Mengenal Joko Dwi Prastowo, Pelukis Muda Probolinggo

Pak, Ayo Ngisruh Probolinggo
Kota Probolinggo beruntung punya Joko Dwi Prastowo. Dia seorang pelukis muda berbakat yang memiliki gejolak besar untuk membangun potensi seni di kota mangga ini. Tapi, tak semua keinginan bisa tercapai.
FAMY DECTA M, Probolinggo
Siang itu panas sinar matahari sungguh menyengat di Kota Probolinggo. Tak terkecuali di sebuah rumah di Jalan Argopuro II/5, Perumahan Kopian, Kecamatan Kademangan.Di antara rumah-rumah di sekitarnya, rumah itu terbilang paling beda.
Dari depan, hanya terlihat pintu kayu. Di sampingnya terpampang patung. Di sebelah utaranya ada rooling door yang tertutup rapat. Pintu kayunya dibiarkan terbuka. Ketika masuk di dalamnya, Wah..! menakjubkan. Setumpuk lukisan ada di sana. Ada yang sengaja ditumpuk. Ada pula yang dipajang di tembok ruangan.
Bermacam warna cat yang menetes di lantai, telah mengering. Rumah itu memang bukan rumah orang biasa. Rumah ini ditinggali keluarga pelukis. Yakni pelukis senior Kota Probolinggo Joko Sudarto, dan anaknya Joko Dwi Prastowo.
Hari itu saat ditemui Radar Bromo, tangan, kaos dan celana Dwi belepotan cat air. Paras wajah, postur tubuh dan rambut gondrongnya hampir tak jauh beda dengan sang ayah.
Seperti pepatah buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Bakat melukis yang dimiliki Joko Sudarto menurun juga kepada putranya. “Saya ini seperti kenal sama cewek, semakin dekat dan langsung pacaran lalu dijalani,” katanya mengibaratkan kecintaannya pada dunia seni lukis.
Ternyata bukan hanya Dwi saja yang cinta pada seni lukis. Dua saudaranya pun sama. Joko Sudarto memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya Joko Agung M., Joko Dwi Prastowo dan Diah Gusti Murdiningtyas. Ketiganya senang melukis.
Tapi, tak semuanya serius mengembangkan bakat melukisnya. Si sulung memilih mengambil kuliah Hubungan Internasional di Universitas Jember. Dwi memantapkan diri berkuliah di Institute Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta. Si dara bungsu, mengambil fakultas hukum di Univesitas Gajah Mada.
Jadi, hanya Dwi yang serius mengembangkan bakat melukisnya hingga ke pendidikan formal. “Saya memang ingin mengembangkan potensi yang sudah saya punya. Selain itu masuk ISI sudah menjadi cita-cita sejak kecil,” kata pemuda yang lahir 8 september 1982 lalu itu.
Siapakah sebenarnya Dwi? Dwi mengaku hanya anak seorang seniman. “Saya ini korban keracunan,” ungkapnya sambil tersenyum.
Jangan salah. Keracunan yang dimaksud adalah munculnya darah seni dalam dirinya. Ia pun mengisahkan, sejak balita ia dan dua saudaranya sudah akrab dengan cat dan minyak gas.
Waktu itu, sang bapak tengah melukis di atas kanvas. Karena kecapekan dan mengantuk, akhirnya sang bapak tertidur. Tak lama kemudian Dwi dan kakaknya keluar kamar lalu bermain cat milik bapaknya.
Keduanya saling mencoret wajah menggunakan kuas. Tiba-tiba keributan itu pun terdengar oleh sang ibu, Heri Murdiati. Nah, dari sanalah sang bapak mengetahui kalau anak-anaknya mempunyai bakat dalam bidang seni juga.
“Akhirnya ya malam-malam itu juga saya dan kakak dimandikan ibu pakai minyak gas,” kenangnya. Sejak saat itu sang bapak berpedoman, daripada memberikan uang maka ia memberikan ilmu untuk anak-anaknya.
Setiap hari tiga bersaudara itu diajari melukis dan menggambar. Sampai akhirnya ketiganya sering mengikuti berbagai macam lomba melukis baik tingkat se kota, propinsi maupun nasional.
Dwi masih ingat, satu lomba yang paling berkesan. “Perjuangannya luar biasa,” ujarnya. Saat itu Dwi kecil masih duduk di bangku kelas satu SD. Ketiga bersaudara diajak sang ayah untuk ikut lomba lukis dongeng di Jogja.
Dengan uang pas-pasan dan peralatan seadanya mereka berangkat ke Jogja naik kereta api. Sesampainya di sana, hari sudah malam dan tidak ada tempat bermalam untuk keluarga seniman itu.
Namun semangat yang mereka punya sangat tinggi. Tak kehilangan akal, Joko Sudarto mendatangi sebuah kantor polisi dan memohon untuk bermalam di sana. “Awalnya tidak diizinkan. Tetapi setelah melihat kami bertiga, polisinya setuju,” ujarnya.
Malam itu mereka tidur di gudang yang penuh nyamuk dan tikus. Keesokan paginya mereka berangkat ke lokasi lomba. Bekal tentang apa yang akan dilukis sudah ada di otak mereka.
Lomba ini bertema dongeng dalam rangka hari pahlawan. “Jadi pikiran kita waktu itu sudah mau gambar tank, pasukan dan lainnya,” katanya. Di ruangan tertutup kaca, semua orangtua harus berada di luar.
Tak lama kemudian muncullah Didik Nini Thowok yang mendongengkan cerita Bandung Bondowoso, alias asal muasal candi prambanan. Nah, setelah Didik tuntas bercerita, semua peserta harus melukis apa yang didongengkan.
“Kita ya langsung blank, soalnya jauh dari bayang-bayang semula. Untungnya kita juga sering mendengar cerita wayang, jadi ya berusaha semampunya,” imbuhnya.
Dalam lomba itu, Dwi bersaudara memang sama memperoleh gelar juara. Dwi bahkan berhasil menyabet juara pertama.
Selain itu, Dwi juga pernah merasakan sebuah lomba lukis yang membuatnya sangat kesal. Gara-gara lomba lukis itu, Dwi terpaksa pindah sekolah. “Karya sudah siap kirim, tapi ternyata pihak sekolah tidak mau tanda tangan dan stempel. Saya tidak tahu apa permasalahannya,” kisahnya.
Karena ingin karyanya maju dalam lomba tingkat nasional itu, Joko Sudarto memutuskan untuk memindahkan sekolah anaknya. Di mana sekolah itu bisa memberi dukungan penuh atas kemampuan yang dimiliki.
Pantas saja, Dwi kecil sudah tiga kali gonta-ganti sekolah hanya karena terbentur masalah seni dan kebijakan sekolah. “Semoga saja apa yang saya alami tidak menimpa anak lain,” harapnya.
Menjadi anak seorang Joko Sudarto ternyata membuat Dwi dan saudara-saudaranya bingung. Hanya karena menjadi anak seniman, mereka kerap tidak boleh mengikuti lomba lukis atau sering didiskualifikasi. “Kadang tidak adil juga perlakukan mereka,” tutur alumni SMA Negeri 1 Kota Probolinggo ini.
Merasa tak memperoleh perhatian di Probolinggo, tiga bersaudara dan sang ayah sempat memutuskan berkiprah di Surabaya demi mengembangkan bakat dan potensi yang dimiliki. Alhasil, di Surabaya mereka menjadi prioritas dan kemampuannya diperhitungkan.
Bahkan tiga pelukis bersaudara di Probolinggo punya nama di sana. “Kadang kalau ada lomba, kita selalu dijadikan pesaing. Malah ada yang bilang waduh ada Probolinggo,” ucap Dwi sambil mengusap peluhnya.
Dwi sempat mendapatkan tawaran untuk bersekolah di SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa) Surabaya. Dwi menolak karena ia ingin meneruskan ke SMA, lalu bercita-cita ke ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia/kini menjadi ISI Jogja.
Pada 2002, Dwi masuk ke ISI Jogjakarta, memilih fakultas seni rupa jurusan seni murni. Ia dinyatakan lulus pada 2006. Kemudian ia sempat bergabung sebagai pelukis artshop di Bali.
Tapi, kemudian Dwi memutuskan kembali ke rumahnya di Kota Probolinggo. Kalimat pertama yang diutarakan kepada sang bapak adalah,” Pak ayo ngisruh Probolinggo.”
“Ngisruh” yang dimaksud adalah membangunkan para seniman dan pemerintah di Kota Probolinggo yang sedang tertidur. ” Inginnya Probolinggo ramai seni rupa, kalau tidak begitu ya tidak akan pernah tahu potensi di sini,” ujarnya.
Salah satu caranya menyebar “racun” dengan melukis di jalanan seperti yang dilakukan beberapa waktu lalu. Seperti di Bentar, Tongas dan daerah Kelurahan Kopian. Tujuannya agar masyarakat tahu bahwa Probolinggo punya potensi.
“Di Bentar sampai kita berhasil dapat stan. Waktu itu tema lukisannya bunga,” ujarnya. Selain itu menyebar “racun” dengan pelatihan dan pendidikan sosial di alun-alun setiap hari minggu, kegiatan pelatihan gratis yang diharapkan berefek di guru pengajar dan membuat topeng.
Menurutnya, Probolinggo masih belum terbiasa dengan karya idealis. Tapi, masyarakatnya sebenarnya memiliki ketertarikan terhadap karya seni. Baik dari si anak atau orang tua.
“Yen aku pingin Probolinggo terbiasa dengan seni. Mau tidak mau apa yang dilakukan pasti berhubungan dengan seni. Tidak ada ruginya dengan seni, mencintai seni bukan berarti kita menjadi seniman. Kita hanya dituntut untuk kreatif dan tidak gampang putus asa,” imbuhnya.
Sayangnya, Dwi menganggap antara seniman dan pemerintah tidak nyambung. Padahal, potensi seni di kota ini sangat tinggi. “Tidak usah memberi kita uang atau macam-macam. Cukup beri kami support dan promosi. Di sini banya sekali seniman,” katanya kalem dengan nada kejawa-jawaan.
“Tugas kita bersama untuk membangunkan seni di sini, karena sebenarnya banyak daerah lain yang penasaran dengan seni yang kita miliki,” imbuhnya.
Kini, Dwi tengah merintis kembali pengrot (topeng merot) yang akan menjadi ciri khas Kota Probolinggo. Pengalamannya merintis kembali pengrot juga membuktikan tidak nyambungnya seniman dengan pemerintah.
Pernah ia bertemu seorang pejabat di pemkot. Dwi bermaksud mempersembahkan seni pengrot untuk seni rupa khas dari Probolinggo. “Tapi, sama pejabat itu saya malah disuruh buka sablon dan stan di RTH (ruang terbuka hijau/taman wisata studi lingkungan). Payah, padahal kita ini kan seniman, bukan pedagang. Di sini kelihatan letak tidak nyambungnya,” kata Dwi. (*)

Radar Bromo, Senin, 10 Des 2007

One Response

  1. mas dwi masih inget ma kuw g???kuw icha….muridnya pak made….

    kuw skr ada dmalang kuw kuliah d ambil sastra inggris…gmana kbarmu mas…
    kita kok misscomunication gini sih….untung akuw g lupa ma kmw…n akuw g mnkin nglupain kmw maz…..

    kmw nya ajah yg lupa am kuw….
    mkin bagus lukisan muw…n g da yg bsa nyamain kmw..
    smangadh ya maz…….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: