Perjalanan seorang Kritikus

Pentas Teater Institute di Mojokerto
MOJOKERTO – Memasuki ruang pertunjukan pukul 20.00, tampak kritikus Adinan (Buyung Akhirul) sedang duduk termenung dan gelisah dengan membawa tas. Dua lampu menyorot. Penonton mulai memasuki ruangan.

Pertunjukan Teater Institute dengan karyanya yang berjudul Kritikus Adinan ini molor 30 menit dari jadwal semula di Balai Kelurahan Balongsari Jl Empunala, kemarin. Kritikus Adinan merupakan cerpen karya Prof Budi Darma. Terbit lima tahun lalu.

Kritikus Adinan adalah seorang penulis kritik yang kemudian oleh orang dikenal sebagai kritikus Adinan. Ia menulis banyak kritik di berbagai media. Dan tulisan-tulisannya dikagumi banyak orang hingga pada suatu hari petugas pengadilan yang diperankan Tyas dan Nunik, datang ke rumahnya dengan membawa surat perintah dari pengadilan.

Adinan merasa tidak mempunyai urusan dengan pengadilan akan tetapi pada akhirnya ia memenuhi panggilan pengadilan tersebut. Adinan banyak mendapat cerca dari hakim yang diperankan Luxi sehingga dalam ruangan tersebut terjadi perdebatan sengit antara hakim dan Adinan. Adinan yang seorang kritikus membantah keputusan hakim karena dianggap tidak memberi penjelasan tetang kesalahan yang ia perbuat.

Adinan dipaksa untuk pulang. Beberapa hari kemudian datang lagi seorang petugas pengadilan yang membawa surat dari pengadilan tentang surat pembebasan Adinan dari segala tuduhan. Beberapa saat setelah menerima surat pembebasan masalah, datanglah seorang penerbit (Diyan) yang berbaris, kemudian Adinan diundang ke gedung penerbit. Di sana Adinan mendengar suara ibunya dan bercakap-cakap. “Kau anak yang luar biasa Adinan,” kata ibunya.

Pementasan berdurasi enam puluh menit itu pun berakhir. Setelah pentas diadakan diskusi. Ditemui seusai pementasan, kepada wartawan koran ini, M. Misbakh, Biro Seni Drama Dewan Kesenian Kota Mojokerto (DKM) menjelaskan, pentas teater Institute Unesa malam itu merupakan salah satu upaya Biro Seni Drama DKM untuk membuat jejaring teater dengan kelompok dari luar kota.

Sementara itu Abdul Malik, salah satu penonton menambahkan. “Saya tertarik menonton pementasan ini karena menampilkan karya sastrawan besar Budi Darma dan kapasitas Teater Institute yang telah berusia 27 tahun. Terakhir saya menonton pentas Rashomon 14 tahun lalu dalam Pekan Teater Naskah Jepang di Malang,” katanya. (in)

Radar Mojokerto, Minggu, 30 Des 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: