TBJT Jadi Aset Wisata

Festival Kresnayana Di-launching
SURABAYA – Banyaknya hajat seni yang diadakan di Taman Budaya Jawa Timur (TBJT) sepanjang tahun dinilai mampu mengangkat TBJT sebagai salah satu ikon wisata Jawa Timur. Apalagi, tahun depan agenda festival di pusat kesenian di Jl Gentengkali 85 tersebut bertambah satu lagi, yakni Festival Kresnayana yang mulai diperkenalkan pada Jumat (28/12) malam lalu.

Kepala Dinas Pendidikan dan Budaya (P dan K) Jatim Rasiyo mengatakan, wisata budaya memiliki peminat yang cukup besar sehingga memberi ruang bagi TBJT untuk tampil sebagai salah satu tujuan wisata. Apalagi, pemerintah pusat telah mencanangkan kembali program Visit Indonesia Year 2008.

“Selain memberi ruang bagi seniman untuk berkreasi, penggunaan taman budaya secara maksimal memiliki nilai lebih. Yakni, mengangkat budaya Jatim,” katanya saat membuka launching Festival Kresnayana di Pendapa Jayengrogo, TBJT, Jumat (28/12) malam lalu.

Festival yang secara resmi akan dimulai tahun depan itu diharapkan dapat disinergikan dengan agenda festival tahunan yang sudah ada saat ini. “Sebagai fungsi edukasi, penampilan seniman di setiap pentas bisa menumbuhkan rasa cinta terhadap kebudayaan tradisional bagi kalangan generasi muda,” ujarnya.

Festival Kresnayana adalah festival pedalangan yang mengangkat tema tokoh Kresnayana sebagai ikon pewayangan di Jawa Timur. Launching tersebut mendapat sambutan antusias dari masyarakat. Mereka mendapat suguhan sendratari Kresna Duta yang dibawakan Komunitas Tribuana Surabaya dan pergelaran wayang kulit dengan lakon Mutioro Kasaputing Lebu oleh dalang Ki Sukron Suwondo dari Blitar.

Kepala TBJT Pribadi Agus Santoso mengaku senang dengan bertambahnya festival di TBJT. “Ide-ide seniman untuk membuat festival sebisa-bisanya kami tampung. Apresiasi masyarakat yang melihat karya mereka bisa menjadi pemicu semangat untuk terus berkreasi,” tuturnya. Rencananya, festival pedalangan pun akan diadakan rutin setiap tahun seperti Festival Seni Cak Durasim.

Pengangkatan TBJT sebagai ikon wisata budaya Jatim, menurut Agus, merupakan sebuah sanjungan sekaligus sebuah beban. Pasalnya, pengurus TBJT pun harus mampu berlari mengikuti irama kesenian di Jatim. “Kalau bisa, setiap hari ada kegiatan budaya di sini. Jadi, kalau ada yang berkunjung, suguhan seninya selalu tersedia,” ucapnya. (uji/ari)

Jawa Pos, Minggu, 30 Des 2007,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: