Dalang Madura di Remo Mekkasen

PAMEKASAN-Perayaan Jari Jadi ke-477 Pamekasan dengan titel Rèmo Mekkasen yang digelar kemarin malam berlangsung meriah. Selain dihadiri tokoh dan sesepuh Pamekasan, acara yang digelar di Pendapa Ronggosukowati Jalan Pamong Praja itu juga dimeriahkan dengan penampilan berbagai kesenian khas Madura.
Seperti drama Panembahan Ronggosukowati, seni karawitan anak, maupun pagelaran wayang kulit berbahasa Madura. Dari sekian acara yang ditampilkan, drama Panembahan Ronggosukowati (raja Pamekasan pertama) dan pagelaran wayang kulit berbahasa Madura cukup menyita perhatian.
Drama Panembahan Ronggosukowati yang melibatkan lebih dari 25 pemain itu tampil bak suasana kerajaan dahulu kala. Terutama, saat adegan perang para pengikut Ronggosukowati maupun proses penobatannya sebagai raja Pamekasan pertama. Penampilan para pemain yang terlibat memukau penonton. Apalagi, drama tersebut juga diiringi dengan gamelan Madura yang khas.
Gelaran lain yang menarik lagi adalah wayang kulit dengan dalang Novem Ali Sahos Sudirman. Dalang asal Desa Polagan, Kecamatan Galis, Pamekasan, ini membawa lakon Raja Dewa Mènta Nagârâ.
Bupati Pamekasan Ach. Syafii dalam sambutannya mengajak seluruh warga untuk memaknai Hari Jadi ke-477 Pamekasan secara mendalam. Yakni, dengan menjiwai seluruh keteladanan Ronggosukowati. “Peringatan Hari Jadi Pamekasan ini juga merupakan salah satu media pewarisan dan pelestarian nilai-nilai budaya lokal,” katanya.
Pada kesempatan itu, bupati juga menerima risalah pendidikan dari perwakilan mahasiswa Pamekasan yang merupakan hasil pemikiran mendalam menuju Kota Pendidikan.
Seperti diketahui, berdasarkan kalender kegiatan yang disusun panitia, kegiatan memperingati hari jadi ke-477 telah diawali dengan adanya lènglèng trèbung pada 20 Oktober lalu atau bertepatan dengan perayaan Hari Raya Ketupat. Agenda lain yang telah dilaksanakan juga seperti sidang paripurna yang diikuti oleh pejabat pemkab dan DPRD Pamekasan.
Lalu, sebagai bagian dari kalender kegiatan memeringati hari jadi, panitia juga telah menyiapkan pameran budaya dan pembangunan. Menurut rencana, kegiatan ini akan dilaksanakan pada Senin 5 November mendatang di Lapangan Pendapa Ronggosukowati.
Aneka kegiatan lain juga disiapkan panitia. Diantaranya, lomba menulis surat berbahasa Madura kepada bupati di kartu pos khusus pelajar, pekan budaya Madura yang akan ditandai dengan berbusana batik dan berbahasa Madura di berbagai instansi pemerintah, sekolah dan masyarakat.
Selain itu, akan digelar seminar Pra Kongres Bahasa Madura pada 14 November, bakti sosial dengan 1.500 abang becak di Monumen Arek Lancor 5 November, kirab prestasi Pamekasan, dan festival musik ul-daul pada 18 November, hingga acara semaan Alquran pada 30 November. (zid)

Radar Madura, Senin, 05 Nov 2007

 

 

One Response

  1. artikelnya bagus mas. gali terus ya mas budaya madura karena budaya madura emang nggak ada matinya. saya bangga jadi orang madura. bluebutterfly1988.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: