Yakin Sastra Jawa Go International

BANGKOK – Karir kepengarangan Suparto Brata kini semakin lengkap. Penulis sastra Jawa yang masih aktif di usianya yang ke-75 tahun itu dinobatkan Kerajaan Thailand sebagai salah seorang penulis Asia Tenggara Terbaik 2007.
Bersama delapan sastrawan terbaik ASEAN lainnya, Suparto menerima penghargaan Southeast Asia Writer Awards di Ballroom Hotel Oriental, Bangkok, Jumat (12/10). Penghargaan itu diserahkan langsung oleh Putri Sirivannavari Nariratama yang mewakili bapaknya, Putra Mahkota Maha Vajiralongkorn.
Atas keberhasilan tersebut, selain menerima piala penghargaan dari Kerajaan Thailand, pria kelahiran Surabaya itu menerima uang 70 ribu baht (sekitar Rp 17,5 juta).
“Lumayan, buat modal menerbitkan buku-buku sastra Jawa. Saat ini banyak penerbit yang enggan menerbitkan buku sastra Jawa karena takut rugi,” kata Suparto yang saat itu pakai udeng (penutup kepala) dan baju khas Suroboyoan kepada Jawa Pos.
Southeast Asia Writer Awards merupakan even yang digagas pemerintah Kerajaan Thailand untuk mengapresiasi dunia sastra di kawasan Asia Tenggara. Sejak diberikan pada 1979, sudah hampir 200 sastrawan Asia Tenggara yang menerima penghargaan tersebut. Dari Indonesia, nama-nama sastrawan yang pernah mendapat award itu, antara lain, Goenawan Mohamad, Taufik Ismail, Gerson Poyk, Sutardji Calzoum Bachri, Putu Wijaya, A.A. Navis, dan Sapardi Djoko Damono. Tahun lalu Sitor Situmorang juga menerima penghargaan tersebut.
Salah satu kekhasan penghargaan itu adalah panitia selalu mendatangkan penulis top dunia untuk beraudiensi dan berbagi pengalaman dalam dunia tulis-menulis. Beberapa yang pernah diundang adalah Lord Jeffrey Archer, Frederick Forsyth, dan V.S. Naipaul. Untuk kali ini, yang menjadi penulis tamu adalah Sarah Bradford, penulis biografi sejumlah nama terkenal. Mulai biografi Jacqueline Kennedy Onassis, Disraeli, Raja George VI, hingga Ratu Elizabeth II, ratu Inggris.
Menurut Suparto, penghargaan tersebut diraih lewat salah satu karya klasiknya, Saksi Mata. Yang membuat Suparto sedikit berbangga, sejak karir panjangnya di dunia sastra, ini adalah kali pertama dia menerima penghargaan. “Bahkan di tingkat nasional pun saya belum pernah mendapat penghargaan,” kata penulis novel trilogi Gadis Tangsi, Kerajaan Raminem, dan Mentari di Ufuk Timur Indonesia itu.
Kendati berbadan kurus, cita-cita Suparto tidaklah kecil. Dalam pidato kemenangannya (yang dibawakan dalam bahasa Indonesia), Suparto berkata bahwa lewat tulisan-tulisannya (lebih dari 125 karya sastra), dirinya berharap akan tercipta perdamaian dunia.
Suparto juga mengaku akan berusaha sangat keras untuk menduniakan sastra Jawa. Karena bagian dari sastra dunia, dia yakin sastra Jawa layak untuk go international. “Kalau sekarang sedikit yang mengapresiasinya, itu karena memang sosialisasinya yang kurang. Sangat sedikit sastrawan yang mau menulis dalam bahasa Jawa,” katanya. (ano)

Jawa Pos, Senin, 15 Okt 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: