Belajar sambil Nonton Ludruk

SURABAYA – Banyak cara memperkenalkan kesenian tradisional kepada para siswa. Yang dilakukan SMK Ketintang 1, misalnya. Untuk memperkenalkan kesenian ludruk kepada para siswanya, sekolah tersebut kemarin (12/11) memboyong ratusan anak didiknya ke Pulo Wonokromo. Mereka diajak menonton pementasan Ludruk Irama Budaya.
Selain memperkenalkan kesenian ludruk, kegiatan yang dimulai pukul 11.00 itu juga bertujuan untuk mewujudkan kurikulum seni budaya dalam konteks kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP).
Dalam acara nonton bareng tersebut, para siswa tidak hanya duduk-duduk santai, menikmati cerita yang disajikan. Mereka juga harus menyimak baik-baik jalan cerita. Sebab, setelah pertunjukan, mereka akan diberi tugas oleh guru terkait dengan cerita ludruk. “Pertanyaan dalam tugas nanti berhubungan dengan cerita dalam ludruk,” kata Purwijati, guru seni budaya SMK Ketintang 1.
Dia mengungkapkan, para siswa juga diminta membuat ringkasan cerita, watak salah seorang tokoh dalam cerita, dan hal lain yang terkait dengan ludruk. “Dengan melihat ludruk secara langsung, kami berharap agar anak-anak lebih memahami kesenian tradisional Jawa Timur,” imbuhnya.
Di Gedung Ludruk Irama Budaya, saat itu ada sekitar 250 siswa yang menonton. Mereka berasal dari enam kelas. “Sabtu (10/11) lalu, ada siswa dari sembilan kelas yang juga menonton di sini,” jelas Juma’ali, guru seni budaya lainnya di sekolah tersebut.
Meski berhubungan erat dengan kegiatan sekolah, untuk menonton ludruk, para siswa tidak gratis. Mereka juga membayar tiket masuk sebesar Rp 3 ribu. “Baru pertama ini, saya melihat ludruk secara langsung. Ternyata, kesenian tradisional Jatim menarik,” kata Nenes Hardiyanti, siswi kelas X Ak-5.
Tidak hanya Nenes yang baru kali pertama melihat pementasan ludruk secara langsung. Beberapa siswa menyatakan hal senada. Bahkan, mereka juga menyatakan prihatin dengan kondisi gedung tempat pementasan Ludruk Irama Budaya yang sempit, pengap, dan panas tersebut.
“Pemerintah harus peduli dengan keadaan itu. Paling tidak, gedung ini punya ventilasi udara supaya tidak panas,” ujar Nurul, salah seorang siswa. (may)

Jawa Pos, Selasa, 13 Nov 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: