Gembong Singo Dermo, Duta Kesenian Jaran Kepang Pemkab Malang

Pemainnya Petani, Sepi Job Langsung Turun Sawah
Menjadi seniman kesenian tradisional memang belum bisa dijadikan sandaran hidup. Karena itu pula seni tradisional pun lambat laun terkikis. Itu pulalah yang dialami kelompok seniman Jaran Kepang Gembong Singo Dermo. Grup kesenian yang menjadi duta jaran kepang Pemkab Malang.

Ahmad Yahya
“Kalau pagi begini anggotanya tidak ada di rumah. Sebagian di sawah. Sebagian lagi di bangunan,” kata Hartono singkat mengawali pembicaraan saat ditemui di rumahnya Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau. Hartono adalah pimpinan sekaligus pendiri seni Jaran Kepang Gembong Singo Dermo.
Aktivitas itulah yang selalu dijalankan para pekerja seni tradisional di bawah naungan Gembong Singo Dermo. Maklum penghasilan mereka sebagai pekerja seni di kesenian tradisional belum bisa memberikan jaminan hidup seratus persen. Penghasilannya hanya mengandalkan saat ada job. Karenanya, salah satu cara untuk bisa bertahan hidup adalah dengan mencari penghasilan lain di luar kegiatan kesenian.
Jika hanya mengandalkan dari kesenian tradisional, mereka pun tidak bisa bertahan. Apalagi, berkecimpung di kesenian tradisional juga tidak bisa dijadikan lahan untuk mencari uang. “Motivasinya lebih banyak pada kesenangan dan mempertahankan budaya warisan leluhur. Kalau untuk mencari uang, jelas tidak bisa bertahan,” sambung Hartono.
Di Gembong Singo Dermo juga demikian. Jika ada anggota kesenian ini yang berpikiran mencari uang di seni jaran kepang, maka anggota tersebut tidak akan bertahan lama. Bahkan, sebelum terlanjur, Hartono sebagai pimpinan terlebih dulu minta yang bersangkutan mengundurkan diri. “Itu sudah konsekwensi,” kata pensiunan Perhutani Biro Perencanaan Jawa Timur ini.
Gembong Singo Dermo sendiri merupakan nama organisasi yang berkecimpung di bidang kesenian tradisional di Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau. Salah satu kesenian tradisional di dalamnya adalah jaran kepang. Hingga sekarang kesenian ini memiliki 25 personel. Diantaranya pemain reog, jaran kepang, dan campursari.
Sebenarnya tidak sulit mencari keberadaan kelompok kesenian tradisional Gembong Singo Dermo. Meski tidak ada papan petunjuk sanggar latihan, tetap mudah menemukannya. Maklum, seluruh warga Mulyoagung sudah mengenal mereka. Apalagi kiprah mereka di dunia kesenian tradisional bukan lagi dalam hitungan belasan tahun. Tapi sudah lebih dari dua puluh tahun. Cukup menanyakan warga yang dijumpai di jalanan desa setempat, warga akan dengan mudah menunjukkan lokasinya.
Namun ketenaran nama kesenian ini masih belum diikuti kemudahannya dalam menggali rupiah. Bukan itu saja, selain untuk kebutuhan personel jaran kepang, kebutuhan alat untuk bisa main juga cukup tinggi.
Untuk memiliki satu jenis barongan (pelengkap jaran kepang yang terbuat dari kulit kepala singa) saja Rp 4 juta – Rp 5 juta masih kurang. Belum lagi untuk pembelian ira-iraan atau kepala reog, minimal dibutuhkan uang minimal Rp 9 juta. “Tapi target utama kami bukan itu (uang). Kami lebih mengarah pada pelestarian budaya daerah dan menjalin kekeluargaan,” kata Hartono.
Dia mengakui tidak sedikit kelompok kesenian yang harus gulung tikar karena uang. Tapi, bagi dia, sebenarnya persoalan itu bisa disiasati dengan manajemen keuangan yang baik. Salah satu caranya dengan tidak menghabiskan pendapatan yang diperoleh.
Selain dibagikan pada para pemain, uang juga harus disisihkan untuk pengadaan barang inventaris. “Kami juga memiliki kas yang berguna untuk kesejahteraan anggota. Jika ada yang sakit, menikah, melahirkan, atau kena musibah, baru kami keluarkan. Itu yang bisa menjaga keutuhan kekeluargaan,” jelasnya.
Dia juga mengakui, mempertahankan keberlangsungan kesenian tradisional tidak mudah. Tapi, berkat semangat dan kebersamaan yang dibangun, kesenian tradisional yang didirikan sejak 1984 silam itu hingga kini masih bisa bertahan.
Apalagi pembinaan dari pemerintah juga masih setengah-setengah. Bahkan bisa dibilang nyaris tidak ada. Dulu, ingat dia, sebelum tahun 2000, Gembong Singo Dermo mendapatkan perhatian pembiayaan dari pemerintah. Setiap bulan ada uang pembinaan sebesar Rp 30 ribu. Bantuan itu dirasakan selama kurang lebih lima tahun.
“Meski tidak besar, tapi kami cukup berterima kasih. Karena masih ada perhatian dari pemerintah. Tapi, setelah itu kami tidak pernah mendapatkan pembinaan atau lainnya dari pemerintah,” kata Hartono.
Namun kini, Gembong Singo Dermo seperti memiliki support baru. Telebih lagi sejak 13 Desember 2007 lalu, kesenian ini dinobatkan sebagai duta kesenian jaran kepang Pemkab Malang. Itu setelah memenangkan perlombaan pertunjukan kesenian jaran kepang untuk menyambut peringatan hari jadi Kabupaten Malang meski hingga kemarin uang pembinaan itu belum diterima.
Pardi, salah satu koordinator penata tari Gembong Singo Dermo mengatakan, dirinya tidak bisa hanya mengandalkan kesenian untuk bertahan hidup. Apalagi bagi dia berkesenian merupakan panggilan hati. Di sela-sela kegiatan berkesenian, dia melakukan pekerjaan serabutan.
“Sekarang memelihara burung. Kalau ada panggilan ke sawah, ya ke sawah. Ke bangunan, ya bangunan. Pokoknya apa saja, yang penting halal kami lakukan,” katanya. (*/war)

Radar Malang, Senin, 24 Des 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: