Jansen Jasien, Pelukis Sejarah RSU dr Soetomo

Gambarkan Perpindahan RS Simpang hingga Aktivitas di RS Baru
Sebuah lukisan berisi sejarah perjalanan berdirinya RSU dr Soetomo dibuat Jansen Jasien. Bukan sembarang lukisan. Sebab, sebelum melukis, dia juga melakukan riset sejarah. Lukisan itu kini menjadi masterpiece dalam pameran di RSU dr Soetomo.
LUSIE W – NUR AINI
NUANSA berbeda terasa ketika berjalan di selasar utama RSU dr Soetomo. Tak biasanya, lokasi tersebut disulap menjadi tempat memajang lukisan. Untuk membedakan bagian tersebut dengan selasar lain, dipasang untaian janur kuning. Ada 41 lukisan karya Jansen Jasien yang dipajang. Semuanya bertema Surabaya tempo dulu.
Di antara sekian banyak lukisan tersebut, ada satu yang paling menarik minat pengunjung. Yakni, lukisan berukuran 160 x 320 sentimeter yang menggambarkan aktivitas dan sejarah Rumah Sakit dr Soetomo mulai awal berdiri (dulu disebut RS Simpang karena berlokasi di Jalan Simpang, kini Jalan Pemuda, Plaza Surabaya) hingga pindah ke lokasi baru yang ditempati hingga saat ini.
Lukisan tersebut terdiri atas empat bagian atau biasa disebut empat panel. Bagian atas dari panel pertama dan kedua menggambarkan hiruk pikuk aktivitas di Rumah Sakit Simpang yang dulu dikenal sebagai rumah sakit pusat di Jalan Simpang, Surabaya.
Bagian bawah panel menggambarkan sebuah peta dengan jalur yang menandai kepindahan rumah sakit itu. Peta tersebut cukup detail, mulai nama jalan hingga beberapa bangunan yang ada saat itu, semua ditampilkan. Beberapa contoh surat kabar yang memberitakan kepindahan rumah sakit pada 29 Oktober 1938 itu juga digambarkan pada bagian bawah panel pertama dan kedua.
Panel ketiga dan keempat adalah gambaran RSU dr Soetomo di lokasi baru, Jalan Karangmenjangan. Monumen Dr Soetomo yang menjadi tetenger berdirinya rumah sakit itu tergambar jelas di sana. Di belakang monumen tersebut tampak bangunan utama RSU dr Soetomo yang dipenuhi pasien. Sebuah pohon beringin besar yang tumbuh di tengah bangunan utama rumah sakit juga terlukis kukuh di sana. Beringin tersebut sekarang sudah tidak ada di tempatnya.
Itulah lukisan perjalanan RSU dr Soetomo berjudul The History of Dr Soetomo Hospital yang dibuat Jansen Jasien. Pelukis asal Krian, Sidoarjo, tersebut mencoba menceritakan detail sejarah perpindahan dan perkembangan rumah sakit terbesar di Indonesia Timur itu. “Saya ingin memperlihatkan kepada masyarakat bagaimana awal rumah sakit ini melalui lukisan. Jadi, sejarah itu tidak dilupakan begitu saja,” katanya.
Bukan tanpa sebab Jansen mengabadikan sejarah RS tersebut dalam lukisan. Keberhasilan tim sejarah RSU dr Soetomo dalam menemukan hari lahirnya merupakan pemicu utama. Sebelum melukis, Jansen juga berusaha menelusuri sejarah kelahiran RSU dr Soetomo.
Menurut Jansen, penelusuran fakta sejarah itu mutlak dilakukan. Sebab, dengan melakukan riset, penggambaran masa lalu akan terekam dan mudah ditorehkan di atas kanvas. Memang, untuk mendukung penggambaran sejarah masa lalu dalam lukisannya, pelukis beraliran impresionis tersebut melakukan riset sejarah. Bahkan, riset dilakukan setahun, sedangkan pembuatan lukisan itu “hanya” membutuhkan waktu tiga bulan.
Berbagai suka duka mewarnai keinginan Jansen untuk melukis kisah RSU dr Soetomo itu. Hal yang paling menantang baginya adalah saat melakukan riset sejarah untuk mendukung tampilan lukisannya. “Lukisan ini tidak main-main. Saya harus tahu betul sejarah di belakangnya,” ungkapnya.
Untuk menghidupkan gambaran lukisan itu, Jansen rajin keluar masuk perpustakaan. Dia melakukan itu untuk mencari buku, literatur, serta gambar mengenai sejarah RSU dr Soetomo. Pria berambut sepunggung tersebut juga mengontak jajaran direksi RSU dr Soetomo untuk mendapatkan fakta-fakta pendukung lainnya. Salah satunya, buku sejarah RSU Karangmenjangan (RSU dr Soetomo) & Kilas Balik RS Simpang sampai dengan RSU dr Soetomo karya dr Urip Murtedjo SpB KL, sebagai ketua tim sejarah.
Dalam buku tersebut, tergambar jelas penelusuran tim sejarah untuk mencari fakta berdirinya RSU dr Soetomo. Ada pula dokumen dan foto-foto pendukung yang memperjelas pencarian fakta. “Buku tersebut memberikan inspirasi bagi saya. Minimal, saya bisa menggambarkan bagaimana kondisi RS Simpang saat itu,” jelas pria 34 tahun itu.
Setelah semua bahan pendukung dikumpulkan, barulah Jansen membuat lukisan. Tiga bulan lebih dia berkutat dengan cat minyak, palet, kuas, dan kanvas untuk menciptakan masterpiece tentang sejarah perjalanan RSU dr Soetomo dan 41 lukisan yang dipajang dalam pameran tunggalnya itu. Nyaris setiap malam dia bergadang hingga dini hari untuk menyelesaikan seluruh lukisan. “Membuat masterpiece ini yang paling susah. Risetnya paling lama. Setelah terlewati, semuanya berjalan lancar,” ungkapnya lega.
Untuk melukis dengan gaya kombinasi palet, kuas, dan pelotot itu, Jansen menghabiskan enam kardus (kardus botol air mineral berukuran tanggung) cat minyak. Setiap menyelesaikan satu lukisan, dia harus menunggu kering selama seminggu, setelah itu baru dilanjutkan lagi.
Bapak satu anak itu menganggap masa lalu adalah bagian dari sejarah dan sejarah merupakan bagian dari masa depan. Tanpa adanya masa lalu, tidak akan ada masa depan. “Karena itu, kita tidak boleh melupakan sejarah masa lalu,” tegasnya.
Soal pameran tunggal yang dipersembahkannya untuk perayaan Hari Ulang Tahun Ke-69 RSU dr Soetomo, dia tidak hanya membuat lukisan tentang rumah sakit itu. Untuk membawa para penikmat seni lukis kembali ke masa lalu, Jansen juga merekam wajah lama Kota Surabaya di atas kanvas. Dia melukiskan gambaran tetenger Kota Surabaya beserta fasilitas pendukungnya.
Beberapa lokasi yang digambarkan Jansen adalah Pelabuhan Tanjung Perak, Gedung Grahadi, Tugu Pahlawan, dan Jalan Peneleh. Salah satu fasilitas pendukung kegiatan kota yang digambarkannya adalah mobil yang oleh penduduk pada zaman itu disebut “kereta setan”.
Dokter Urip menambahkan, Jansen sengaja dipilih untuk menghidupkan nuansa sejarah dari RSU dr Soetomo. Sebab, Jansen merupakan salah seorang pelukis sketsa sejarah di kota ini. “Kebetulan idenya sama dengan kami. Maka, kami senang sekali dia bekerja sama dengan kami,” katanya.
Tujuan penyelenggaraan pameran kali ini bukan semata peringatan pertama HUT RSU dr Soetomo. Tapi, juga menyegarkan kembali ingatan mengenai RS Simpang yang menjadi RS perjuangan. “Saya yakin dokter muda atau calon dokter tidak tahu tentang RS Simpang. Ini salah satu cara untuk mengenalkannya,” ungkap kepala IRD tersebut. (*)

Jawa Pos, Jumat, 26 Okt 2007

One Response

  1. slmt sore ..
    sekilas saya mengenal rumah sakit simpang…
    td saya mendapat mimpi mengenai rumah sakit simpang tapi tapi di mimpi saya rumah sakit simpang ada logonya simpang 2 karena ada 2 gedung tinggi dengan 1 tangga masuk keluarnya…lalu di seblh kiri ada lapangan untuk tentara …oia satu lagi mengenai plat nomer motor R 1 atau S 1..sapa yg memakia zaman dahulu..barang kali bisa bantu….hehh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: