85 Tahun Masih Sehat. Ludruk Perlu Diperhatikan

“Ini Bu Umi Kalsum? Seniwati ludruk…!, tanya Gubernur Jatim Imam Utomo pada saat penyerahan penghargaan seniman Jatim akhir pekan lalu. Wanita renta yang berkerudung putih ini mengiyakan. “Betul Pak…,” jawabnya kenes, layaknya dialog masyarakat Surabaya sehari-hari.
“Usianya berapa sekarang,” tanya Gubernur lagi sambil menyerahkan bingkisan atau penghargaan.
“Delapan puluh lima tahun Pak…,” jawabnya.
“Ini berkat bermain ludruk, usia 85 tahun masih sehat dan terlihat cantik,” puji Gubernur yang langsung memecah suasana menjadi cair karena banyak tertawa.
Kalau dia mulai bermain ludruk sejak 25 tahun, berarti selama 60 tahun jiwanya lebih banyak tercurah pada seni.
Karena itu, dalam sambutannya, Imam Utomo meminta seniman lain, termasuk pemerhatinya bisa melanjutkan perjalanan ludruk hingga lebih baik. Ludruk jangan dibiarkan atau mati karena kurang tertangani.
“Saya minta memperhatikan ludruk ini, bukan karena saya orang Jombang,” jelas Imam yang disambut tawa undangan yang kebanyakan kalangan seniman.
Bermain ludruk, tambah orang nomor satu di Pemprop Jatim ini, kalau tidak dengan serius atau dengan hati yang paling dalam, tidak akan bisa. Karena bermain ludruk itu harus lebih banyak spontanitas atau improvisasi yang pas.
Berbeda sekali dengan bermain film atau sinetron. Di sini pemainnya diarahkan sutradara dan harus membaca atau menghafal teks atau dialog. “Sedangkan di ludruk kan tidak. Mereka harus spontan. Begitu kan Bu…?,” tanya Imam Utomo pada Umi Kalsum.
Bagi Umi, sapaan akrab wanita yang menerima uang Rp 10 juta itu, bermain ludruk tak ada kata pensiun. Selama 46 tahun lebih dia bermain atau siaran Ludruk RRI Surabaya. Dia adalah salah satu pemainnya yang setia.
Dia masuk pada Ludruk RRI pada 1959 yang saat itu sangat membutuhkan pemain wanita, bukan waria seperti layaknya pemain ludruk yang ada. Dia belajar teknik drama panggung pada seniornya, salah satunya Cak Kadir Asmoro.
Meskipun pendidikan formalnya tidak tamat Sekolah Rakyat (SR) namun karena kesetiaanya bermain ludruk di RRI, ia kemudian diangkat sebagai pegawai magangan di RRI dengan SK yang dikeluarkan pada 1960.
Karena lama sebagai pegawai magangan, ketika diangkat sebagai pegawai negeri saat Menteri Penerangan dijabat Ali Moertopo pada 1981dengan pangkat golongan IIA. Saat itu gajinya Rp 250,00. Padahal berangkat kerja abonemen trem listrik (kereta) sebulan Rp 750,00.
Seperti umumnya seniman tradisi, Umi juga tidak tercatat secara spesifik menghasilkan karya dalam seni yang digeluti. Namun berkat pengabdiannya itu merupakan salah satu buktinya. Meski secara formal sudah pensiun tetapi sebagai seniman dia tetap pentas dan tak pernah ada kata pensiun.
Hingga kini dia tetap mengisi pemeran wanita bersama pemain wanita lain, di antaranya Ning Lasiana dan Ning Sutatik. Teman Umi di Ludruk RRI, Cak Agus Kuprit mengakui bahwa Umi tetap punya peran penting sebagai pemain wanita. Agus juga mengharapkan Umi tetap main ludruk sampai dia tak mampu lagi, karena usianya.
“Bu Umi, senajan wis pensiun ya tetep dikon main terus….nganti sakuwate,” jelas Cak Agus yang juga berperan sebagai pelawak ini.
Istimewanya, meskipun usianya sudah lanjut, Umi tetap bisa mengikuti alur ceritera tanpa harus membaca naskah. Ibaratnya, dia itu tua tapi masih cerdas dan banyak penggemarnya.
Kemudian seniman ludruk lainnya yang menerima penghargaan sama dengan Umi Kalsum adalah Amenan atau Parman. Seniman tradisi asal Jombang ini lebih dikenal dengan nama panggung Bolet. Bolet menjadi terkenal, karena sebagai pencipta Tari Remo Gaya Boletan.
Dia lahir di Sengon, Tawangsari, Kecamatan/Kabupaten Jombang 1930-an dan meninggal dunia 17 Agustus 1976. Suami Ponirah (almarhum) dengan tujuh anak ini sebenarnya pensiunan pegawai Kantor Pos di Jombang.
Namun berkat ludruk, sekaligus sebagai penari Ngremo justru namanya lebih dikenal. Berangkat kehidupan sebagai penari Ngremo dari panggung ke panggung, baik di gedung ludruk maupun di arena tayuban, dia mewujudkan tari Ngremo yang mempunyai gaya tersendiri.
Sejak 1970-an, kata pemerhati ludruk yang juga salah satu anggota Tim Penghargaan Seniman Jatim (TPSJ), Bawong S Nitiberi, Bolet menstransformasikan tariannya kepada beberapa generasi muda. Dia juga beberapa kali tampil dalam Lomba Tari Ngremo yang diselenggarakan Propinsi Jatim di Surabaya.
Pada decade 1990-an, gaya tari Ngremo Bolet pernah masuk nominasi terbaik saat diperagakan seorang penari Ngremo (generasinya Agus) di Arena Lomba Ngremo dan Jula-Juli gelaran Majalah Sarinah. Di situ tari ngremo mengalami pengembangan.
Peran Agus ini, tambah Bawong, sepertinya menjadi sangat penting dalam penyebaran tari ngremo karya Bolet. Sejak lomba itu, Ngremo gaya Bolet mulai terangkat dan menjadi popular di Surabaya serta berkembang ke berbagai wilayah melalui program pembelajaran tari di perguruan tinggi maupun sekolah menengah kesenian dan sanggar tari.
Banyak yang berpendapat bahwa gaya Ngremo Boletan sangat fenomenal, karena berbeda dengan gaya Ngremo Jombangan yang lebih dulu ada. Kalau dilihat secara seksama gaya khas Bolet ini sengaja memadukan antara unsur gecul, gagah, tata kostum, serta hentakan kendang yang mempunyai ciri khas tersendiri.
Tak urung gaya Bolet ini menjadi salah satu kekayaan bagi khasanah Tari di Jawa Timur dan tak khayal bila gaya ini juga banyak dianut seniman tari generasi sekarang.(gim)

Surabaya Post, Kamis 17/10/2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: