McClelland Perankan Nenek Jaka Berek

Latihan pementasan ludruk urban dengan lakon Jaka Berek Nglurug Taman Surya mulai dilakukan kemarin di Gedung Utama Balai Pemuda. Ludruk yang bakal dipentaskan pada malam Tahun Baru itu digarap serius tapi santai.
Bagaimana tidak, lakonnya adalah para tokoh Surabaya yang memiliki segudang aktivitas, sehingga latihan tak bisa tuntas bersamaan. Semua bergantung jadwal pemain.
Kemarin (26/12), dua tokoh yang datang adalah Konsul Jenderal AS di Surabaya Caryn McClelland dan penulis novel Lan Fang. Mereka beradu akting dalam adegan pertama bersama Agus Kuprit yang berperan sebagai Jaka Berek. Caryn berperan menjadi Bude Wongsodrana (nenek Jaka Berek) dan Lan Fang memerankan Dewi Sangkah (ibu Jaka Berek).
“Sebelumnya saya tak pernah melihat ludruk, apalagi bermain di dalamnya. Tapi, saya yakin pementasan ini akan amat menyenangkan,” ujar Caryn sebelum memulai latihan.
Dia menyatakan belum melakukan persiapan apa pun. Dirinya hanya membaca sinopsis cerita yang diberikan panitia seminggu lalu.
Pementasan tersebut memang tak memakai skrip. Koordinator Pentas Tri Broto menjelaskan, para pemain yang telah membaca sinopsis akan diarahkan. Tak diragukan lagi, dalam ludruk urban tersebut, improvisasi amat dibutuhkan. Tri mengaku tak khawatir atas kemampuan akting para “pendatang baru” dunia ludruk tersebut. “Nanti pemain asli bakal menarik mereka,” katanya.
Latihan tanpa skrip kemarin berjalan cepat. Caryn dan Lan Fang berbincang sebentar sebelum beradu peran. Dua pemain tersebut lantas bertemu sang Jaka Berek (Agus Kuprit). Tri Broto sementara menggantikan peran Sukamto Hadi (Sekkota) sebagai Pakde Wongsodrana (kakek Jaka Berek).
Keempat pemain lantas duduk melingkari sebuah meja. Dalam adegan pembuka, tampak Lan Fang dan Caryn saling bersalaman dan beradu pipi, tanda sayang ibu-anak. Setelah itu, barulah Lan Fang sang Dewi Sangkah bercerita kepada ayah dan ibunya soal putranya yang melulu bertanya di mana ayahnya berada dan seperti apa rupanya.
Jaka Berek adalah putra Jayanegara Adipati Anom di Kadipaten Surabaya. Jayanegara mengawini Dewi Sangkah saat dia singgah di Kampung Lama. Setelah Jaka Berek Lahir, Jayanegara kembali ke Kadipaten. Karena itu, mulai bayi hingga dewasa, Jaka Berek tak tahu siapa ayahnya.
Pementasan akan mengisahkan bagaimana Jaka Berek mencari ayahnya. “Aku bingung, Mami, apa yang harus kukatakan? Dia merengek ingin tahu ayahnya. Jaka Berek juga ingin sekolah ke Kadipaten Surabaya,” ujar Dewi Sangkah kepada ibu dan ayahnya.
Caryn yang duduk di tengah memperhatikan seksama penuturan Dewi Sangkah. “Tidak usah diberi tahu saja,” kata Caryn dalam logat asing yang sangat kental.
Tak berselang lama, Jaka Berek datang dan merengek kepada ibu, kakek, dan neneknya ingin bertemu ayahnya. “Tak penting mengetahui siapa bapakmu. Tak usah ke Surabaya, itu kota besar. Lagi pula, bagaimana caranya Anda mencari bapak Anda,” tegas Caryn.
Dewi Sangkah menambahkan, Jaka Berek sebetulnya tak usah bingung ingin melihat wajah ayahnya. “Wong bapakku Jowo, si mbokku Amrik, aku methu Chino ae gak kuatir,” ungkapnya.
Lan Fang sering berdialog dalam bahasa Indonesia dan Suroboyoan. Sesekali dia menarik Caryn masuk dalam dialog.
Tri Broto menyatakan, latihan akan dilakukan hingga sehari sebelum pementasan (30/12). Pemain-pemain lain juga bakal datang ke tempat latihan. Di antaranya, Wawali Arif Afandi, Sawung Jabo, serta Kapolwil Anang Iskandar yang akan berlaku sebagai Tamtama Pregol. Juga, Cak Kartolo yang akan berperan sebagai pengamen kidungan. “Ini ide Wawali untuk memotivasi penikmat ludruk,” jelas Tri.
Menurut dia, dengan disajikan berbeda, ludruk urban tersebut bisa dinikmati berbagai kalangan. Termasuk, mereka yang muda atau warga berlatar belakang kebudayaan yang berbeda.
Hal serupa diungkapkan Caryn. Perempuan yang bakal mendesain sendiri kostum pementasannya itu mengaku merasa terhormat mendapatkan peran tersebut. Meski sedikit nervous, dia mengaku bakal menikmati malam Tahun Baru di Surabaya dengan bermain ludruk. “Saya akan membawa serta orang tua saya sebagai suporter,” ujarnya lantas tergelak.
Kedua orang tua Caryn, Catherine P. McClelland dan Robert C. McClelland, memang sedang berlibur ke Surabaya. Kemarin, keduanya tampak bersemangat melihat putrinya berlatih. Robert bahkan beberapa kali memotret Caryn saat berlatih. “Saya segera terbang ke Jogja, baru kembali pada 30 Desember nanti,” katanya.
Pada hari kedatangan Caryn tersebut, Tri berencana mengadakan geladi bersih bersama seluruh pemain. (ara/nw)

Jawa Pos, Kamis, 27 Des 2007

One Response

  1. Ludruk urban Tontonan langka dan gagasan yang cerdas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: