Pernah Diprotes karena ”Malingsia”

TUBAN – Para pelaku seni di Tuban dinilai kurang peka terhadap lingkungannya. Selama ini, mereka dianggap hanya diam tanpa melahirkan ekspresi karya seni terkait kondisi sosial politik di daerahnya. “Gugatan” ini Senin (19/11) malam lalu terungkap dalam dialog seni di lantai dua gedung Perpustakaan Daerah Tuban. Dialog jadi gayeng karena dihadiri Yon Wahyuono, pelukis Malang, dan Santoso mantan redaktur rubrik bondet Jawa Pos.
Bambang Lukmantono, pemerhati seni lokal mengatakan, seniman harusnya peka dalam menangkap kondisi lingkungan. Saat sejumlah elemen masyarakat bersikap kritis, idealnya seniman juga melakukan hal yang sama.
Hal berbeda disampaikan Yon Wahyuono. Menurut dia, dalam berkarya seniman Tuban tak harus selalu dipengaruhi lingkungan. Pelukis lulusan IKIP Malang 1978 ini sadar tak semua seniman peka dan berekspresi terhadap lingkungan.
Sikap lebih keras disampaikan Masdibyo. “Skup Tuban terlalu kecil bagi saya. Saya pernah membuat pemerintahan Diraja Malaysia dan rakyat di sana marah dengan lukisan saya berjudul Malingsia,” kata dia yang mengaku lebih menyuarakan kritik ke skup nasional dan bukan lokal. Kritik tersebut sebagai bentuk ungkapan ketidakpuasan Masdibyo atas pencaplokan Pulau Sipadan dan Ligitan oleh negeri jiran itu. (ds)

Radar Bojonegoro, Kamis, 22 Nov 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: