Kumpul-Kumpul Budaya di Rumah Sirikit Syah

Dapat Pujian, Suparto Brata pun Tersipu
Rumah Sirikit Syah di Perumahan Rungkut Asri, Jumat (2/11) malam, tampak gayeng. Di depan rumah tak berpagar itu terparkir tujuh sepeda motor dan tiga unit mobil. Sekitar 30 orang dari kalangan sastrawan, wartawan, pengamat musik, dan penggerak seni berkumpul di rumah aktivis media dan sastra itu. Ada apa?

ARA ROSSI

Rumah Sirikit yang berarsitektur tropis, ruangan tak banyak sekat, plafon tinggi dengan warna dinding hijau teduh membuat atmosfer kumpul-kumpul malam itu makin nyaman. “Ruang tamu menjadi sebuah tempat pertemuan yang menarik, lebih personal, apalagi makanannya banyak,” komentar Halim H.D., seniman pengelana yang datang khusus dari Solo, disambut tawa dan tepuk tangan.

Selain Halim, acara untuk memberi apresiasi kepada Suparto Brata atas prestasinya meraih SEA (South East Asia) Write Award 2007 itu juga dihadiri sastrawan Budi Darma, Lan Fang, penggurit Budi Palopo dan Widodo Basuki, teaterawan Zaenuri dan Farid Samlan, penyair Mashuri, serta pengamat senirupa Riadi Ngasiran. Ada pula staf ahli Unit Petrolium Kantor Perdana Menteri Brunei Darussalam Agus S. Djamil, pengusaha Henky Kurniawan, serta Direktur Jawa Pos Nany Wijaya.

“Acara kumpul-kumpul ini merupakan titik awal dari pertemuan selanjutnya untuk mengatakan bahwa Surabaya masih ada. Surabaya layak diperhitungkan dalam dinamika kebudayaan,” ujar Sirikit.

Sirikit berharap dialog kebudayaan yang diformat secara sersan (serius tapi santai) seperti malam itu bisa berlanjut secara rutin. Itu semua dimaksudkan agar dinamika kesenian di Surabaya terus berkembang, gagasan-gagasan cemerlang bermunculan, dan kedewasaan dalam berpikir makin terasah.

Sambil menikmati jamuan makan malam, para undangan saling berinteraksi satu sama lain. Satu per satu mereka juga diminta ngudar gagasan (mengemukakan pendapat) tentang bagaimana kebudayaan seharusnya.

“Saya percaya tidak ada kebetulan yang kebetulan,” cetus Lan Fang ketika mendapat giliran bercerita tentang dirinya dan proses kreatifnya sebagai penulis. Dia percaya semua yang berkumpul di rumah Sirikit memang telah digariskan sejak dulu.

Lan Fang kemudian mengungkapkan tentang awal pertemuannya dengan Suparto Brata di TB Toga Mas. Penulis novel Perempuan Kembang Jepun itu menceritakan, salah satu tokoh dalam novel Suparto bernama Fang Fang, seperti namanya (Lan Fang). “Ini bukan sebuah kebetulan kalau kemudian saya jadi akrab dengan Pak Parto,” ujar ibu tiga anak kembar itu.

Lan Fang mengatakan, ada “mitos” seniman Surabaya sulit “mencuat” ke permukaan karena tidak melalui jalan yang benar. Seolah untuk mendapatkan “pengakuan” si seniman harus lewat Jogja atau Jakarta. Klaim atau penilaian seperti itu, katanya, harus ditepis.

Dia lalu mengutip pernyataan novelis Ronggeng Dukuh Paruk Ahmad Tohari bahwa untuk diakui Jakarta tidak cukup hanya dengan mengetuk pintu saja. “Kalau perlu bawa bom, baru dibukakan. Untuk itu, sudah saatnya kita membuat karya yang bisa nge-bom Jakarta,” ujarnya.

Suparto Brata yang malam itu menjadi “pengantin” tampak tersipu setiap kali pembicara memberi ucapan selamat dan pujian atas kerja keras dan jerih payah tak kenal lelah, yang kemudian menghasilkan SEA Write Award 2007 dari Kerajaan Thailand itu. Penghargaan atas buku-buku Suparto tersebut telah diterimakan di Bangkok pada 12 Oktober lalu. “Akhirnya saya diakui juga. Terima kasih semuanya,” ujar Suparta sambil terkekeh.

Penulis novel Dom Sumurup dan Kremil itu kemudian menceritakan bagaimana susahnya berangkat ke Thailand dalam keadaan puasa karena banyaknya “godaan”. “Saya naik Thai Airways kelas bisnis gratis. Di dalam pesawat, setiap beberapa menit selalu ditawari makanan yang enak-enak oleh pramugari. Tapi saya hanya bisa…,” Suparta berkata sambil menggerakkan tangannya menolak tawaran macam-macam makanan dan minuman itu.

Pensiunan pegawai Pemkot Surabaya itu mengakui karena keterbatasan penguasaan bahasa asingnya, dia sering hanya bisa menggunakan bahasa isyarat untuk berbicara dengan kru pesawat atau petugas hotel di Bangkok. Termasuk ketika dia menolak makanan dan minuman karena sedang menjalankan ibadah puasa.

“Ya, aku bolak-balik isone mek ngene iki (Ya, saya berkali-kali bisanya begini saja, Red),” ujarnya lagi.

Suparto sangat berkesan dengan acara kumpul-kumpul di rumah Sirikit Syah malam itu. Dia berharap agar pertemuan “ruang tamu” tersebut tidak berhenti sampai malam itu saja, tapi bisa meluas dan bergilir ke tempat yang lain.

Salah satu pemikiran Suparto yang diajukan malam itu adalah pentingnya kurikulum membaca dan menulis bagi para siswa di sekolah-sekolah. Mambaca dan menulis diyakini dapat menciptakan manusia-manusia kreatif. “Ini obsesi saya,” ujar bapak empat anak itu.

Satu lagi yang membuat betah para tamu Sirikit malam itu. Selain topik yang dibahas menarik, banyak sekali makanan yang disajikan. Mulai makanan berat hingga yang ringan. Minuman dan buah-buahan juga berlebih. Joke-joke dan komentar humor segar ikut membuat malam serasa cepat sekali berlalu. (wek)

Jawa Pos, Senin, 05 Nov 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: