Jenny Lee dan Kegigihannya Sebagai Seniman Keramik Jatim

Di Jogja Asyik, di Surabaya Minim Pesaing
Jenny Lee boleh dibilang sebagai satu-satunya seniman perempuan Jatim yang konsisten menggeluti kriya keramik. Wanita asli Surabaya itu tetap teguh berkarya meski dunia keramik yang dia cintai kian turun gaungnya.

ARA ROSSI

JENNY Lee tinggal bersama suaminya, perupa Agus Soekamto alias Agus Kucink, di Jalan Mastrip Bogangin. Sesuai bunyi SMS yang dikirimkan Jenny kepada Jawa Pos, rumah itu di depan pabrik kaus Gawe Redjo dan bercat hijau serta dihiasi gambar daun-daun.

Di antara deretan rumah lainnya, kediaman pasangan seniman itu terlihat sederhana namun asri. Banyak tanaman dan terasa sekali nuansa seninya. Beberapa karya Jenny dipajang di depan rumah tersebut. “Maaf agak kacau. Soalnya pembantu masih belum balik,” ungkap wanita kelahiran 8 Maret 1976 itu.

Sebagai seniman, Jenny memang cukup aktif. Dia baru saja mengikuti Dumaguete Terracotta Biennial Art festival & Competition, di Mariyah Gallery, Filipina. Pada Desember, dia ikut tiga pameran. “Jadi, saya kebut-kebutan dengan waktu,” kata wanita yang baru 1,5 tahun menikah itu.

Pada 11 Desember, Jenny mengikuti Biennale Jatim. Pada 15 Desember, dia berpameran di kafe galeri Vi-Art, Jogjakarta. Lalu pada 28 Desember, Jenny mengikuti Biennale Yogyakarta. Sampai kemarin, dia belum merampungkan seluruh karya. “Tapi, kalau sket sudah bikin,” ujarnya.

Untuk Biennale Jatim yang bertema Alienasi atau Keterasingan, Jenny mengangkat karya Generation Yes. Dia akan membikin sosok anak kecil yang direpro 50 unit. Anak kecil itu divisualkan sebagai robot. Menurut Jenny, karya itu menunjukkan figur anak kecil yang merasa terasing di dunianya sendiri. “Anak kecil kan harusnya ada waktu untuk main-main. Tapi ada-dan banyak-orang tua zaman sekarang yang ingin anaknya perfect, juara di berbagai bidang,” kata Jenny.

Itulah Jenny. Soal keramik dan karyanya, dia bisa berbicara berapi-api. Dunia karya dari tanah liat itu sudah memikat hatinya saat dia SMP. Ketika itu, dia melihat karya seniman keramik F. Widayanto yang dipamerkan di Bogor. Namun, dia tak lantas menggeluti keramik. Bahkan, dia pernah “tersasar” kuliah di jurusan Farmasi Universitas Katolik Widya Mandala selama 6 semester.

Tak sampai tamat, Jenny hijrah ke Jogjakarta untuk menekuni keramik. Setahun dia menimba ilmu di Modern School of Design. Setelah itu, dia melanjutkan ke Institut Seni Indonesia (ISI) pada program D3 jurusan Kriya Cenderamata Keramik.

Di tengah-tengah masa studinya, pada 2001-2004, Jenny sudah getol berpameran. Dan saat merampungkan tugas akhirnya, dia berpameran tunggal di Via-Via Cafe, Jogjakarta. Judul pamerannya Saat Detik Detak.

Jenny mengatakan, atmosfer Jogja memang asyik untuk berkesenian. Karena itu, saat pertama tinggal di Surabaya setelah menikah dengan Agus, idenya sempat mandeg. “Tapi, lama-lama terbiasa juga,” kata wanita berkulit putih itu.

Meski begitu, Surabaya dia pandang punya nilai positif. “Saingannya sedikit dan mencari uangnya lebih gampang,” ungkapnya lantas tersenyum.

Jenny memang mengakui bahwa greget dunia seni keramik di Surabaya kurang menggelora. Itu karena orang juga belum tertarik pada kesenian keramik. Selain itu, seniman keramik pun masih minim.

“Seni keramik lebih rumit dan perlu proses lebih lama dibanding lukisan. Namun, harganya lebih murah,” ujarnya. Miss Him, salah satu karya yang dipajang di depan rumah, perlu waktu2 minggu untuk pembentukan. Setelah itu, mulai proses pengeringan, finishing, hingga dua kali pembakaran memakan waktu dua minggu lagi.

Selain itu, sama sekali tak boleh ada kesalahan mulai tahap awal hingga akhir. “Jika ada gelembung udara sedikit saja, keramik retak,” katanya. Begitu pula saat penyambungan, glasur (mengilapkan), hingga pembakaran. Salah sedikit, karya pecah. Jenny fasih berbicara hal tersebut bukan hanya lantaran dia sangat ahli. “Tapi, beberapa kali saya kurang hati-hati. Sehingga, keramik yang saya buat retak,” katanya.

Untuk lebih mengenalkan keramik pada masyarakat, Jenny melakukan berbagai hal. Misalnya, membuat keramik sebagai perhiasan. Jenny juga tak segan-segan menularkan ilmunya. Beberapa kali dia menjadi tutor dalam workshop keramik. Antara lain di event Festival Seni Surabaya (FSS) 2005 dan di Yayasan Pandita Sabha Buddha Dharma Indonesia. “Beberapa waktu lalu juga sempat memberi kursus privat pada orang yang bergerak di bidang advertising,” cerita Jenny. (*)

Jawa Pos, Minggu, 21 Okt 2007,

3 Responses

  1. saya mahasiswi UNESA
    bisa saya minta nomor hp Jenny Lee
    bls
    terimakasih

  2. ak mita kabar kalau ada pameran, tanks….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: