Gelisah Sastra Jawa Musnah

SASTRAWAN Jawa gelisah karena ketidakjelasan pembatalan atau pengesahan RUU Bendera, Bahasa, Lambang Negara, dan Lagu Kebangsaan. Salah satu yang diatur dalam RUU itu adalah penggunaan bendera dan bahasa nasional. RUU tersebut dikhawatirkan dapat meminggirkan bahasa daerah, misalnya bahasa Jawa. Salah satu imbasnya, cerita berbahasa Jawa juga terpinggirkan.
“Tanpa ada RUU itu, bahasa Jawa sudah tergerus zaman, apalagi kalau jadi undang-undang. Bahasa daerah bisa musnah,” tegas Bonari Nabonenar, ketua Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS). Bonari mengungkapkan hal itu dalam diskusi Cerita Rakyat Berbahasa Jawa, Masihkah Mendapatkan Tempat di toko buku MagnetZone kemarin (10/12). Dalam diskusi tersebut, Bonari sekaligus membedah 16 buku cerita rakyat Jatim yang di-launching pada 8 September lalu.
Menurut dia, cerita berbahasa Jawa sebenarnya masih mendapatkan tempat di masyarakat. Buktinya, dua majalah berbahasa Jawa terbitan Surabaya, yaitu Panjebar Semangat dan Jaya Baya, tetap eksis. “Pembacanya memang bukan orang Surabaya, tapi di daerah. Ini bukti bahasa Jawa sudah terpinggirkan,” katanya.
Diskusi yang juga diikuti beberapa guru sekolah dasar itu mengungkapkan perlunya bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar di hari tertentu. “Jadi, bukan hanya bahasa asing,” ujar salah seorang peserta.
Bonari menyatakan sepakat dengan usul tersebut. Namun, untuk ranah pendidikan, dia menyebut sangat sulit menembus kebijakan tiap-tiap sekolah. Menurut dia, setiap keluarga sebagai akar pengembangan budaya Jawa memiliki kesadaran untuk nguri-uri bahasa Jawa.
Sastrawan asli Trenggalek itu berharap agar buku-buku cerita berbahasa Jawa, misalnya Baru Klinting, Joko Seger, Asal Usul Suroboyo, dan Asal Usul Pasuruan, terbitan PPSJS dapat menjadi panduan bagi orang tua. Buku tersebut bisa menjadi salah satu referensi untuk memberikan cerita berbahasa Jawa kepada anak-anak.
Seniman alumnus IKIP Surabaya (sekarang Unesa) itu juga menyoroti sepinya seniman yang mau bertahan dengan tulisan berbahasa Jawa. “Bagaimana tidak, honor untuk tulisan berbahasa Jawa hanya sepersepuluh honor tulisan berbahasa Indonesia,” tuturnya. (uji/dos)

Jawa Pos, Selasa, 11 Des 2007

3 Responses

  1. iyo padahal biar boso jowo Kartolo,konco-koncoku seng arek Kalimantan, Sumatra sampek Flores ae seneng …lah nek kartoloan boso indonesia opo yo lucu??

  2. Betul.Bahasa jawa kalau tidak di “”uri2 lagi, utamanya oleh anak2 muda, khawatir akan punah..

    Para kadang monggo pinarak dateng blog jawa http://kawruhjawi.wordpress.com

    matur nuwun

  3. aku ngolek konco sing iso dijak rembugan masalah jowo

    ayo bali marang jawi (jagad wiwitane), jawa (jagad wacanane)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: