Dubes Malaysia Tegaskan Tak Pernah Klaim Kesenian Asal RI

Arifin Asydhad – detikcom
Jakarta – Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Dato’ Zainal Abidin Mahamad Zain menegaskan tak pernah mengklaim kesenian-kesenian asal Indonesia. Reog Ponorogo, lagu Rasa Sayange, dan angklung masuk Malaysia dibawa para pendatang.
Hal ini disampaikan Dato’ Zainal dalam acara Majlis Minum Petang Bersama Media Massa Indonesia di Dewan Serbaguna Kedubes Malaysia, Jl. HR Rasuna Said, Jakarta, Rabu (5/12/2007). Pada kesempatan itu, Dato’ Zainal menyampaikan banyak hal, termasuk kasus-kasus yang terjadi belakangan ini. Dari soal TKI hingga kasus merebaknya tuduhan pengklaiman kesenian-kesenian asal Indonesia.
Lagu Rasanya misalnya, dia menjelaskan bahwa lagu itu bukanlah dinyatakan sebagai lagu Malaysia. “Lagu ini kami gunakan sebagai satu ekspresi untuk menyambut pelancong asing. Lagu itu bukan saja dinyanyikan oleh masyarakat di Indonesia, tapi di Malaysia, Singapura, Brunei, sebelum perang Dunia II,” kata dia.

Mengenai Tarian Barongan, Dato’Zainal juga mengakui memiliki kesamaan dengan Reog Ponorogo. “Kesenian ini memang dibawa masyarakat Jawa Timur yang masuk ke Malaysia sejak 150 tahun lalu,” kata Dato’ Zainal.

Menurut dia, tuduhan bahwa Malaysia mengklaim barongan berasal dari Malaysia merupakan tuduhan yang tidak tepat. “Saya katakan ini dakwaan yang nakal, sehingga kini belum dapat dibuktikan bahwa Malaysia telah mengklaim Barongan berasal dari Malaysia,” tegas dia.

Dato’ juga menjelaskan bahwa Kementerian Pelancongan Malaysia telah mencabut dua tarian yang diduga merupakan milik Indonesia pada 4 Desember 2007 kemarin. Yaitu Tarian Barongan yang dikenal sebagai Reog dan Tarian Ninang Tari Garingging yang diduga berasal dari Sumatera Barat.

Mengenai angklung, Dato’ Zainal juga menegaskan pihaknya juga tidak pernah mengklaim berasal dari Malaysia. “Angklung tekah dubawa oleh masyarakat nusantara yang berhijrah ke Tanah Melayu sejak ratusan tahun. Mereka bebas menggunakan dan memainkan alat musik ini,” ujar dia.

Sementara batik, menurut Dato’, memang kesenian dari Malaysia. “Batik dari Malaysia mempunyai motif atau corak yang berbeda dengan batik di Indonesia. Batik juga didapati di Suriname, Afrika, Thailand, Hawaii, dan sebagainya,” ungkap dia.

Selain membedah kasus kesenian, Dato’ Zainal juga menyampaikan bahwa Malaysia sangat serius menangani kasus lain, seperti kasus tenaga kerja Indonesia yang mendapat aksi kekerasan di Malaysia. Malaysia juga menindak tegas para anggota Rela yang melakukan pelanggaran.

Dato’ Zainal menegaskan bahwa Malaysia ingin terus menjaga hubungan baik dengan Indonesia. Jangan sampai hubungan baik ini dirusak oleh isu-isu sensitif, termasuk isu pembalakan liar, yang dilemparkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

“Tapi, saya bersyukur kita bisa berjaya mengatasinya dengan penuh hikmah dan jalan yang baik. Sesungguhnya Indonesia dan Malaysia merupakan kunci keberhasilan di Asia. Karena itu, kita harus menjaga hubungan baik ini,” kata dia.

Selanjutnya, Dato’ juga meminta media massa Indonesia untuk menyampaikan berita-berita yang bertanggung jawab demi hubungan baik Indonesia dan Malaysia. Malaysia dan Indonesia, meski satu rumpun Melayu, namun ada juga banyak perbedaan, termasuk perbedaan bahasa dan istilah. “Sebagai misal, asli di Malaysia bermakna tradisional, sedangkan di Indonesia bermakna orisinil,” ujar dia. ( asy / asy )

05/12/2007 19:23 WIB

One Response

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: