Joko Sambang di Festival Bengawan Solo

MOJOKERTO – Kisah Kepahlawanan Joko Sambang, mampu diangkat manis oleh Ludruk Karya Budaya pada Festival Bengawan Solo. Cerita khas Mojokerto ini pun memukau penonton bahkan panitia ajang bergengsi yang digelar di Solo 15-17 Desember lalu.
Humas Ludruk Karya Budaya, Abdul Malik mengisahkan, Ludruk karya Budaya berdasarkan undangan yang diberikan Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Pemkot Surakarta ini mendapatkan jadwal tampil pukul 22.10 WIB. Sebelumnya tampil musik Gamelan Bali oleh I Wayan Sadra, Tari piring dari Minangkabau, Tari Denok Deblong dari Semarang.
Tari Remo oleh Cak Soekis membuka panggung Festival Bengawan Solo. Cak Slamet melanjutkan dengan Kidungan Jula Juli. Trio lawak Trubus, Slamet dan Supali membuat ratusan penonton tertawa terbahak-bahak mendengar humor mereka.
Joko Sambang bercerita tentang masa penjajahan Belanda yang sedang mengadakan pembangungan Jembatan Porong melalui program kerja rodi. Setiap lurah wajib mengirim 10 rakyat untuk kerja rodi. Adalah Lurah Bintoro dari Gunung Gangsir,satu-satunya lurah yang menolak mengirim rakyat kepada kompeni Belanda.
Sementara itu lurah Abilowo (Cak Muzet) bersama Carik Bargowo (Gawok) sibuk mengatur siasat untuk menjilat kompeni. Keduanya berinisiatif melaporkan lurah Bintoro agar ditangkap kompeni. Diam-diam lurah Abilowo menaruh hati pada Sutinah (Ririn) istri lurah Bintaro.
Kompeni langsung menangkap lurah Bintoro dan memasukkan dalam penjara, berkat laporan lurah Abilowo dan Carik Bargowo.
Sutinah pergi ke rumah orang tuanya. Bapak (Naswan) dan Ibu nya (Yanti) terkejut melihat kehadiran Sutinah. Selanjutnya mereka bertiga mencari Joko Sambang (Cak Mujiadi Zakaria), putra satu-satunya Lurah Bintoro. Sutinah pun untuk menyerahkan keris pusaka. Joko Sambang sedang bertapa di pertirtaan Jolotundo di lereng Gunung Penanggungan.
Akhir cerita Joko Sambang berhasil mengusir penjajah Belanda dan membebaskan rakyat dari kerja paksa. Penampilan Trubus dan Slamet sebagai kompeni sekali lagi membuat penonton terpingkal-pingkal.
Agung Priyo Wibowo, salah satu panitia Festival Bengawan Solo 2007 menyatakan kekagumannya pada gaya lawak trio Slamet, Trubus, Supali. “Saya semakin yakin bahwa ludruk merupakan benteng kesenian terakhir yang harus dijaga di wilayah Jawa Timur,” katanya.
Usia ludruk Karya Budaya yang telah mencapai 38 tahun juga merupakan pertimbangan khusus dari panitia bagaimana sebuah kelompok kesenian tradisi masih dapat bertahan sampai hari ini.
Di sela-sela pentas, Cak Edy Karya, pimpinan ludruk Karya Budaya, yang saat ini berada di tanah suci menanyakan kabar penampilan Karya Budaya kepada beberapa pemain Karya Budaya.
Pukul 00.30 WIB ludruk Karya Budaya menutup penampilan Festival Bengawan Solo malam itu. Tiga puluh menit kemudian seluruh pemain ludruk Karya Budaya meninggalkan Taman Sriwedari yang telah berusia 106 tahun. (in/yr)

Radar Mojkerto, Rabu, 19 Des 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: