Mengenal Kesenian Bintang Sampurna yang Hampir Punah

Sepi Peminat, Dikalahkah Orkes dan Band
Kini kesenian bintang sampurna jarang tampil di sebuah hajatan. Keberadaan orkes dan band mulai menggeser kesenian rakyat yang pernah jaya itu. Bahkan Sukar Arjo, pendirinya, tidak yakin apakah ada generasi muda yang akan meneruskan kesenian ini.
Famy Decta M,. Probolinggo
Jarangnya pihak yang mengundang kesenian bintang sampurna untuk tampil dalam sebuah hajatan membuat hati Sukar Arjo, pendirinya, terusik. Bukan karena masa kejayaan mereka sudah redup. Lebih dari itu, kini tidak banyak warga yang mengenal kesenian bintang sampurna.
Padahal dulu, kesenian bintang sampurna bisa tampil 5-10 kali dalam sebulan. Bahkan pernah tampil sampai sebulan penuh. Biasanya, tanggapan mencapai puncaknya pada musim orang menikah. Tepatnya sebelum puasa.
“Kita dulu tampil sampai ke Lumajang, Pasuruan, Probolinggo dan kota-kota lainnya. Kalau ada teropan kita hampir selalu dapat tanggapan,” kata Sukar. Sebelum tampil, biasanya semua anggota latihan dulu. Dua hari sebelumnya mereka berkumpul di rumah Sukar untuk menyelaraskan lagu.
Honor yang mereka terima pun cukup besar. Untuk sekali tampil, kelompok Sukar bisa mendapat honor lima kali lipat dari gaji PNS yang diterimanya saat itu. Sukar yang saat itu juga berprofesi sebagai PNS berkisah, pada tahun 1970-an gaji yang diterimanya sekitar Rp 6.000 per bulan.
Sementara kesenian bintang sampurna yang mulai muncul pada tahun 1971 bertarif Rp 30.000 sekali tampil. Uang itu lantas dibagi 17, sesuai jumlah pemainnya. Dengan tarif sebesar itu, sempat ada anggapan bahwa hanya orang kaya yang bisa mengundang kesenian musik ini.
“Uang gajian jadi PNS jaman semono tidak cukup. Jadi lumayanlah nyambi menerima tanggapan. Kalau tidak begitu asap dapur tidak mengepul,” kata bapak yang pensiun pada tahun 2004 ini.
Kini, para pemilik hajatan harus merogoh kocek sebesar Rp 900.000- Rp 1 juta untuk mengundang kesenian bintang sampurna. Dengan tarif tersebut, Sukar dan anggotanya siap tampil mulai pukul 10.00-17.00.
“Pokoknya kita melayani berdasar permintaan tuan rumah. Minta lagu apa saja akan kita nyanyikan,” ujarnya. Lagu-lagu yang ditampilkan pun beragam, mulai lagu lama seperti hitam yang dipopulerkan Rhoma Irama sampai lagu hits saat ini seperti kucing garong.
Sayangnya, sejak tahun 2005 minat masyarakat pada kesenian khas ini menurun drastis.

Bahkan, ada sebagian masyarakat yang tidak mengenalnya. Akibatnya, job teropan terus menurun. Dalam sebulan, kesenian bintang sampurna hanya bisa tampil tiga atau dua kali.
Sukar menduga, kondisi ini disebabkan oleh pergeseran minat warga. Orkes dan band kini menjadi pilihan yang lebih digemari. “Mungkin karena banyaknya hiburan lain seperti orkes dan band. Jadi tidak ada yang berminat dengan kesenian ini,” tuturnya.
Namun Sukar hanya bisa pasrah. Ia bahkan tidak tahu akankah ada yang meneruskan kesenian tersebut. “Semua saya serahkan ke anggota saya. Kalau nanti saya mati apakah mereka mau meneruskan atau tidak,” cetus bapak dua orang anak ini.
Dalam hati kecilnya, Sukar ingin agar anaknya mau meneruskan usaha sampingan ini. Tetapi menurutnya, anaknya lebih suka bekerja dari pada mengurus kesenian tersebut. “Anak saya memang suka tapi hanya sekedar hobi. Sepertinya dia lebih suka kerja di kantornya,” katanya.
Sukar pun menyayangkan minat masyarakat yang lebih tertarik pada hiburan modern dan mengindahkan kesenian tradisional. “Inginnya kesenian ini terus dilestarikan. Tapi kalau tidak ada yang berminat mau bagaimana lagi,” ucapnya pasrah.
Untuk melepas kerinduannya saat tampil dihadapan orang banyak, Sukar selalu memainkan alat musik terompetnya sewaktu senggang. Ia terus melatih kemampuannya meniup terompet. “Saya sudah kadung cinta terompet. Karena ini berawal dari hobby,” celetuknya setelah memainkan lagu berjudul hitam milik Rhoma Irama. (*)

Radar Bromo, Kamis, 25 Okt 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: