Santoso Setijono, Pembuat Patung Cak Durasim

durasim.jpg

Bekerja Dituntun Bayangan, Beberapa Kali Gagal Dilekatkan


Taman Budaya Jawa Timur sebentar lagi dihiasi patung seniman dan pejuang Cak Durasim. Pematung Santoso Setijono menceritakan pengalaman magisnya saat membuat patung itu.
M. DINARSA KURNIAWAN
Bekupon omahe doro
Melok Nippon tambah soro
Itulah sepenggal parikan yang sering dilantunkan Cak Durasim, seniman ludruk sekaligus pejuang yang gugur di tangan penjajah Jepang karena parikan-parikannya yang melawan. Berkat keberanian itu, nama Cak Durasim dikenang sepanjang masa sebagai seniman serta pahlawan.
Tak berlebihan bila kemudian sosok Cak Durasim dihadirkan kembali dalam berbagai ekspresi. Misalnya, untuk nama gedung pertunjukan di Taman Budaya Jawa Timur (TBJT) atau nama sebuah festival kesenian. Bahkan, sebentar lagi masyarakat bisa melihat wajah Cak Durasim secara langsung lewat visualisasi patung.
Ya, di kompleks TBJT, Jalan Gentengkali, kini sedang dikerjakan sebuah patung yang berobjek sosok Cak Durasim. Patung dari cor-coran semen yang dicetak itu setinggi sekitar 2,5 meter. Cak Durasim diwujudkan dalam patung setengah badan. Di bagian bawah tubuh dibuat prasasti dari marmer putih yang bertulisan parikan perlawanan Cak Durasim yang terkenal tersebut.
Menurut pematung Santoso Setijono, 57, tidak mudah memvisualisasikan sosok Cak Durasim. “Boleh percaya boleh tidak, berkali-kali saya gagal mencetak wajahnya. Semennya tidak bisa lengket,” ujar alumnus ASRI (kini ISI Jogjakarta, Red) 1978 tersebut.
“Belum pernah saya punya pengalaman magis seperti itu selama puluhan tahun menjadi pematung profesional,” ungkap salah seorang kreator diorama Monas dan Monumen Lubang Buaya Jakarta itu.
Patung Cak Durasim nanti diletakkan di depan Gedung Kesenian Cak Durasim, kompleks TBJT. Dengan begitu, diharapkan masyarakat tidak hanya tahu namanya, tapi juga mengenal wajah seniman ikon Jawa Timur tersebut. “Tanpa patung atau bentuk visualisasi lain, mana ada yang tahu siapa Cak Durasim,” ujar Santoso.
Gayung bersambut. Kepala TBJT Pribadi Agus Santoso kemudian menugasi Santoso membuat patung tersebut. Maka, mulai Juli 2007, dia pun mengerjakan proyek kesenian itu. Hambatan demi hambatan pun dialami Santoso. Misalnya, dirinya sulit mendapatkan data gambar atau foto Cak Durasim yang valid. “TBJT punya foto repronya, tapi ketika dicari tidak ada. Wah, sejak awal saya benar-benar diuji.”
Santoso merasa gambar yang ada belum bisa memberikan deskripsi sosok Cak Durasim secara detail. Karena itu, dia mengaku, meskipun jadi, patung tersebut nanti tidak mempunyai “roh” dan karakter Cak Durasim seperti yang diharapkan. Bapak Natasia Sekar Akoso, 29, serta Kristosa Lingga Hasmoro, 28, itu ingin menciptakan karya patung yang monumental. Sebab, objek patung tersebut adalah tokoh besar.
Belum menyerah, Santoso dan Agus kemudian mencari ahli waris Cak Durasim di sekitar Makam Tembok, tempat Cak Durasim dimakamkan. Mereka akhirnya bertemu cucu Cak Durasim yang membuka warung kopi di situ.
“Orang yang kami temui itu cucu Cak Durasim dari anak angkatnya. Cak Durasim tidak menikah sampai meninggal,” jelas seniman kelahiran Jogjakarta yang kini tinggal di kawasan Gedangan tersebut.
Selain itu, Santoso menemui paranormal di Nganjuk dengan tujuan diberi bayangan sosok sebenarnya seniman asal Jombang tersebut. Padahal, sebenarnya dia setengah tidak percaya pada alam gaib.
“Antara percaya dan tidak, sejak pulang dari rumah paranormal dan mulai mempersiapkan membuat patung, saya merasa selalu diikuti sosok Durasim. Tapi, selalu dari samping dan dia bicara dengan suara berat. Pesan pertamanya, dia tidak keberatan dibuatkan patung, asal tidak terlihat sedih dan kurus,” kata pria dengan gaya bicara lugas tersebut.
Maka, Agustus lalu, Santoso mulai mengerjakan patung itu. Dia mengambil bahan tanah liat dari Kebumen. Tanah liat tersebut kemudian dijadikan cetakan bentuk wajah dan kepala Cak Durasim. Begitu kuat, cetakan lalu dicor semen hingga kering. Anehnya, beberapa kali semen tersebut tak bisa melekat pada cetakan tanah liat. Padahal, cara seperti itu sudah biasa dilakukan para pematung.
Santoso menyatakan, selama lima hari pertama, dirinya selalu diikuti bayangan Durasim. “Setelah saya membuat bentuk global patung, dia minta dibuatkan matanya dulu. Padahal, mata itu biasanya saya selesaikan belakangan, karena harus detail,” jelas suami Lisa Andriyani tersebut.
Memang, adanya mata itu membuat karakter patung Cak Durasim mulai muncul. Beban Santoso pun semakin ringan karena bayangan seniman yang gugur setelah disiksa tentara Jepang tersebut tak lagi terus-menerus mendatangi dirinya. “Hanya sesekali dia datang. Kadang dari kejauhan,” ungkap pria yang 12 Oktober lalu merayakan ulang tahun ke-57 tahun tersebut.
Tapi, masalah datang lagi saat tahap finishing. Sebelum semen dicor, Santoso ingin menambahkan bentuk dasi dan rantai pada baju patung itu. Tapi, sekali lagi, bayangan Cak Durasim muncul dan meminta tidak ada dasi serta rantai. “Saya kira pembuatan patung Cak Durasim paling banyak godaannya,” ujarnya.
Patung Cak Durasim dinyatakan selesai pada 7 September lalu. Rencananya, patung tersebut diresmikan pada peringatan Hari Pahlawan, 10 November mendatang, bertepatan dengan penyelenggaraan Festival Cak Durasim di kompleks TBJT.
Patung tersebut kini sudah berdiri di depan Gedung Kesenian Cak Durasim. “Saya sudah mengeset tempatnya. Yang paling pas ya di situ. Dari depan, orang bisa langsung melihat. Sayang, ada pohon cemara kecil yang membuat pandangan orang agak terhalang dari samping,” kata pemilik Harley-Davidson lansiran 1941 dan 1947 tersebut.
Setelah merampungkan patung Cak Durasim, Santoso masih mempunyai obsesi ingin membuat patung Gombloh, penyanyi dan pencipta lagu Kebyar-Kebyar yang mengharumkan nama Jatim di dunia musik itu. “Saya sudah gatal ingin membuat patung Gombloh,” tegasnya. (*)

Jawa Pos, Selasa, 16 Okt 2007

6 Responses

  1. weblog yang menarik untuk disimak. Akan saya baca terus kalau ada updating yang teratur. Makasih. Salam dari Yogya…

  2. Saya berharap kenal,sedangkan data Bung Santoso Setijono ? (alamat lengkap)
    Mohon Hubungi Saya lewat Email : yusach07_art@yahoo.co.id

  3. http://www.yusach-art.com
    YUSACH NH HOME *** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

  4. memang jiwa seni nya ga ad matinya…
    mau tanya ni, bisa minta profil ma alamat lngkap + no telp Bpk santoso setijono?ada rencana mau buat patung ki hajar dewantara soalnya. mohon reply ke email or_rhe@yahoo.com.
    to 081350355477. trims

  5. Ketika seorang teman memberi kabar ada kegiatan film dokumenter kompilasi dengan tema, seniman kota yang sudah meninggal. Saya memilih Cak Durasim.
    Blog ini sangat membantu mencari ide. Doakan kami sukses. terimakasih

  6. Menambah inspirasi saya. Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: