Siti Hatijah; 35 Tahun Mengabdikan Diri di Dunia Tari Tradisional

Pernah Dikirim ke Taiwan, Kembangkan Tari di Beberapa Sekolah
Kiprah dan sepak terjang Siti Hatijah, 46, di bidang tari tradisional Madura memang patut diacungi jempol. Sejak 1972 dia mengabdikan diri di dunia tari tradisional.
AKHMADI YASID, Pamekasan
GEMURUH tepuk tangan membahana di Pendapa Ronggosukowati kemarin siang. Saat itu baru saja ditampilkan tarian tradisional Topeng Gettak. Gemulai sang penari dan keserasiannya dengan alunan musik pengiring, ternyata membuat undangan yang menghadiri perayaan Hari ibu, PKK, Dharma Wanita, dan KB Kesehatan berdecak kagum.
Di deretan depan tampak sejumlah pejabat, seperti Bupati Pamekasan Ach. Syafii, Ketua DPRD Kholil Asyari, Kajari Yusran Lubis, Dandim 0826 Letkol Inf Agus Sumantoro, dan sejumlah kepala dinas dan instansi di lingkungan pemkab. Seakan tak peduli dengan banyaknya pejabat dan undangan yang hadir, sang penari tetap tampil memukau.
Siapakah sebenarnya sang penari itu? Dia Siti Hatijah, 46, salah satu pembina tari-tarian tradisional Madura. Tijah-sapaan akrabnya-memang cukup lama menggeluti tari-tarian tradisional. “Saya kenal tari-tarian tradisional Madura sejak 1972,” tuturnya saat ditemui koran ini sebelum tampil kemarin.
Perempuan yang kini menjadi guru di SDN Larangan Luar III, Kecamatan Larangan, ini mengaku banyak didorong keluarga dalam menggeluti tari-tarian tradisional Madura. Apalagi, kedua orangtuanya memang memiliki darah seni, meski hanya kesenian tradisional, seperti macopat.
Dorongan dari orantuanya diwujudkan dengan cara mengirim Tijah ke STKW (Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta) di Surabaya. Di sanalah Tijah banyak memeroleh ilmu kesenian, terutama kesenian tari. Di STKW pula dia banyak bergaul dengan pekerja seni dari berbagai wilayah di Jawa Timur.
“Sebelum masuk STKW pun saya sudah menari. Sejak saya kecil, mulai dari SD, SMP hingga SMA, memang sudah sering menari. Terutama, menari tradisional,” katanya.
Setelah lulus dari STKW, Tijah semakin matang. Apalagi, saat itu dia bertemu dengan Alimuddin, anggota TNI di lingkungan Kodim 0826 Pamekasan. Suaminya itu memberikan dorongan penuh kepada Tijah di dunia tari tradisional. “Suami saya ikut mendukung saya di dunia tari tradisional,” ungkap Tijah yang mantan anggota Persit (Persatuan Istri Tentara) Kodim 0826 Pamekasan ini.
Suami Tijah memang pernah menjadi anggota TNI. Namun, sejak 2007 terpilih sebagai kepala Desa Laden, Kecamatan Kota Pamekasan.
Karir Tijah di bidang tari tradisional pernah mencapai puncak. Dia dikirim ke Taiwan sebagai kontingen Indonesia khusus kesenian pada acara Pramuka se dunia. “Saya juga pernah dikirim ke Medan dan beberapa wilayah lain di Indonesia. Saya juga pernah mendapat penghargaan saat tampil di Pandaan tahun 1980-an,” tuturnya.
Kini Tijah mulai menularkan ilmunya. Yakni, dengan menjadi pembina tari di beberapa sekolah. Seperti SMKN 3, SMPN 5, SMPN 1, dan beberapa sekolah lainnya. “Sebenarnya, tari itu gampang. Kuncinya hanya pada kelenturan tubuh dan keserasian dengan musik pengiring. Semua orang sebenarnya bisa menari. Hanya bergantung latihan saja,” ujarnya.
Kemarin meski sudah memasuki usia senja, Tijah tetap bisa menunjukkan kemampuan menarinya. Dia membawakan Topeng Gettak yang bercerita tentang seorang satria pemberani saat melawan penjajah Belanda. (*/*)

Radar Madura, Selasa, 18 Des 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: