Kapolwil Tak Jadi Cekal Butet

Kapolwiltabes Surabaya Kombes Pol Anang Iskandar akhirnya meralat pernyataannya yang bakal “mencekal” si raja monolog Butet Kartaredjasa dan lakon Sarimin yang dimainkannya. Orang nomor satu di jajaran kepolisian Surabaya tersebut juga menyatakan tidak akan membubarkan pentas Butet bila tampil di Surabaya lagi.
“Bahkan, saya akan menontonnya,” ucap Anang saat jumpa pers di Mapolwiltabes Surabaya kemarin (17/12).
Anang menegaskan tidak akan memberangus kesenian dalam bentuk apa pun. “Silakan saja mengekspresikan diri dalam bentuk kesenian apa pun,” ucapnya.
Hanya saja, Kapolwil mengingatkan agar pelaku seni mempunyai tanggung jawab secara hukum, moral, dan sosial terhadap karya yang ditampilkan. “Tentu tidak mungkin berlindung di wilayah kesenian, terus bebas mengumbar apa pun,” urai perwira yang pernah menggelar pameran lukisan tersebut.
Anang mengatakan, dirinya sebenarnya mengacungkan jempol terhadap ide, bentuk kesenian, dan gagasan Sarimin. Hanya saja, mantan Kapolrestro Jakarta Timur tersebut menganggap cara penyampaian Butet kurang proporsional dalam memotret citra polisi.
“Memang, saya akui, masih banyak polisi yang nakal dan bermain-main kasus. Tapi, kami juga tengah memperbaiki diri sesuai harapan masyarakat,” ucap Anang. “Kalau Butet menggambarkan polisi seperti buto galak semua, kan kasihan polisi yang benar-benar baik. Tidak bisa digebyah uyah,” imbuhnya.
Anang kemudian mencontohkan banyak dari anggotanya yang tetap bertugas, meski kehujanan dan harus meninggalkan keluarga sekalipun. “Tak jarang, sampai ada anggota yang kehilangan nyawanya dalam bertugas. Itu juga harus diapresiasi dong,” katanya.
Sebagaimana diberitakan kemarin, pentas si raja monolog Butet Kartaredjasa di Gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur, Sabtu malam lalu (15/12) membuat Kapolwiltabes Anang Iskandar berang. Anang yang menyaksikan monolog Sarimin karya Agus Noor itu menyesalkan karena pertunjukan itu tidak layak ditonton masyarakat umum. Monolog tersebut layaknya ditampilkan di depan aparat kepolisian sebagai bagian dari kritik membangun.
Anang sempat mempertanyakan izin pertunjukan Sarimin. “Saya akan evaluasi perizinannya. Tapi, kalau monolog Sarimin ditampilkan lagi di Surabaya, pasti tidak akan saya beri izin,” ujarnya setelah menyaksikan monolog Butet itu.
Seolah mengklarifikasi pernyataannya yang kontroversial soal monolog Butet itu, Anang kemarin perlu meralat dan menjelaskan maksud pernyataannya itu. Anang menganggap bahwa apa yang ditampilkan Butet sangat menyesakkan bagi polisi-polisi yang berusaha baik dan jujur. “Masih banyak anggota saya yang berdedikasi dengan baik dan jujur,” urainya.
Anang mengaku siap becermin atas kritik dari siapa saja, termasuk dari kalangan seniman. Tapi, para seniman, termasuk Butet, juga harus berani becermin. “Mari sama-sama becermin,” sambungnya.
Sementara itu, Butet mengatakan, hak siapa saja untuk tidak sepakat dengan lakon yang dimainkannya. Bagaimana dengan keluhan Kapolwil bahwa lakon itu kurang fair dalam memotret kinerja polisi (karena hanya menampilkan sisi buruk polisi)? “Wah, kalau lakon tentang polisi yang baik itu nanti. Mungkin bisa saja di lakon ke-16 saya nanti,” jawabnya ringan.
Sementara itu, sosiolog Unair Prof Dr Hotman M. Siahaan menilai reaksi Kapolwiltabes terlalu berlebihan. Menurut dia, apa yang ditampilkan Butet dalam Sarimin adalah realitas yang terjadi di masyarakat. “Itulah wajah polisi, masyarakat juga tahu itu,” katanya.
Menurut Hotman, semestinya Anang tahu bahwa penampilan Butet seharusnya dipahami dalam konteks kesenian. Apabila dia memang yakin bahwa cermin polisi tidak “sekejam” yang dipentaskan Butet, maka sebaiknya Anang tak perlu emosional, cukup menunjukkan bukti di lapangan saja.
“Kalau memang mau marah, pengacara juga harusnya marah melihat pertunjukan itu. Juga tokoh-tokoh publik yang diolok-olok seperti Wawali Arif Afandi,” kata pria yang menonton Sarimin pada hari pertama, Jumat (14/12) itu.
Hotman mengatakan, pengacara juga diledek habis-habisan dalam pementasan itu. Bagaimana penegak hukum yang seharusnya menjadi pengayom malah menciptakan penindasan terhadap keadilan.
Hotman berpendapat, daripada mereaksi secara berlebihan, sebaiknya polisi menjadikan cerita Sarimin sebagai bahan diskusi untuk perbaikan ke depan. “Itu lebih bermanfaat dan produktif,” tandas mantan dekan Fisip Unair itu.(ano/ara/ari)

Jawa Pos, Selasa, 18 Des 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: