Emil Sanossa dan Agus Sunyoto, Dua Budayawan Malang Peraih Anugerah Seni 2007

Jadi Nominasi Karena Konsistensinya di Bidang Seni
Dua budayawan Malang mendapat Anugerah Seni 2007 dari Gubernur Jatim Imam Utomo pada 6 Oktober lalu. Mereka adalah penulis naskah Chairul Abdullah Bin Chamsun alias Emil Sanossa dan Agus Sunyoto. Mereka dinilai sebagai orang Jatim yang peduli dan konsisten terhadap budaya.
KHOLID A.-MARDI S.
Emil Sanossa santai saja saat ada seorang panitia Anugerah Seni 2007 datang ke rumahnya di kawasan Sengkaling. Dia mengira tamunya itu ingin memuat dirinya di sebuah majalah.
Apalagi panitia yang datang itu memotret dirinya, minta biodata, dan karya yang pernah ditulis. Emil pun sama sekali tidak mengerti untuk apa data-data itu. “Itu (difoto dan dimintai biodata) juga sering,” ujar pria kelahiran 1938 ini.
Beberapa hari setelah orang tersebut datang ke rumahnya, dia datang lagi dengan meminta Emil mengisi form pendaftaran dalam Anugerah Seni 2007. Dia baru tahu kalau kedatangan orang tersebut adalah untuk pengumpulan data guna penjurian. “Waktu itu Kamis, 4 Oktober, lalu Sabtu saya diminta ke Surabaya,” kenangnya.
Yang menarik, kata Emil, ketika namanya diumumkan sebagai peraih anugerah sebagai penulis naskah terbaik, banyak yang terbelalak. Sebab, banyak yang mengira Emil sudah meninggal dunia. “Saya ini kan hampir 20 tahun lebih tidak begitu aktif, jadi banyak yang mengira saya sudah meninggal,” ujarnya sembari tersenyum.
Penulis naskah Fajar Sidik, Tuan Kondektur, dan ratsan naskah lainnya ini menceritakan, para seniman dan koleganya mulai tahu dia masih ada menjelang bulan Ramadan kemarin. Itu berawal saat dia diminta JTV untuk mendesain acara kidung religi sebagai tayangan spesial ramadan. Dari situ ada koleganya dari Surabaya yang menelusuri.
“Saya dicari di Lumajang tidak ada, soalnya memang dulu saya sempat tinggal di Lumajang. Kemudian ditanyakan lagi kalau alamat saya di Malang,” ujarnya.
Dari situlah kemudian dia dimasukkan sebagai salah satu nominator sebagai penulis naskah yang memiliki konsistensi. Mantan direktur program TPI ini mengatakan, di Jawa Timur memang tidak banyak penulis naskah yang konsisten seperti yang dia tekuni. “Rupanya konsistensi saya ini dinilai bagus, sehingga saya menang,” jelasnya.
Emil juga mengatakan, saat ini banyak penulis pemula yang bersemangat. Tetapi biasanya, mereka hanya menulis saat sedang kasmaran atau jatuh cinta saja. Dalam kondisi seperti itu mereka bisa menulis puisi, cerpen, atau novel. Kemudian dijilid sendiri dan diberi sampul. Lalu diberikan kepada orang-orang dekatnya. Tetapi, begitu rasa kasmarannya hilang, tidak ada lagi tulisan yang dihasilkan. “Itu namanya tidak konsisten, yang konsisten itu selalu menulis dalam keadaan apa saja,” jelasnya.
Tekait perkembangan seni drama di Malang, Emil mengaku sangat prihatin. Sebab, saat ini tidak ada penerusnya. Padahal, kata dia, tahun 60-an Malang itu paling maju seni dramanya di Jatim. Sehingga seringkali kalau ada hajatan, seperti pernikahan atau khitanan, mereka diundang bermain seni drama.
Meski sudah tua, Emil masih bersedia jika diminta mengisi kegiatan seputar penulisan naskah dan seni drama kepada anak-anak muda. “Tapi harus ada penggiatnya, saya kan sudah tua cukup yang mengisi materi,” ujarnya.
Tidak jauh berbeda dengan Emil, perasaan biasa juga dialami Agus Sunyoto. Begitu namanya disebut telah berhasil menyabet penghargaan sebagai satsrawan berprestasi dari Gubernur Jawa Timur pada 6 Oktober lalu, Agus tak merasa bangga. Penulis aliran Islam sufi ini merasa kiprahnya di khazanah sastra Jawa di Indonesia belumlah banyak. Sehingga dia menganggap dirinya belum patut merasa bangga atas penghargaan dari gubernur.
“Saya ini lho apa, rasanya belum banyak karya yang saya sumbangkan untuk kemajuan dunia sastra,” ujarnya merendah saat ditemui di rumahnya siang kemarin.
Dan lagi, pria berjenggot tebal ini merasa menulis adalah pekerjaannya sehingga tidak ada yang merasa dibanggakan. “Jika orang lain menilai saya berprestasi, ya Alhamdulillah, tapi saya kok biasa-biasa saja,” imbuhnya.
Respons merendah yang dilontarkan pria kelahiran Surabaya, 21 Agustus 1959 ini setidaknya dibenarkan oleh kesederhanaan penampilannya. Menemui Radar, lulusan pasca-sarjana bidang Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Universitas Negeri Malang (UM) 1990 ini mengenakan sarung dan baju muslim. Rambut dan jenggotnya dibiarkan memanjang. Tutur bicaranya lugas dan meledak-ledak, terlebih jika menyikapi masalah ketimpangan sosial dan ketidakadilan yang terjadi di masyarakat.
Meski demikian, kesan nyastra pada bapak tiga anak ini cukup kental. Selain pada tutur bahasa yang mudah dipahami juga terlihat dari penataan ruang di rumahnya di Jalan Anila IX, Perumnas Sawojajar II, Kecamatan Pakis.
Saat kali pertama masuk rumah, tamu langsung disuguhi dengan ratusan buku yang tertata rapi pada rak yang ditempelkan pada tembok kanan rumahnya. Tak jauh di sebelah rak ada meja kerja lengkap dengan lampu baca dan satu unit komputer Pentium IV.
Di meja itulah, mantan wartawan Jawa Pos yang pada 1986-1989 ngepos di Senayan ini banyak menelorkan karya sastra berkualitas. Melalui tulisannya, Agus berharap banyak orang Indonesia yang bisa ditumbuhkan kembali semangatnya sebagai bangsa Indonesia.
Setidaknya itu terlihat dari sejumlah karya sastranya yang booming di pasaran. Di antaranya Perjalanan Ruhani Syeikh Siti Jenar (2003-2005) hingga tujuh jilid banyaknya. Buku tersebut menceritakan kisah kesufian Abdul Jalil (Syeikh Siti Jenar) dari syariat hingga menuju makrifat.
Dari ketokohan figur yang ia ceritakan ini, Agus berharap pembaca memiliki perasaan bangga atas tokoh yang ia tulis. Utamanya kisah perjalanan serta dedikasinya menjalankan syariat agama. Agus mengaku jika diabnding dengan penulis lainnya, dirinya lebih mengedepankan dua hal yang dikemas secara berimbang yakni antara sistim pengetahuan akal dan kalbu. (*)

Radar Malang, Kamis, 18 Okt 2007

One Response

  1. saya butuh informasi tentang e_mail nya bapak agus sunyoto, terima kasih. saya tunggu balasannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: