Mereka ingin mengucapkan belasungkawa atas kematian pemilik rumah yang dikenal sebagai pecinta seni sepanjang hidupnya itu.

Seorang perempuan paruh baya dengan mata yang sembab, terlihat menyambut para tamu yang terus berdatangan. Meski berusaha tegar, Dwi Sutarti, nama perempuan itu yang juga istri mendiang Budi Ujianto, tak bisa menyembunyikan kepedihannya. Terlebih karena ditinggal suami tercinta dengan sangat mendadak Sabtu malam lalu.

“Bapak memang mempunyai riwayat penyakit gula dan jantung. Tapi sudah lama tidak kambuh,” ungkap perempuan yang saat itu memakai baju hitam berkombinasi batik ini.

Perempuan berusia 54 tahun itu juga menemani suaminya di saat-saat akhir. Mulai saat pementasan wayang kulit hingga suaminya dinyatakan meninggal dunia karena serangan jantung, sesaat setelah mendapat perawatan di RS Bhayangkara pukul 23.00 Sabtu lalu.

Ibu dua orang anak ini benar-benar tidak menyangka suaminya pergi untuk selamanya dengan sangat mendadak seperti itu. Sebelum melakukan pementasan wayang, pria yang 7 Februari nanti genap 61 tahun tersebut juga tidak mengeluhkan apa-apa. Semuanya berjalan seperti biasa. Termasuk kebiasaannya meminta air rebusan kencur, minuman favoritnya, sebelum pentas. Tak disangkanya permintaan itu sebagai permintaan terakhir suami tercinta.

Yang lebih membuat Sutarti semakin berduka, kepergian Budi kemarin juga bertepatan ulang tahun perkawinan mereka yang ke-32. Budi juga meninggal sesaat setelah buku berjudul ’Banjaran Kadiri’ yang berisi tentang sejarah Kediri. Buku itu dikerjakan tiga bulan terakhir.

“Kemarin bapak tampak bersemangat menandatangani sekitar 2.000 buku yang akan dibagikan,” terangnya.

Seniman yang memiliki nama lengkap Raden Mas (RM) Budi Ujianto Handoyo Ningrat, di mata keluarganya, adalah sosok yang getol berusaha untuk melestarikan seni jawa. Mulai wayang kulit, ketoprak, tarian jawa, atau bahasa jawa terus berusaha dilestarikannya. Salah satu upayanya adalah membuat paguyuban seni jawa yang bernama ’Ngesti Budaya’.

Budi juga getol mengenalkan budaya jawa hingga ke luar negeri. Lelaki yang pernah menduduki jabatan Kasubdin Pemasaran Pariwisata di Dinas Pariwisata Provinsi Jatim ini pernah melanglang buana ke beberapa negara Eropa.

Almarhum juga berusaha menanamkan kecintaan yang sama pada anak-anaknya. Abidana Wulan Kristanti, 32, dan Bondan Rio Prambanan, 30, dididiknya hingga pintar menari dan mendalang.

Darah seni yang mewaris pada dua anaknya itu yang membuat Sutarti bisa ikhlas menerima kepergian suaminya. Walaupun sempat mengaku terkejut. “Cita-cita bapak adalah melestarikan seni dan sudah tercapai. Saya ikhlas merelakan kepergiannya karena anak-anak bisa menjadi penerusnya,” ungkapnya menerawang.

Bondan, sang anak bungsu, mempunyai kesan tersendiri tentang ayahnya. Sesaat sebelum ayahnya meninggal, Bondan mengaku sempat menasehati ayahnya agar jangan terlalu berkonsentrasi di bidang seni. Sebab, semasa ayahnya masih menjabat Kasubdin Pariwisata Jatim, hampir seluruh waktunya sudah dihabiskan untuk masalah seni.

Mendapat saran tersebut, menurut Bondan, Budi hanya tersenyum. Budi justru mengatakan kalau hidup dan matinya memang didedikasikan untuk seni. “Urip neng seni mati yo neng seni (hidup di dunia seni, mati juga di seni, Red),” ungkap Bondan menirukan jawaban ayahnya.

Tak disangka, ucapan Budi kala itu benar-benar terwujud. Dia meninggal saat sedang melakukan pementasan wayang kulit yang memang sudah digelutinya sejak lama.

Mengenai kematian ayahnya, selain karena serangan jantung, Bondan mengatakan kalau aktivitas ayahnya selama beberapa hari terakhir memang sangat padat. Seminggu terakhir, Budi yang terlibat sebagai tim juri pemilihan Panji-Galuh 2008 memang sangat sibuk. Pada grand ginal Jumat lalu, Budi bahkan pulang sampai larut malam. Sedangkan keesokan harinya harus menandatangani sejumlah 2000 buku ’Banjaran Kadiri’ yang akan di-launching. “Melihat bapak semangat mengerjakannya, kami sebagai anaknya hanya bisa mendukung,” lanjutnya.

Namun, dia tidak menyangka, kalau kepergian bapaknya juga bersamaan dengan saat di-launching-nya buku ’Banjaran Kadiri’ yang juga merupakan hasil karyanya. Seperti yang diucapkan Sutarti, pria yang sudah bisa mendalang sejak SD ini mengaku merelakan kepergian ayahnya. (fud)

Radar Kediri, Senin, 31 Des 2007

One Response

  1. salut ama bapak almarhumah Budi Ujianto, salut tok gak ada yang bisa diungkapkan lagi, selamat jalan, semoga amal ibadahnya di terima disisi Allah SWT, amien

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: