Suparto Brata dan Bonari Nabonenar, Sastrawan Jawa yang ”Bermukim” di Dunia Maya

Tiga Anak Parto Jadi Teknisi, Layani Curhat Penggemar
Berekspresi lewat kertas dan pena seolah tak cukup bagi Suparto Brata dan Bonari Nabonenar. Maka, dua sastrawan Jawa itu membangun “rumah” di jagat internet. Situs pribadi atau blog yang mereka bangun pun lebih dari sekadar media ekspresi.
DOAN WIDHIANDONO
KETIKLAH nama Suparto Brata pada mesin pencari Google. Maka, akan muncul lebih dari 10.500 item yang memuat kata Suparto Brata. Tentu, tak semua benar-benar berbicara tentang Suparto Brata, sastrawan Jawa kelahiran Surabaya yang sangat produktif itu.

Tampak pada urutan teratas halaman pertama hasil pencarian itu, Suparto Brata menjadi salah satu lema (entry) pada situs jv.wikipedia.org, ensiklopedia bebas berbahasa Jawa. Di situ, Suparto disebut isih turun (masih keturunan) Pakubuwana V. Situs tersebut juga menulis, Suparto klebu sastrawan Jawa modern kang produktif. Dheweke asring nampa penghargaan saka ngendi-ngendi (termasuk sastrawan Jawa modern yang produktif. Dia sering menerima penghargaan dari mana-mana).

Lewat hasil search engine, terlihat pula bahwa Suparto punya dua alamat. Yaitu, http://www.supartobrata.blogspot.com dan http://www.supartobrata.com. Meski punya dua “rumah” di dunia maya, tentu sehari-hari Suparto masih tinggal di rumahnya yang nyata, Rungkut Asri III/12.

Di Rungkut itulah Suparto diwawancarai pada Kamis (22/11) siang. Kala itu, dia memakai polo shirt (kaus berkerah) hitam. Ada garis kuning di bagian kerah dan lengan baju tersebut. Di dada kiri, tampak logo dan tulisan salah satu merek rokok terkenal. Logo dan tulisan itu juga kuning.

Yang membuat baju itu terasa lain adalah secarik kain hitam berukuran sekitar 5 x 15 sentimeter yang dijahit di bagian tengkuk, tepat di bawah kerah. Tulisannya berupa bordiran kuning, http://www.supartobrata.com. Menurut Suparto, dirinya punya lima badge bordiran semacam itu. “Harganya Rp 6 ribu per biji,” ujar pria kelahiran 27 Februari 1932 tersebut.

Suparto memang begitu memaknai situs pribadi tersebut. Lewat situs itu, dia bisa menulis apa saja. Mulai artikel, cerita, kisah-kisah pribadi, hingga berbagai tulisan tentang dirinya yang telah dimuat di berbagai media. Lewat itu pula, dia melayani curhat beberapa penggemarnya.

Misalnya, dalam sebuah e-mail yang bertanya tentang prosedur penerbitan buku. Atau e-mail dari mahasiswa yang ingin meneliti Gadis Tangsi, novel karya Suparto. Pria sepuh itu pun tampak telaten meladeni interaksi dengan fans tersebut.

Bagi Suparto, menulis di internet tetaplah asyik. Meski, dirinya tak mendapat honor dari tulisan yang dia upload. “Informasi yang saya sampaikan dibaca orang. Itulah yang lebih penting. Saya memang membangun itu untuk menyebarkan pikiran,” ungkap penerima The SEA Write Award, penghargaan penulis tingkat ASEAN, 12 Oktober lalu di Bangkok, tersebut.

Adalah Tatit Merapi Brata, putra sulungnya, yang pertama menunjukkan keampuhan situs pribadi di internet. “Dia berjualan kain lewat internet. Eh, tibake yo payu (ternyata juga laku, Red),” ujar pengarang buku Kremil itu.

Pada Desember 2006, tiga di antara empat anaknya lantas membuatkan Suparto situs pribadi. Alamatnya http://www.supartobrata.blogspot.com.

Situs gratisan tersebut berjalan hingga pertengahan tahun ini. “Kata anak-anak saya, di blogspot itu tidak enak. Informasinya bermacam-macam, ada yang tidak bisa dipertanggungjawabkan,” kata putra pasangan Raden Suratman Bratatanaya dan Raden Ajeng Jembawati tersebut.

Karena itu, Suparto lantas membangun http://www.supartobrata.com. Untuk mendapatkan domain “.com” (dot com), dia harus membayar Rp 3 juta per bulan. “Mbayarnya di Jogja. Anak-anak yang tahu. Kata anak saya, kalau banyak yang melihat (situs itu), ada yang pasang iklan,” jelas penerima Rancage, hadiah untuk sastrawan Jawa, Sunda, dan Bali pada 2000, 2001, dan 2005 itu.

Memang, yang merancang dan melakukan maintenance situs tersebut adalah ketiga putra Suparto. “Mereka pintar komputer,” tegas pengarang novel Donyane Wong Culika tersebut.

Tiga putra Suparto itu adalah Tatit Merapi Brata (putra sulung, sarjana Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang), Neo Semeru Brata (putra ketiga, sarjana Teknik Elektro Jurusan Komputer ITS), dan Tenno Singgalang Brata (putra keempat, sarjana Teknik Lingkungan ITS). “Tapi, saya pesan kepada mereka, yang bekerja harus saya,” kata Suparto.

Artinya, Suparto tetap bertanggung jawab menulis dan mengisi situs tersebut. Karena itu, mau tidak mau, dia pun harus tetap aktif berkarya agar situs pribadi tersebut terisi. Namun, itu memang bukan problem. Sebab, meski tanpa situs di internet pun, dia tetap sangat produktif.

Pada usianya yang sudah 75 tahun, setiap hari suami Rara Ariyati (meninggal pada 2 Juni 2002) tersebut tetap aktif. “Setiap hari saya bangun pukul 03.00-04.00. Saya buka komputer dan saya tulis apa saja. Pasti ada yang saya tulis,” katanya.

Siangnya, Suparto pasti membaca buku. “Buku apa saja. Kalau kehabisan buku, saya beli,” ungkapnya.

Memang, meski sudah akrab internet, Suparto masih tidak bisa meninggalkan menulis serta membaca melalui buku. Karena itu, dia tak pernah berburu informasi atau inspirasi dari internet. “Bagi saya, sastra adalah buku,” tegasnya.

Meski sudah sepuh, dia enjoy bersentuhan dengan teknologi terkini. Itu karena petuah Sujono, kakaknya yang berumur 10 tahun lebih tua, sekitar 60 tahun silam. “Katanya, kalau ingin maju, orang harus menguasai teknik,” katanya.

Sang kakak membuktikan hal itu. Sujono belajar teknik rontgen di Eindhoven, Belanda. Dia lantas menjadi teknisi Phillips dalam bidang rontgen pertama di Indonesia.

Suparto sejatinya ingin menekuni bidang eksak. Namun, karena ketiadaan biaya, dia lantas keblasuk (tersesat) menjadi penulis. “Menulis itu sebenarnya pelarian,” jelas alumnus SMAK St Louis Surabaya tersebut.

Meski begitu, Suparto menyadari petuah Sujono bahwa dirinya tak boleh menjauhi teknik. Karena itu, dia pun selalu bersemangat ketika belajar komputer hingga akhirnya biasa malang melintang di jagat internet. “Wong sampai sekarang ini saya masih gaptek. Apalagi, saya ini tak punya banyak bakat. Tapi, saya tidak mau kalah. Itu saja,” tegasnya.

Karena itu, sejak 1996, dia akrab dengan e-mail. Hingga kini, alamat e-mail-nya, sbrata@yahoo.com, masih aktif menjadi peranti berkomunikasi. “Saya bisa ketemu teman yang tinggal di Jerman,” katanya.

Dia pun merasa perlu punya sambungan internet di rumahnya. Sekitar sembilan tahun lalu, dirinya masih berlangganan di salah satu provider internet seharga Rp 60 ribu per bulan. Pada 2002, dia memakai Telkomnet Instan, sambungan otomatis melalui line telepon. “Tapi, sering lambat. Saya lalu ditawari Speedy,” ungkap Suparto yang mengaku koneksi internet tersebut sekarang belum on.

Meski belum terkoneksi dengan internet, dia tetap tak putus berkarya. Sebelum dan bakda subuh, komputer anyar bermerek Dell yang dibeli pada Juni lalu di kamarnya tetap aktif menampung segala olah karyanya.

Tak khawatir karya dijiplak lantaran ditampilkan secara bebas di internet? “Monggo. Pernah ada yang menghubungi saya, ingin mengutip tulisan saya tentang 10 November. Saya bebaskan saja,” ujar pria berkacamata tersebut.

Suparto pun menegaskan, media internet bagi dirinya merupakan salah satu cara menyebarkan pemikiran.

Hal itulah yang juga membuat Bonari Nabonenar membikin bonarine.multiply.com. Blog (berasal dari kata web log, berarti catatan pribadi di internet) itu juga ditautkan (di-link-kan) dengan situs Suparto Brata. “Bagi saya, blog adalah sarana sosialisasi sastra Jawa. Itu juga sebagai dokumentasi dan sarana berkomunikasi,” jelas seniman kelahiran Trenggalek tersebut.

“Bagi orang Jawa, sedulur (saudara) itu mahal,” tegas alumnus jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra IKIP Surabaya (sekarang Unesa) tersebut.

Karena itu, Bonari begitu suka ketika dirinya tiba-tiba dihubungi orang yang baru membaca blog-nya. “Tiba-tiba, ada yang kontak kami lewat e-mail dan sebagainya. Itulah yang mahal,” katanya.

Lewat internet itu juga, dia pernah diwawancarai BBC soal sastra. Dia juga bisa bertemu para buruh migran di Hongkong yang lantas menjadi kawan-kawannya.

Seperti Suparto, Bonari juga meng-upload beragam hal di blog tersebut. Ada yang berupa puisi, artikel, bahkan foto dan lagu. Dia juga merasakan bahwa internet adalah sarana yang cespleng dalam menyebarkan pikiran. “Dalam sebulan, kira-kira ada 400 hit (kunjungan, Red) di blog saya,” ujar pria yang sudah punya situs pribadi di Geocities sejak era 90-an itu.

Memang, jumlah itu terlampau sedikit dibandingkan situs-situs mapan lainnya. Namun, yang lebih bermakna bagi Bonari bukan sekadar hit tersebut. “Wong ada yang membaca saja saya sudah berterima kasih,” kata ketua Peguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya tersebut.

Bagi Bonari, blog tersebut merupakan salah satu usahanya agar sastra Jawa tetap dibaca orang. “Sebab, sastra Jawa itu kalau dijual dalam bentuk buku gak payu,” ujarnya.

Karena itu, dia punya cita-cita besar soal kelangsungan sastra Jawa di internet. Dia ingin bisa menjual buku-buku sastra Jawa di internet dalam bentuk e-book. “Internet itu ibarat ajang (tempat makan, Red). Orang makan bisa di piring, mangkuk, atau cowek. Begitu juga sastra, bisa di buku atau lewat internet,” ungkap pria yang juga aktif berkesenian bersama para buruh migran di Hongkong tersebut.

Bonari mungkin benar. Berkesenian memang tak semestinya dibatasi media. Lewat sarana apa pun, seniman bisa berkiprah maksimal agar karyanya tak muspra (lenyap), agar karya itu tetap bisa diapresiasi banyak orang. (*)

Jawa Pos, Kamis, 29 Nov 2007,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: