Biennale Jawa Timur 2007, Peta Baru dan Politik Identitas

PADA Idul Fitri yang lalu saya banyak menerima SMS. Isinya bukan ucapan “Selamat Idul Fitri dan Mohon Maaf Lahir Batin”, melainkan berupa gerundelan dari sejumlah perupa terkait dengan Biennale Jawa Timur2007. Siapa saja yang menggerundel, saya tidak tertarik membahasnya. Yang menarik dari gerundelan tersebut justru pikiran di baliknya. Artinya, saya menangkap sinyal bahwa biennale merupakan forum yang dianggap penting untuk merepresentasikan karya-karya terbaik perupa dalam perspektif tertentu. Sebaliknya, manakala si perupa tidak terpilih dalam forum biennale, misalnya, seakan-akan posisi perupa tersebut begitu inferior. Biennale, dengan demikian dimaknai sebagai forum representasi seni rupa yang amat penting. Kalau mereka -setidaknya yang menggerundel itu- tidak punya pandangan semacam itu, sudah pasti mereka akan santai-santai saja jika tidak diundang atau terpilih dalam forum biennale.
Persepsi mereka yang menganggap biennale merupakan ruang representasi praktik seni rupa yang memiliki makna penting, memang wajar. Biennale dalam tradisi seni rupa modern/kontemporer memang telah menjadi ikon penting untuk membaca gejalagejala praktik seni rupa bersama konteks wacana dan kebudayaan yang melingkupinya. Biennale menjadi semacam ruang untuk memahami bagaimana sesungguhnya sebuah konstruk supra dan infrastruktur seni rupa berjalan dan saling berkaitan. Artinya, biennale pada satu sisi berangkat dari sebuah perspektif (ideologi yang mendasari) dan pada sisi lain bersama-sama medan seni (art world) yang ada merepresentasikan “peta baru” praktik dan wacana seni dalam domain kebudayaan secara luas.
Dalam dataran (platform) ini terlihatjelas, peristiwa biennale tidak cukup hanya dipahami dalam lingkup seni rupa saja, tetapi lebih luas pada lingkup kebudayaan. Maka, tidak aneh kalau praktik biennale seperti yang terjadi di negara-negara yang medan seninya relatif mapan, ia menjadi ruang negosiasi dan transaksi kebudayaan. Negosiasi dan transaksi yang terjadi bukan hanya soal nilai, gagasan, medium atau ekspresi, tetapi juga ekonomi dan berbagai implikasi sosial lainnya.
***
Kalau memang demikian, bagaimana kita dapat memahami Biennale Jawa Timur 2007? Jawabannya akan menjadi tidak jelas manakala kita memakai ukuran-ukuran ideal, sebagaimana yang terjadi dalam biennale internasional seperti di Beijing, Venesia, Singapura, Kwangju, dan sebagainya. Biennale Jawa Timur mau tidak mau dipahami melalui batas-batas medan seni yang ada. Medan seni yang dimaksud meliputi berbagai indikator, seperti bagaimana praktik jurnalisme seni selama ini? Bagaimana praktik penulisan kritik seninya? Bagaimana penerbitan jurnal atau media seninya?
Bagaimana political will pemerintah? Bagaimana respons sponsorship? Bagaimana praktik kuratorialnya? Bagaimana riset seni dan kebudayaannya? Bagaimana dukungan lembaga pendidikannya? Bagaimana dukungan infrastruktur pasarnya? Bagaimana kehidupan intelektualitasnya? Bagaimana praktik seni para perupanya?
Kalau sejumlah indikator tersebut belum muncul secara baik, maka peristiwa biennale seolah-olah akan menjadi “proyek budaya” tanpa makna, karena itu keberadaannya sia-sia. Dengan kata lain, penyelenggaraan biennale memerlukan dukungan dan kesiapan penuh indikator-indikator tersebut -dalam bahasa lain medan sosial seni. Biennale CP dan Biennale Bali, misalnya, yang akhirnya tidak jelas kelanjutannya, sebab utamanya adalah minimnya dukungan dan kesiapan medan sosial seni. Lebih jauh, hal ini juga rentetan dari persepsi – para pemegang kekuasaan- yang keliru, bahwa biennale merupakan “proyek rugi”. Para pemegang kekuasaan (politik dan ekonomi) rata-rata tidak melihat, bahwa biennale merupakan ikon untuk mengekplorasi berbagai kepentingan,’dari’politik, ekonomi, sosial, hingga politik identitas.
Seperti yang terjadi di Biennale Singapura dan Biennale Beijing, para pemegang kekuasaan memiliki kesadaran penuh soal politik identitas dalam konteks kebudayaan kontemporer. Kebudayaan ini selalu menawarkan percepatan pemikiran, tindakan, dan hasil yang monumental. Dalam dua biennale internasional tersebut terlihat kuat bagaimana negosiasi dan transaksi yang terjadi di dalamnya bermuara pada sebuah strategi kebudayaan dalam rangka mereposisi identitas di tengah kebudayaan kontemporer, yang progresif dan kapitalistik. Dengan demikian, implikasi sosialnya begitu luas. Tidak hanya terbatas pada soal seni, tetapi soal ekonomi, perdagangan, pariwisata, devisa, pajak, dan sebagainya, menjadi tumbuh subur dan lebih bergairah.
Karena itu, sekali lagi, Biennale Jawa Timur 2007 mesti dipahami dalam proporsi medan sosial seni yang masih jauh dari ideal. Ini belum termasuk kesadaran para pemegang kekuasaan pada soal politik identitas, yang boleh dibilang nol. Biennale Jawa Timur, sekalipun diselenggarakan oleh lembaga pemerintah bernama Taman Budaya Jawa Timur (TBJT), keberadaannya belum mencerminkan kesadaran ke arah politik identitas. Ini tercermin bagaimana sulitnya TBJT mengalokasikan anggaran biennale secara proporsional dan dapat diterima oleh alam pikiran para pemegang kekuasaan. Dengan latar belakang semacam ini, TBJT patut mendapatkan apresiasi – walaupun dengan modal sosial dan kapital sangat terbatas- lembaga ini menilai penting adanya biennale di Jawa Timur.
Biennale Jawa Timur secara konseptual dilatarbelakangi oleh dinamikaperkembangan praktik dan wacana seni rupa di provinsi ini -setidaknya yang berlangsung pada dekade terakhir. Dalam fase ini kita mendapatkan suatu panorama pertumbuhan seni rupa yang cukup signifikan, jika dikaitkan dengan praktik dan wacana seni rupa kontemporer dalam medan yang lebih luas. Uniknya, praktik seni rupa dalam bingkai kekontemporeran menyebar di berbagai daerah Jawa Timur. Mulai dari Banyuwangi di ujung timur hingga Magetan di ujung barat, kita mendapatkan kesan kuat adanya dinamika praktik seni rupa.
Maka, jangan heran, kalau 34 peserta Biennale Jawa Timur kedua ini, berasal dari berbagai daerah: Magetan, Madiun, Ponorogo, Mojokerto, Gresik, Surabaya, Malang, Batu, Pasuruan, dan Banyuwangi. Mereka mengusung beragam karya dari genre seni rupa (visual art) dengan menitikberatkan eksplorasi medium dan ketajaman merespons tema “Alienasi” yang disodorkan kurator. Hasilnya, tidak hanya lukisan, tetapi juga patung, instalasi multimedia, seni video, fotografi, komik, animasi, dan drawing. Ini menunjukkan bahwa dunia seni rupa di Jawa Timur bukan hanya lukisan yangtumbuh, tetapi eksplorasi yang terkait dengan media baru juga bermunculan di sana-sini. Saya yakin, persepsi pengunjung tentang seni rupa di Jawa Timur mau tidak mau perlu di-update.
Pelaksanaan biennale selalu mengandung banyak risiko. Risiko itu, misalnya, bisa berupa sejumlah pertanyaan kritis, seperti bagaimana kurator memilih peserta? Apa kurator tidak berpihak, mengingat kerja kuratorial biasanya menyembunyikan agenda-agenda tertentu? Apa dengan peserta yang dipilih itu telah merepresentasikan perkembangan seni rupa Jawa Timur? Bagaimana mungkin biennale diklaim sebagai agenda penting, kalau biennale itu sendiri tidak berada dalam kesadaran membangun politik identitas? Tetapi, paling tidak, dengan gaya provokasi iklan majalah Tempo, Biennale Jawa Timur “enak dilihat dan perlu”. (*)
*) Djuli Djatiprambudi, Kurator Biennale Jawa Timur I dan II

Jawa Pos, Minggu, 23 Des 2007

One Response

  1. Seniman–>Karya Seni–>Masyarakat, adalah satu kesatuan yang tdk dpt dipisahkan. Yg srg dilupakan oleh komunitas seniman; mungkin karena kurang “menguntungkan”; adalah bagian masyarakat yang namanya pendidikan (guru, siswa). Dibanding bagian masyarakat lainnya yang namanya Kolektor; yg jelas memberikan kontribusi langsung kpd Seniman, Pendidikan memang tidak bisa memberikan kontribusi secara langsung, malah lebih mengarah kegiatan yang bersifat idealis, yaitu ikut memandaikan anak bangsa, yang umumnya tdk banyak orang yg mau berkorban untuk itu. Bagaimana atmosfir kesenian di Surabaya terutama pada motivasi pelajar tidak hanya pada kelompok band saja, tetapi bisa menyenangi kesenian yang lain, lukisan, tari, teater dsb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: