Musik Daun Lontar Tampil Memikat dalam Festival Kesenian Pantai Tuban

Karya Ndeso dan Tak Muluk-Muluk
Komunitas Bunyi Genaharjo (KBG) Tuban kembali menjadikan daun lontar untuk mengapresiasikan seni musik. Termasuk, saat tampil dalam Festival Kesenian Pantai kemarin (21/11).
DWI SETIYAWAN, Tuban
KICAU burung bersautan setelah hujan reda. Suaranya merdu. Setelah kicau burung-burung itu berlalu, ganti suara kodok terdengar rancak.
Suasana habis hujan itulah yang dilukiskan KBG Tuban dalam Festival Kesenian Pantai di lahan bekas Terminal Baru Tuban. Gambaran suasana ini hanya diekspresikan dengan bunyi-bunyian. Untuk menghayati suasana tersebut dengan khidmat, Iswanto alias Lek To, pimpinan komunitas itu, meminta seluruh penonton memejamkan mata.
“Untuk menikmati suasana yang tercipta dari musik ini, mohon bapak-ibu memejamkan mata,” kata dia dalam prolognya.
Peranti yang digunakan komunitas ini hanyalah potongan daun lontar selebar dua jari. Potongan daun lontar ini ditempel rapat pada mulut-mulut seniman. Mulut tersebut berfungsi sebagai ruang berongga. Saat daun lontar tersebut dipetik salah satu atau kedua ujungnya, maka terdengarlah bunyi yang khas.
Setiap daun lontar sengaja dipotong dengan ukuran berbeda agar menghasilkan bunyi yang tak sama. Saat menggambarkan suasana habis hujan, suara petikan daun lontar tersebut mirip dengan suara kodok. Untuk kicau burung, para seniman KBG menggunakan sobekan plastik yang ditiup. Mulut memang menjadi instrumen utama dari komunitas seni ini.
Saat menghadirkan suasana sunyi untuk menggambarkan puisi Pusara dengan Nisan Tanpa Nama karya Rego Subagio, alat musik tambahannya adalah suling yang dimainkan Lek To sendiri. Untuk suara desir angin, para seniman mengganti potongan lontar lebih kecil. Petikannya pun lebih pelan dan lembut.
Bunyi yang kurang lebih sama juga terdengar saat KBG menampilkan karyanya berjudul Di Hamparan Rerumputan dan Lagu untuk Ikan. Dalam judul karyanya yang disebut terakhir, seniman dari Genaharjo, nama salah satu desa di Kecamatan Semanding, itu mengangkat bunyi air yang masuk dalam lubang-lubang yuyu (ketam).
Lek To memang tak pernah menghasilkan karya yang muluk-muluk. Dia memang nyeleneh dan selalu bergaya ndeso. Seluruh karya seni yang dihasilkan selalu terilhami alam sekitar. Begitu juga dengan alat musik yang digunakan. Lontar yang diusung dalam festival tersebut tiap hari dijumpai di sekitar rumahnya.
Karya tersebut adalah kali keduanya dihasilkan seniman yang juga guru SMPN Semanding itu. Tahun lalu, grupnya mengangkat pelepah daun lontar untuk musik tabuhan. Musik ini pun mendapat apresiasi luar biasa dari seniman di Jatim. Lek To dan krunya pun diundang untuk tampil dalam acara Surabaya Full Musik di Taman Budaya.
Selain KBG, festival kemarin juga dimeriahkan penampilan KD2 dari Bojonegoro, Sudra Lamongan, SOH Tuban, dan Jagrah Pacitan. Festival musik ini hanyalah bagian dari festival yang digelar Dinas Pariwisata, Seni, dan Budaya (Disparsenibud) Tuban. Acara tersebut dimulai dengan larung sesaji di pantai, festival layang-layang, membakar ikan, dan lomba cipta cendera mata.
Kasi Objek Wisata dan Promosi Disparsenibud Tuban Sunaryo menyatakan, festival tersebut bertujuan mengangkat seni dan budaya Tuban yang selama ini tak tergali. “Kami berharap festival ini bisa mengangkat sektor kepariwisataan dan kreativitas warga untuk berkarya,” kata dia yang berharap menjadi festival tersebut sebagai agenda tahunan. (*)

Radar Bojonegoro, Kamis, 22 Nov 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: