FCD 2007: Kabaret Does Tampil Dua Kali

Miroto Janjikan Karya Spesial
SURABAYA – Sejumlah penampil menyatakan siap mempersembahkan performa terbaik dalam Festival Cak Durasim (FCD) 2007 pada 10-18 November. Keragaman nuansa seni yang mengisi panggung juga dijanjikan memenuhi selera penonton seni metropolis.
FCD 2007 adalah perhelatan ke-8 Taman Budaya Jawa Timur (TBJT). Sebagai atraksi pembuka, ditampilkan kesenian Mongde dari Nganjuk dan Dongkrek dari Madiun. Aksi kesenian yang cukup langka itu lantas disambung tari remo dari SMKN 9 Surabaya.
Gong pembuka hari pertama tersebut adalah penampilan Kabaret Does dari Suriname, Amerika Selatan. Rombongan yang dipimpin Captain Does itu membawakan cerita Lelakone Wong Song Songko Njowo.
Pada hari kedua, mereka kembali tampil dan membawakan lakon One People, One Nation, One Destination.
Kemarin (5/11) rombongan Kabaret Does yang beranggota Argyl Legiman, Amatirsat, Soelijanto Wonosesmito, Rochmani, dan Captain Does sudah mendarat di Jakarta. Sore ini mereka tiba di metropolis. Hari ini hingga 11 November, Kabaret Does menginap di Wisma Seni TBJT.
Salah satu penampilan yang dijanjikan spesial adalah tari topeng Heads karya Martinus Miroto, koreografer Jogjakarta. Ketika dihubungi, salah seorang pemeran dalam film Opera Jawa arahan sutradara Garin Nugroho itu mengatakan, “Inspirasi tarian ini berasal dari ungkapan-ungkapan yang mengandung kata kepala. Seperti kepala udang, kepala batu, atau besar kepala.”
Menurut Miroto, kepala adalah rumah otak dan pemikiran manusia. Karya tersebut memang telah dipentaskan tahun lalu di sejumlah negara, seperti Jerman, Belanda, dan Belgia. Tapi, dia berjanji, di setiap penampilan akan ada perbedaan. Miroto akan menampilkan Heads di FCD 2007 pada 13 November malam di Gedung Cak Durasim.
Selain Martinus Miroto, Deaslyna da Ary dari Pacitan siap membawakan karyanya ke panggung FCD 2007. Kreasi yang diusung alumnus Pascasarjana ISI Surakarta itu akan menampilkan suasana pasar di atas pentas. Dia akan membebaskan para pemainnya yang kebanyakan adalah penjual di pasar untuk berlaku layaknya mereka menjajakan dagangan. Karya Deasylina yang berjudul Pasar Krempyeng bisa disaksikan di Gedung Cak Durasim pada 12 November.
Tidak hanya seni panggung yang bisa dinikmati, sejumlah diskusi juga diadakan. Misalnya, diskusi sastra pada 11 November serta diskusi budaya Suriname bersama Kabaret Does pada hari yang sama.
FCD 2007 juga melibatkan pelajar. Panitia sudah merancang lomba tari remo untuk anak-anak dan remaja serta lomba baca puisi. Pada lomba baca puisi, seleksinya sudah dilakukan di 10 sekolah. Setiap sekolah mengirimkan lima peserta terbaik dari lomba yang telah diadakan di sekolah masing-masing.
Kemarin lomba diadakan di SMAN 6 Surabaya, setelah di SMAN 21 dan SMA Bhayangkari 1. Sekolah-sekolah lain, yakni SMAN 1, 5, 8, 12, dan 14, akan menyusul. “Lomba puisi diadakan untuk menarik minat anak sekolah menyaksikan FCD 2007,” papar Fauzi Salim, koordinator lomba baca puisi antar-SMA. (nar)

Jawa Pos, Selasa, 06 Nov 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: