Sang Hanoman Itu Batal Bermigrasi ke AS

SUATU ketika, sejumlah topeng Malangan bikinan Sutrisno (63) tiba di Surabaya untuk kemudian diterbangkan ke Amerika Serikat (AS) guna memenuhi pesanan di sana. Akan tetapi, Sutrisno di Malang tiba-tiba berubah pikiran dan mengutus seseorang ke Surabaya untuk mengambil kembali satu topeng tokoh Hanoman agar tidak disertakan ke AS.

BAHKAN, topeng Hanoman itu hingga sekarang disimpan Sutrisno di rumah kediamannya di Dusun Glagahdowo, Desa Pulungdowo, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Topeng itu menjadi harta yang amat berharga bagi Sutrisno.

Topeng Hanoman itu, menurut Sutrisno, sebagai hasil pencarian makna hidupnya selama ini. Makna hidupnya sebagai seniman pembuat topeng Malangan dari kayu nyampo, sejenis kayu yang relatif lunak untuk diukir. Tetapi, jenis kayu tersebut bisa tahan sangat lama karena tidak termakan rengat dan tidak mudah lapuk.

“Lihat topeng Hanoman ini. Matanya menangis, tetapi mulutnya selalu bergerak,” kata Sutrisno.

Ia mengatakan itu, pertama kali dengan menutup mulut topeng Hanoman dengan telapak tangannya agar mata Hanoman dapat terlihat dengan saksama. Setelah mengatakan matanya itu menangis, Sutrisno kemudian membuka telapak tangannya yang menutupi mulut topeng Hanoman untuk menunjukkan mulut topeng itu.

Mulut topeng Hanoman, menurut Sutrisno, mengesankan bergerak terus dan itu menunjukkan semangat dan niat Hanoman yang terus-menerus membara. Ia sebagai tokoh duta atau utusan raja yang sangat bertanggung jawab dalam menyelesaikan tugas dan panggilan hidupnya.

“Saya sekarang ini menangis. Tetapi, semangat dan niat saya juga terus-menerus berjalan untuk menanamkan pengetahuan dan seni topeng ini kepada anak muda,” kata Sutrisno.

FALSAFAH atau pedoman hidup seseorang sebenarnya dapat dijumpai melalui apa saja. Baik dari ilmu dan pengetahuan yang diperoleh dari institusi mana pun atau dari pengalaman hidup yang dijalani.

Secara kebetulan, Sutrisno mampu menjumpai falsafah hidupnya dari perjalanan hidupnya sebagai pembuat topeng tradisional di Malang. Dari perjalanan hidupnya yang suatu ketika menghasilkan topeng Hanoman untuk segera dikirimkan ke AS, tetapi ternyata kemudian dibatalkan dia.

Arti dari sebuah tangis, bagi Sutrisno, untuk menggambarkan kesedihan hatinya terhadap kondisi zaman sekarang. Semangat dan niat yang terus-menerus terjaga untuk menyampaikan pengetahuan dan seni topeng, khususnya topeng Malangan, terutama kepada anak muda sekarang.

Sejauh pengetahuan Sutrisno, topeng Malangan pertama kali muncul dari masyarakat lapisan bawah untuk menyampaikan aspirasi kepada tokoh kerajaan atau raja itu sendiri. Topeng itu untuk menutupi wajah yang menjadi pemeran seni drama, yang kemudian dikenal dengan drama tari wayang topeng Panji Kelana pada sekitar abad XIV.

Masa-masa itu menjelang keruntuhan Kerajaan Majapahit yang telah berhasil mempersatukan Nusantara. Menurut Sutrisno, pesan atau aspirasi yang disampaikan masyarakat lapisan bawah saat itu, Kerajaan Majapahit akan runtuh oleh kedatangan faham yang baru.

“Topeng pada waktu itu digunakan sebenarnya untuk menutupi tokoh pemeran dari masyarakat bawah yang ingin menyampaikan aspirasi kepada kerajaan,” kata Sutrisno.

Lain halnya dengan sekarang. Masyarakat segala lapisan seperti mahasiswa atau juga buruh tak akan mengenal seni semacam itu untuk menyampaikan aspirasi pada pemerintah.

Kini yang dikenal adalah istilah demonstrasi dengan berduyun-duyun langsung terjun ke jalan. Lalu, mendatangi atau menghadang tokoh pemerintah dengan caci maki dan hujatan yang sudah dikemas sedemikian rupa dan mulai meninggalkan makna seni itu indah.

Itu suatu bukti bahwa peradaban manusia selalu dinamis, terutama dalam hal masyarakat lapisan bawah menyampaikan aspirasi kepada penguasanya. Tetapi, dinamika peradaban yang memerosotkan dan semakin menghancurkan seni dan martabat manusia, itulah yang sedang ditangisi Sutrisno.

MASALAH topeng Malangan yang kini semakin ditinggalkan masyarakatnya adalah hal sepele. Sebab, begitu pula untuk produk seni tradisional lainnya di mana pun, cenderung semakin ditinggalkan masyarakatnya. Tetapi, falsafah dari topeng Malangan atau dari apa pun yang tak pernah diburu oleh masyarakatnya, itu bukan hal sepele lagi.

Menurut Sutrisno, setiap orang harus memiliki falsafah atau pedoman hidup. Profesi dan setiap hasil karya Sutrisno itu akan dirasakannya hampa jika pencarian falsafah hidupnya tak segera berujung pada sebuah topeng Hanoman yang sedianya akan berpindah “kewarganegaraannya” ke AS.

Falsafah hidup Sutrisno, dalam kesedihan dan kegelisahannya akan kemerosotan seni dan peradaban kini, tetap masih memiliki semangat dan niat untuk membangkitkannya kembali melalui karya seni topeng Malangan-nya. Entah usang atau tidak, yang jelas, nilai falsafah kehidupan yang ditawarkan Sutrisno tak akan lekang tertelan zaman.

Persoalan yang tidak sepele lagi, menurut Sutrisno, kehidupan akan selalu memiliki saling ketergantungan. Begitu pula, kehidupan seni topeng Malangan juga memiliki saling ketergantungan.

Seni tari wayang topeng atau seni drama tari wayang topeng Malangan tetap akan diakui dan tetap eksis jika semua pelaku seni itu mau bergerak. Menurut Sutrisno, artinya sekarang ini para pelaku seni itu, jika mau tetap diakui dan eksis, tidak boleh hanya diam dan menunggu pesanan untuk tampil.

Jika tidak, mungkin seperti pesan drama tari Panji Kelana pada sekitar abad XIV bahwa Kerajaan Majapahit akan segera runtuh akibat kedatangan faham yang baru. Bukan mustahil, kini setelah tujuh abad kemudian, dalam kungkungan dan isu global, peradaban kita akan segera runtuh akibat tidak ditopang faham kearifan dan kekuatan budaya lokal. (NAWA TUNGGAL) – Kompas, Kamis, 20 Februari 2003

Biodata

Nama : Soetrisno

Tgl Lahir : Tumpang, 4 Nopember 1941

alamat : Ds. Glagahdowo, Jl. Mawar G. 2 No.149 Rt. 8 Rw. 6 Pulungdowo – Tumpang

(0341) 786410

Mulai belajar nyungging topeng pada tahun 1958, dari seseorang yang bernama Pak Item dan mengembangkan topeng di desa Glagahdowo hingga saat ini. Pada tahun 1989 bersama seniman2 muda malang, mementaskan nomor2 teater topeng hasil kreasinya.

Hingga saat ini topeng2nya banyak dikoleksi di beberapa negara.

Beberapa aktifitasnya :

1. pameran topeng di surabaya 1990

2. pameran kerajinan di dewan kesenian malang 1991

3. pameran topeng di jakarta 1989

4. pameran seni topeng di taman budaya jawa timur 1994

5. pameran seni rupa dan kerajinan kidungan 2 kota (malang – surabaya) 1989

6. Mocopat di teater tondano barat 2000

7. Mocopat di Hello Malang 2000

8. aktif memberikan workshop pembuatan topeng untuk umum

dan beberapa kegiatan penting lainnya.

Tahun 1994 hingga sekarang terserang penyakit stroke, tetapi masih aktif mengajar cara membuat topeng malangan pada masyarakat sekitar dan luar daerah. Mendirikan padepokan seni di Glagahdowo untuk pelestarian kesenian topeng khas glagahdowo.

(eko hadiwijaya)

One Response

  1. dimana saya bisa beli topeng malangan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: