Dilombakan agar Tak Punah

Makin tersingkirnya kesenian tradisi ludruk masih menjadi fokus keprihatinan Taman Budaya Jawa Timur (TBJT). Karena itu, sudah dua tahun ini panitia Festival Cak Durasim (FCD) mengagendakan lomba tari remo sebagai bagian dari upaya mengangkat kembali ikon kesenian Jatim itu.
Lomba remo untuk anak-anak FCD 2007 dimulai kemarin (12/11) di pendapa TBJT. Sebanyak 27 peserta (13 tahun ke bawah) berdatangan dari berbagai kota. Di antaranya dari Sidoarjo, Nganjuk, Mojokerto, Probolinggo, Bangkalan, dan Surabaya. Mereka dibebaskan menari dalam berbagai gaya.
“Ada beberapa gaya tari remo. Yakni bolet, trisnawati, jugag, Surabayan, dan Sawunggaling. Tapi, pada lomba ini, peserta kami bebaskan memilih gayanya sendiri,” jelas Ketua Panitia Lomba Remo FCD 2007 Dimas Pramuka.
Hari ini dilangsungkan lomba remo untuk tingkat remaja di tempat yang sama. Pada akhir lomba, juri akan mengumumkan Para pemenang untuk tingkat anak-anak dan remaja.
“Lomba remo memang menjadi agenda tahunan FCD, sehingga diharapkan mampu melestarikan tarian itu,” ujar Dimas.
Selain lomba remo, kemarin digelar Por-Campor, salah satu seni pertunjukan Madura, serta pementasan tari Pasar Krempyeng karya koreografer Deasylina da Ary dari Pacitan.
Dalam penampilannya tadi malam di Gedung Cak Durasim, Pasar Krempyeng mendapat perhatian pengunjung. Deasy menampilkannya dengan inovasi kreatif.
Tak sekadar tari atau aksi teaterikal, tapi dia mencoba mengangkat sebuah seni baru di atas panggung. “Ya, saya tak mau menyebutnya tari atau teater, tapi seni pertunjukan, karena saya mengadirkan sebuah pertunjukan yang berjarak sedekat mungkin dengan realita,” ujar alumnus Pascasarjana Instiut Seni Indonesia (ISI) Surakarta itu.
Wujud dari konsepnya adalah membawa suasana pasar krempyeng di atas panggung. Ini ditunjukkan dengan deretan pemain yang sehari-hari terlibat dengan kehidupan di pasar. Dia mendapat inspirasi pasar krempyeng di tempat asalnya, Desa Pelem, Kecamatan Pringkuku, Pacitan.
“Saya membawa rombongan 60 orang. Sebagian besar pedagang di pasar krempyeng. Ada pelajar, guru, pengamen, dan pendukung,” terangnya.
Dia tertarik membuat karya yang sekaligus menjadi tugas akhirnya untuk mendapatkan gelar magister penciptaan seni itu, karena menurutnya, ada unsur pemanggungan dan teaterikal dalam kehidupan pasar.
Hari ini, FCD akan diramaikan penampilan yang tak kalah berkualitas. Di antaranya tari berjudul 23.59 karya Wisnu Hadi Prayitno dari Ponorogo. Tarian ini cukup atraktif, mengingat koreografernya memuja sosok Bujang Ganong yang dikenal hiperaktif dalam seni reog Ponorogo.
Koreografer asal Jogjakarta, Martinus Miroto, juga bakal tampil habis-habisan dengan ekplorasi gerak tariannya berjudul Heads. Menurut peraih gelar Master of Fine Arts (MFA) dari UCLA itu, gerak dalam tari topeng yang akan ditampilkannya bertumpu pada kepala beserta segala fungsinya. Heads akan ditampilkan di Gedung Cak Durasim mulai pukul 20.30. (nar)

Jawa Pos Selasa, 13 Nov 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: