Kikis Seniman Gaptek

SURABAYA – Ada yang baru dalam Biennale Jatim 2007 yang dibuka tadi malam (11/12) di Taman Budaya Jawa Timur. Delapan di antara 34 karya yang pada 11-24 Desember itu beraliran seni rupa media baru.
Delapan perupa yang menampilkan karya seni media baru itu adalah Agus Sam (video dokumenter), Benny Wicaksono (video performance dan instalasi), Ahmad Rofiq/Ainaki (animasi), Waluyo Hadi (digital art), Helmi (sound art), Koko Triono (video art), Natsir Amrulah (digital art), dan Astu P. (video art). Mereka dipilih dari ratusan karya seni perupa Jatim yang dinilai tim kurator.
Menurut kurator Biennale Jatim 2007 Djuli Jati Prambudi, kemunculan seni media baru ini sempat dicibir sebagian kalangan seniman. Namun, kemunculannya tidak dapat dibendung di saat teknologi bisa diajak kompromi dan bisa mendukung olah kreatif seniman. “Persoalannya tinggal faktor kedekatan seniman dan perangkat teknologi itu,” kata Djuli kemarin.
Selain perlu penguasaan teknologi, karya seni media baru membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan gagasan yang betul-betul baru. “Mengganti gambar seperti karya seni lukis yang statis menjadi gambar bergerak dengan efek tiga dimensi bukan persoalan gampang,” ujarnya.
Dia menilai, perkembangan teknologi perlu diadopsi oleh seniman untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas. Namun, sampai saat ini, masih banyak seniman yang belum memanfaatkan kemajuan teknologi. “Bahkan, masih banyak seniman yang gaptek (gagap teknologi, Red),” ujarnya.
Karya-karya seni media baru itu memang terkesan masih sampai tahap eksperimental. Namun, itu tidak berarti hasil karya seni tersebut belum jadi. “Mereka baru menyadari bahwa teknologi bisa diajak kompromi,” tuturnya.
Dosen seni rupa Unesa itu menambahkan, pemanfaatan teknologi sebetulnya mampu menambah kemampuan seniman untuk lebih mengeksplorasi ide-ide kreatif. “Karya animasi, misalnya, merupakan contoh perpaduan antara kecanggihan teknologi dan kerja manual. Sebelumnya, komik dikerjakan dengan manual. Namun, setelah ada sentuhan teknologi, gambar komik bisa menjadi lebih nyata dengan format animasi,” jelasnya.
Karya K-Deep Animation Studio berjudul Stick, misalnya. Pesan yang disampaikan di dalamnya lebih mudah ditangkap. Gambar animasi itu menampilkan sesosok anak kecil yang dihadapkan pada tongkat tua nenek moyang. Animasi itu menggambarkan masalah pewarisan budaya wayang yang terancam tereliminasi.
Benny Wicaksono, seniman lain, menampilkan karya berjudul Untitled. Dia menyuguhkan video real time dengan menggunakan CCTV (closed circuit television) dan video mixer. Gambar bergerak yang dipancarkan di layar adalah hasil manual yang dikombinasikan dengan video mixer sehingga timbul gambar-gambar yang tidak bisa dibayangkan sebelumnya. (top/ari)

Jawa Pos, Rabu, 12 Des 2007

One Response

  1. memang sangat di benarkan pemanfaatan teknologi sangat diperuntukkan bagi kreativitas seniman,namun juga perlu di pertimbangkan juga efek samping dari perkembangan tersebut,kesalahan kecil justru dapat mematikan kreativitas seniman itu sendiri.
    amnil yang paling simpel,,, sketsa sekarng jarang di gunakan dalam menentukan proposi object yang akan di gambar. ketrampilan seniman akan mati jika seniman membuat karya sudah mirip seperti mesin foto copy.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: