Film Pendek Cak Durasim, Pembuka FCD 2007

cak-durasim-copy.jpgHanya Digarap Sehari, Spanduk pun Dipakai Kostum Festival Cak Durasim (FCD) tahun ini akan istimewa. Selain menampilkan berbagai kreasi seni, Taman Budaya Jawa Timur (TBJT) memberikan apresiasi khusus kepada tokoh legendaris Cak Durasim. Yakni, patung yang siap diresmikan dan film pendek yang diputar saat pembukaan.
M. DINARSA KURNIAWAN
Empat serdadu Dai Nippon menggelandang seorang pribumi yang mengenakan kostum penari remo. Mereka tak henti-henti memukul dan menendang tubuh penari tersebut. Sejurus kemudian, penari itu dimasukkan sel.
Itulah cuplikan adegan dalam film yang menceritakan penyiksaan terhadap seniman Surabaya, Cak Durasim, oleh tentara Jepang. Dia disiksa karena parikannya yang dianggap mengajak masyarakat membangkang kepada Nippon. Parikan yang terkenal sekitar 1945 itu berbunyi, Begupon Omahe Doro, Melok Nippon Tambah Soro.
Secara utuh, film itu menceritakan hari-hari terakhir Cak Durasim sebelum menemui ajal dalam penjara Jepang. Ada tiga adegan yang ditampilkan dalam film arahan sutradara Antok Agusta yang juga pegawai di lingkungan TBJT (Taman Budaya Jawa Timur) tersebut.
Menurut Antok, tak mudah menampilkan sosok seniman ludruk asli Jombang itu dalam gambar bergerak. “Jujur saja, referensi saya untuk membuat film itu sangat terbatas. Salah satunya adalah buku Soerabaia Tempo Doeloe karangan Dukut Imam Widodo,” jelasnya.
Halangan bukan hanya itu. Dana yang terbatas menjadikan film tersebut sangat sederhana, baik dari sisi tampilan maupun pembuatan. Namun, hal itu tak mengurangi kedalaman makna yang disampaikan film yang berdurasi sekitar lima menit tersebut. Dalam film yang akan ditampilkan dalam warna sephia itu juga sengaja tidak ada dialog. Hanya parikan legendaris Cak Durasim tersebut yang diputar sepanjang film. “Bukannya antidialog. Tapi, kalau yang diputar hanya parikannya, yang melihat pasti akan tambah ngenes,” ujarnya.
Antok dan kru hanya melakukan persiapan dua hari sebelum pengambilan gambar pada 1 Oktober lalu. Syuting pun benar-benar hanya sehari, pukul 14.00 sampai sekitar pukul 18.00. Lokasi yang dipilih untuk menggambarkan kesengsaraan Cak Durasim juga masih di sekitar kompleks TBJT, Jalan Gentengkali. Untuk lokasi saat Cak Durasim ngremo dan melantunkan parikan legendarisnya, dipilih panggung di Gedung Cak Durasim.
Lalu, untuk penjara Jepang, dipilih bekas kamar mandi di sebelah timur kompleks TBJT yang memang cocok karena pintunya dilengkapi jeruji. Sementara itu, syuting ruang penyiksaan diambil di Ruang Gamelan. Make-up yang dibubuhkan ke wajah pemeran juga seadanya. Darah yang membasahi baju Cak Durasim dibuat dari saus tomat.
Para pemeran yang dipilih Antok untuk mengisi film itu dipilih dari pegawai di lingkungan TBJT. Salah satunya adalah Daryanto yang memerankan sosok Cak Durasim.
Antok menyatakan, Daryanto dipilih karena sosoknya paling pas dengan ciri-ciri fisik Cak Durasim yang didapatkan dari referensinya. Sementara itu, empat peran pembantu lainnya bermain sebagai serdadu Jepang yang menyiksa Cak Durasim.
Untuk urusan itu, dia mengaku menemui sedikit kesulitan. “Karena pemerannya bukan aktor profesional, mengarahkannya harus lebih sabar. Terutama supaya akting mereka alami,” ungkapnya.
Daryanto, pemeran utama film yang belum diberi judul itu, mengungkapkan, “Sebenarnya tidak susah mendalami karakter Cak Durasim. Cuma, menarinya itu yang agak susah. Tapi, itu bisa diatasi, meski awalnya agak kaku.”
Sebelumnya, Daryanto memang akrab dengan seni, tapi bukan tari, melainkan wayang dan campursari. Tak heran, dia tak menemui kesulitan saat harus melantunkan parikan Bekupon Omahe Doro tersebut. Dia juga baru benar-benar mendapat gambaran jelas tentang sosok Cak Durasim setelah memerankan sang pahlawan seni itu.
Pembuatan film tersebut terbilang lancar, meski Antok dan timnya terpaksa harus melakukan serangkaian improvisasi. Misalnya, ketika adegan Cak Durasim sedang diberi makan di penjara. Sebenarnya, dia menginginkan makanan ditaruh dalam piring seng supaya lebih mewakili zaman itu. Tapi, karena tak menemukan piring seng, akhirnya diputuskan menggunakan piring melamin. Makanan yang akan diberikan kepada Cak Durasim juga belum siap, sehingga kru akhirnya membeli dari PKL yang mangkal di kompleks TBJT.
Lalu, ketika adegan di ruang penyiksaan yang gambarnya diambil di ruang gamelan, Antok merasa ruangan di belakang gedung TBJT itu kurang sangar dan kurang mengerikan. Akhirnya, dia mengomando para kru yang terdiri atas dua orang serta para pemeran untuk mengambil dedaunan kering yang berserakan di lapangan. Di sudut ruangan itu, adegan penyiksaan Cak Durasim pun direkam.
Improvisasi tidak hanya berhenti pada hal tersebut. Kostum yang dikenakan para pemeran juga apa adanya. Tapi, justru karena itu, kostum malah terlihat mewakili zamannya. Misalnya, saat Daryanto harus mengenakan cawat seperti yang lazim digunakan tahanan Jepang pada masa penjajahan. Mereka sempat kerepotan mencari. Lantas, diputuskan menyulap spanduk menjadi celana supermini ala Jepang itu.
Warga yang datang pada pembukaan FCD dan melihat film tersebut diharapkan kian menghargai kiprah Cak Durasim sebagai salah seorang pahlawan yang berjuang di bidang seni. Menurut Antok, selain sebagai bentuk penghormatan atas jiwa patriotisme Cak Durasim, film itu dibuat agar khalayak tahu sosok serta kiprah seniman legendaris tersebut. “Ide pembuatan film itu didapatkan ketika para panitia FCD mengadakan rapat rutin. Dari pertemuan tersebut, akhirnya tercetus ide untuk menyajikan sosok Cak Durasim dalam bentuk film pendek. Sayang kalau patung Cak Durasim hanya diresmikan mentah-mentah,” katanya.
(*)

Jawa Pos, Minggu, 04 Nov 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: